Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Terkabulnya Sebuah Do’a

Posted by almakmun on 08/09/2011

 Setiap orang, apapun agama dan kepercayaannya, bagaimanapun kondisinya dan dimanapun dia berada TENTU dan PASTI tidak terlepas dari yang namanya do’a. Do’a, ya, sebuah permohonan, permintaan serta tanda ketidakberdayaan atau ketidakmampuan seorang manusia yang mengisyaratkan akan kebutuhannya terhadap Tuhan untuk merealisasikan keinginan dan atau kebutuhannya. Tidak hanya sebagai permintaan atau permohonan, doa juga menjadi sebuah ungkapan syukur seorang manusia kepada Tuhannya.

Kemudian tak jarang di antara kita yang merasa telah berdo’a namun merasa do’anya belum terkabul juga dan bahkan sampai ada yang “marah dan jengkel” kepada Tuhan. Kalau sudah demikian, apa yang menyebabkan do’a dikabulkan atau tidak? Mari kita tengok Firman Allah berikut ini:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Qs. Al-Baqarah: 186)

Ayat diatas dengan jelas menjelaskan tentang terkabulnya sebuah do’a. Mari kita pahami kata demi kata berikut ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah.

عِبَادِي kata Ibaad merupakan jama’ dari kata abdun. Ini berbeda dengan kata abiid yang juga merupakan kata jama’ dari kata abdun. Ibaad biasa digunakan di dalam al-Qur’an yang berarti hamba-hamba Allah yang taat kepada-Nya atau kalaupun mereka penuh dengan dosa namun mereka merasa sadar akan dosanya serta tetap mengharap pengampunan dan rahmad-Nya. Ini berbeda dengan kata abiid. Adapun kata abiid merujuk pada hamba-hamba Allah yang bergelimang dosa. Pemilihan kata tersebut mengandung isyarat, bahwa yang bertanya dan bermohon atau berdo’a adalah hamba-hamba-Nya yang taat lagi menyadari kesalahannya.

إِذَا دَعَانِ  menunjukkan bahwa bisa jadi ada seseorang yang bedo’a tetapi dia belum dinilai berdo’a oleh Allah. Yang dinilai-Nya berdo’a antara lain adalah yang tulus menghadapkan harapannya kepada Allah bukan kepada selain-Nya. Bukan juga menghadapkan diri kepada-Nya bersama dengan yang lain.

Kata tunggal (Ku) hanya untuk Allah. Seperti dalam surat Shad tentang penciptaan Adam : ” Allah berfirman: Hai Iblis, Apakah yang menghalangimu sujud kepada yang telah kuciptakan dengan kedua tangan-KU?. Sedangkan kata jama’ adalah untuk yang ada keterlibatan selain Allah seperti penciptaan manusia melalui perantara bapak-ibu (lihat dalam surat at-Tin: 4)

فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي mengisyaratkan bahwa yang utama dan pertama dituntut dari setiap yang berdoa adalah memenuhi segala perintah-Nya. Ini juga diperingatkan oleh Nabi ketika ada seseorang yang menengadahkan tangan ke langit sambil berseru “Tuhanku… Tuhanku (perkenankan doaku), tetapi makanan yang dimakannya haram, pakaian yang dipakai haram, maka baimana mungkin dikabulkan doanya?!”

Selain itu, Ibrahim bin Adham ra. Dalam kitab karya Said bin Ali bin Wahf al-Qathani ditanya tentang Kenapa Doaku tidak dikabulkan?. Beliau menjawab. ”Karena hati kalian telah mati. Apa yang mematikan?. Ada 8 hal diantaranya, kalian mengetahui hak-hak Allah namun kalian tidak memenuhi hak-hak-Nya. Kalian membaca al-Qur’an tetapi kalian tidak mengamalkan isinya. Kalian mengaku cinta Rasul tetapi kalian tidak melaksanakan sunnahnya. Kalian mengatakan takut mati tetapi kalian tidak mempersiapkan diri dengan bekal untuk menyongsong kematian. Maka bagaimana mungkin Allah mengabulkan doa kalian!!!”

Terkadang sebuah do’a dianalogikan seperti hubungan seorang orang tua dan anak. Seorang anak harus memenuhi dan menuruti permintaan sang orang tua, baru kemudian permintaan sang anak akan dikabulkan. Bukan atas permintaan yang diminta oleh hamba, melainkan sesuai dengan yang dibutuhkan dan yang lebih baik bagi hamba tersebut. Bukankah ayah yang baik tidak memberikan segala sesuatu yang merugikan dan membahayakan anaknya walaupun anaknya terus mendesak!!!

وَلْيُؤْمِنُوا بِي percaya dan meyakini sepenuhnya bahwa Dia-lah yang mengabulkan do’a dan camkan sabda Nabi: “Berdo’alah kepada Allah disertai dengan keyakinan penuh bahwa Allah akan memperkenankan”

لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ yakni dapat mengetahui jalan yang terbaik serta bertindak tepat, baik menyangkut soal dunia atau akhirat.

Dr. Carrel seorang ahli bedah Perancis (1873 -1941) peraih Nobel bidang kedokteran dalam bukunya “Pray (doa)” sebagaimana ditulis Quraish Shihab dalam kitab tafsirnya “Al-Misbah” dituliskan bahwa Dr. Carrel menulis tentang pengalamannya mengobati pasien. Katanya, “Banyak diantara mereka yang memperoleh kesembuhan dengan jalan berdoa”, menurutnya “Doa adalah seseuatu gejala keagamaan yang paling agung bagi manusia, karena pada saat itu, jiwa manusia terbang menuju Tuhannya.”

Dengan demikian, sebelum menyalahkan dan atau marah-marah kepada Allah karena merasa do’anya tidak juga dikabulkan, hendaknya dan harusnya kita semua merasa dan menyadari serta interospeksi diri apakah kita ini sudah menjalankan apa yang diperintahkan oleh-Nya?! Apakah kita sudah menghindari apa yang dilarang-Nya?! Apakah kita sudah menyadari akan kesalahan kita?! Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Untuk itu, mulai saat ini dan detik ini juga, marilah kita tingkatkan ibadah kita, bermohon kepada Allah untuk senantiasa memberikan ridho dan rahmad-Nya kepada kita agar kita bisa menjalankan apa yang sudah diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang sudah dilarang-Nya dan semoga kita tidak menjadi Abiid (hamba yang tidak menyadari akan kesalahan dan dosa-dosanya).

Satu kalimat terakhir, “JANGAN PERNAH MENYALAHKAN TUHAN KARENA DO’A BELUM DIKABULKAN, TAPI INTEROSPEKSI DIRI dan JANGAN PERNAH BERHENTI BERDO’A”

Posted in Religi | Leave a Comment »

Memahami Kembali Makna Idul Fitri

Posted by almakmun on 25/08/2011

Ketika mendengar kata Idul Fitri, tentu dalam benak setiap orang yang ada adalah kebahagiaan dan kemenangan. Dimana pada hari itu, semua manusia merasa gembira dan senang karena telah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh.

Dalam Idul Fitri juga ditandai dengan adanya ”mudik (pulang kampung)” yang notabene hanya ada di Indonesia. Selain itu, hari raya Idul Fitri juga kerap ditandai dengan hampir 90% mereka memakai sesuatu yang baru, mulai dari pakaian baru, sepatu baru, sepeda baru, mobil baru, atau bahkan istri baru (bagi yang baru menikah). Maklum saja karena perputaran uang terbesar ada pada saat Lebaran. Kalau sudah demikian, bagaimana sebenarnya makna dari Idul Fitri itu sendiri. Apakah Idul Fitri cukup ditandai dengan sesuatu yang baru, atau dengan mudik untuk bersilaturrahim kepada sanak saudara dan kerabat?.

Idul Fitri (kembali ke fitrah), ya suatu hari raya yang dirayakan setelah umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan satu bulan penuh. Dinamakan Idul Fitri karena manusia pada hari itu laksana seorang bayi yang baru keluar dari dalam kandungan yang tidak mempunyai dosa dan salah.

Idul Fitri juga diartikan dengan kembali ke fitrah (awal kejadian). Dalam arti mulai hari itu dan seterusnya, diharapkan kita semua kembali pada fitrah. Di mana pada awal kejadian, semua manusia dalam keadaan mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan. Dalam istilah sekarang ini dikenal dengan ”Perjanjian Primordial” sebuah perjanjian antara manusia dengan Allah yang berisi pengakuan ke Tuhan an, sebagaimana yang terekam dalam surah al-A’raf (7) ayat 172 :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
(Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhan-mu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”).

Seiring dengan perkembangan itu sendiri, banyak di antara manusia dalam perjalanan hidupnya yang melupakan Allah serta telah melakukan dosa dan salah kepada Allah dan kepada sesama manusia. Untuk itu, memahami kembali makna Idul Fitri (kembali ke fitrah) dengan membangun kembali pengabdian hanya kepada Allah adalah sebuah keharusan sehingga kita semua dapat menjadi hamba-hamba muttaqin dan hamba yang tidak mempunyai dosa. Dosa kepada Allah terhapus dengan jalan bertaubat dan dosa kepada sesama manusia dapat terhapus dengan silaturrahim.

Cara Menghapus Dosa Kepada Allah Adalah dengan Taubat

Dosa merupakan catatan keburukan di sisi Allah yang telah dilakukan oleh setiap manusia karena mereka tidak menjalankan perintah atau karena mereka melanggar larangan Allah dan RasulNya.

Bulan Ramadhan merupakan bulan khusus yang dikhususkan Allah untuk Umat Islam. Di bulan ini terdapat maghfirah, rahmah dan itqun minan nar. Selain itu, bulan Ramadhan juga menjadi sarana umat manusia untuk memohon dan meminta pengampunan dari Allah dengan jalan melaksanakan ibadah puasa dan shalat tarawih. Sebagaimana hadis Rasul:

أخرج البخاري: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلاَمٍ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
(Dari Muhammad bin Salam dari Muhammad bin Faudhail dari Yahya bin Sa’id dari Abi Salamah dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang berpuasa pada bulan ramadhan dengan kepercayaan bahwa perintah puasa itu dari Allah dan hanya mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosanya).

Begitu juga Allah menyediakan Qiyam Ramadhan (Tarawih) sebagai sarana penghapusan dosa apabila dilakukan karena Allah dan hanya mengharap pahala dari Allah. Sebagaimana ditegaskan dalam hadis shahih pada kitab Sunan Abi Dawud

أخرج ابي داود : حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُتَوَكِّلِ قَالاَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ قَالَ الْحَسَنُ فِي حَدِيثِهِ وَمَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ بِعَزِيمَةٍ ثُمَّ يَقُولُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ ثُمَّ كَانَ اْلأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ فِي خِلاَفَةِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَصَدْرًا مِنْ خِلاَفَةِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
(Dari al-Hasan bin Ali dan Muhammad bin al-Mutawakkil keduanya dari Abd al-Razaq dari al-Ma’mar dari al-Hasan dan Malik bin Anas dari al-Zuhri dari Abi Salamah dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW senang melaksanakan Qiyam Ramadhan (Tarawih) meskipun tidak mewajibkannya. Kemudian bersabda :”Barangsiapa melaksanakan Qiyam ramadhan (tarawih) karena Allah dan mencari pahala dari Allah akan diampuni dosanya yang telah lalu. Kemudian Rasulullah wafat, sedang masalah Qiyam Ramadhan tetap seperti sediakala pada pemerintahan Abu Bakar dan pada awal pemerintahan Umar bin Khattab).

Dengan rajin dan tekun melaksanakan puasa dan shalat tarawih dengan tulus mencari ridho dan pahala dari Allah, niscaya dosa dan kesalahan kita kepada Allah telah terampuni kecuali dosa syirik sehingga kita menjadi hamba yang bersih dari dosa. Setelah dosa kita diampuni Allah, maka tahapan selanjutnya adalah membersihkan dosa kita kepada sesama manusia.

Idul Fitri atau kembali ke fitrah akan sempurna tatkala terhapusnya dosa kita kepada Allah diikuti dengan terhapusnya dosa kita kepada sesama manusia. Terhapusnya dosa kepada sesama manusia dengan jalan kita memohon maaf dan memaafkan orang lain.

Nah, dengan momentum Idul Fitri ini kita mari jadikan sebagai sarana meminta maaf dan memaafkan orang lain dengan bersilaturrahim (menyambung kasih sayang) baik kepada suami atau istri, kedua orang tua, anak, keluarga, sanak kerabat, tetangga serta teman dan relasi kita ketika ada kebencian terhadap mereka. Sebab kasih sayang merupakan lawan dari kebencian. Sehingga orang yang dalam dirinya ada kebencian pada suami atau istri, orang tua, anak, keluarga, sanak kerabat, tetangga, teman dan relasi disebut dengan pemutus kasih sayang (Qathiul Rahim). Orang yang memutuskan kasih sayang (Qathiul Rahim) dalam hadis shahih dijelaskan bahwa mereka ini tidak akan masuk surga. Sebagaimana sabda Rasul:

أخرج البخاري: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ قَالَ إِنَّ جُبَيْرَ بْنَ مُطْعِمٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
(Dari Yahya bin Bukair dari al-Lais dari Uqail dari Ibn Syihab bahwa Muhammad bin Jubair bin Muth’im berkata bahwa ia mendengar Nabi SAW bersabda : pemutus kasih sayang tidak akan masuk surga).

Di hadis lain juga dijelaskan:

أخرج أحمد: حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنِي الْخَزْرَجُ يَعْنِي ابْنَ عُثْمَانَ السَّعْدِيَّ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ يَعْنِي مَوْلَى عُثْمَانَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَعْمَالَ بَنِي آدَمَ تُعْرَضُ كُلَّ خَمِيسٍ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَلاَ يُقْبَلُ عَمَلُ قَاطِعِ رَحِمٍ
(Dari Yunus bin Muhammad dari al-Khazraj (Ibn Usman al-Sa’diy dari Abi Ayub (Maula Usman) dari Abi Hurairah berkata : aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : Sungguh perbuatan Bani Adam (manusia) dilaporkan setiap kamis malam jum’at, maka tidak akan diterima perbuatan (baik) orang yang memutuskan kasih sayang).

Di samping kita meminta maaf dan memberi maaf, kita juga harus dan wajib sebisa mungkin menjadi pribadi pemaaf. Memberi maaf berbeda dengan pemaaf. Kalau memberi maaf itu terjadi ketika ada orang yang meminta maaf, sedang pemaaf adalah orang yang memberi maaf atas kesalahan orang lain sebelum orang tersebut meminta maaf kepadanya. Hal ini dengan tegas ada dalam surah Ali-Imran (3) ayat 134 :

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(Penghuni surga adalah) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dengan demikian, mari kita jadikan Idul Fitri tahun ini berbeda dengan Idul Fitri di tahun-tahun sebelumnya karena kita telah memahami akan makna Idul Fitri. Dengan kita maksimalkan bersilaturahim untuk meminta maaf, memberi maaf dan menjadi seorang pemaaf. Jangan biarkan kedengkian dan kebencian merasuk kembali ke jiwa kita yang telah fitri (suci).

Dengan momentum ini pula, saya Muhammad Makmun sebagai mahluk yang banyak dan penuh dengan kesalahan dan dosa, baik yang saya sengaja atau tidak, dengan tulus saya memohon maaf lahir batin atas semua kesalahan dan dosa saya kepada anda semua. Begitu juga sebaliknya, jika ada kesalahan dan dosa anda semua kepada saya, dengan lapang dada saya memaafkan anda. Dengan harapan, semoga kita semua menjadi manusia bersih sebagaimana bayi yang baru dilahirkan dari kandungan yang tak punya salah dan dosa.

من العائدين والفائزين, كل عام وأنتم بخير“”

Posted in Religi | Tagged: | 1 Comment »

Doa Memohon Diberi Keturunan

Posted by almakmun on 22/08/2011

Anak adalah titipan dan amanah dari Allah, sehingga menjaga dan merawat serta mendidiknya dengan sebaik mungkin adalah kewajiban setiap orang tua. nah bagi mereka yang belum memiliki anak, berusaha dan berikhtiar semaksimal mungkin serta berdoa sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur’an:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do`a”. (Qs. Ali Imran: 38)

رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

“Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. (Qs. Al-Anbiya’: 89)

Posted in renungan | Tagged: , , | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.