Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Bagaimana Islam Menyikapi Isu Gender

Posted by almakmun on 30/04/2009

Isu gender akhir-akhir ini semakin ramai dibicarakan, walaupun gender itu sendiri tidak jarang diartikan secara tidak pas. Menurut Sholwater dalam buku Speaking Of Gender, menyebutkan bahwa wacana gender mulai ramai dibicarakan pada awal tahun 1977, kala itu ketika sekelompok feminis di London tidak lagi memakai isu-isu lama seperti patriarchal atau sexist, melainkan menggantinya dengan isu gender (gender discourse). Sebelumnya istiah sexist dan gender digunakan secara rancu.
Wanita dan laki-laki biasanya mendapatkan perlakuan yang berbeda, entah itu karena faktor agama atau budaya atau faktor lainnya. Dalam kesempatan kali ini, akan saya coba uraikan tentang keadilan gender dengan analisis peran publik wanita dan disamping itu untuk mengetahui apakah nanti kultur yang ada akan berimplikasi pada hukum Islam hasil karya pada masa tersebut.

Pengertian Gender
Hilary M. Lips, dalam buku Sex and gender an Inroduction mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Sedangkan di dalam Kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita, gender di artikan sebagai interpretasi mental dan cultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan. Gender biasanya digunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan.
Berdasarkan dua pengertian di atas, dapat diambil garis besar bahwa yang dinamakan dengan gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi pengaruh sosial budaya. Dalam pengertian lain bahwa gender adalah suatu bentuk rekayasa masyarakat (sosial contruction), bukan merupakan suatu kodrati yang tidak bisa berubah.
Awal mula munculnya teori gender menurut beberapa ahli disebabkan adanya perbedaan pandangan psikologis terhadap laki-laki dan perempuan. Pertama, pandangan yang menekankan aspek biologis (natural/kodrati) dan kedua, pandangan yang menekankan aspek sosial budaya (nurture/cultural). Pandangan pertama manyatakan bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan disebabkan berbedanya struktur biologis keduanya yang bersifat kodrati yang diperolehnya sejak lahir. Sementara pandangan kedua melihat perbedaan psikologis laki-laki dan perempuan sebagai hasil proses sosial budaya.
Berdasarkan kedua pandangan tersebut, kiranya dapat dikemukakan beberapa hal. Pertama, bahwa identitas manusia telah ada sejak lahir, kemudian melalui proses belajar mengakibatkan perbedaan aspek-aspek biologis, fungsi dasar serta kesesuaian jenis pekerjaan. Karenanya setiap orang memperoleh teori gender sesuai dengan pemahaman yang dibentuk selama proses sosialisasi tersebut. Kedua, bahwa pemahaman terhadap teori gender kemudian dikonstruk secara sosial melalui tradisi baik melalui saluran pendidikan formal ataupun interpretasi yang bersifat kultural lewat seperangkat ajaran agama. Bahkan interpretasi terhadap ajaran agama yang tidak berpihak kepada kesetaraan dan keadilan gender juga dapat dipandang sebagai pemicu diskriminasi peran laki-laki dan perempuan. Selain penafsiran ajaran agama, konstruk sosial budaya juga amat berperan dalam membentuk pandangan terhadap teori gender.
Kilas balik Wanita Pra Islam
Masa Mesopotamia

Subordinasi atas wanita Timur Tengah kuno tampaknya telah dilembagakan seiring dengan kebangkitan masyarakat perkotaan dan dengan kebangkitan Negara kuno khususnya. Bertolak belakang dengan teori-teori androsentris yang mengemukakan bahwa status sosial inferior wanita didasarkan pada biologi dan alam dan dengan demikian, sudah ada selama dimiliki manusia, bukti arkeologis menunjukkan bahwa wanita dihormati sebelum bangkitnya masyarakat perkotaan dan statusnya merosot seiring dengan munculnya pusat-pusat perkotaan dan negara kota. James Mellart dalam karyanya yang berjudul Catal Huyuk: A Neolithic Town in Anatolia menegaskan bahwa di Asia Kecil pada tahun 6000 SM. Pada zaman Neolitik ditemukan sebuah pemukiman yang kemudian dikenal dengan Catal Huyuk yang menggambarkan bahwa posisi wanita sangat tinggi dan dominan.
Tak hanya itu saja yang menyatakan bahwa posisi wanita pada zaman dahulu sangat tinggi, bukti lain adalah bahwa berbagai kebudayaan di seluruh Timur Tengah menghormati dewi-ibu dalam zaman neolitik, hingga millenium kedua sebelum masehi dibeberapa kawasan. Namun kemudian, hal tersebut disusul dengan adanya dominasi laki-laki atas wanita yang diakibatkan munculnya daerah-daerah kota yang semakin rumit dan saling berebut kekuasaan dengan jalan kekerasan dan perang yang mana hal tersebut membutuhkan banyak tenaga yang biasanya dimiliki oleh laki-laki, sehingga kemerosotan status wanita akhirnya diikuti oleh runtuhnya dewi-dewi dan bangkitnya dewa-dewa.
Walaupun ada subordinasi konseptual tegas atas wanita yang terkodifikasi di dalam hukum-hukum yang mengatur keluarga patriarchal, posisi wanita sebagai wakil dan dapat menikmati semua kekayaan dan status yang tinggi sehingga dapat mempengaruhi berbagai peristiwa dan memiliki kekuasaan real atas pria dan wanita dari lapisan rendah dan bahkan bisa muncul sebagai penguasa seperti Ratu Semiramis dari Babilon (824-810 SM.) dan Naqi’a (704-681 SM.).
Masa Timur Tengah Mediterania
Ide-ide mendasar bagi agama kristen – nilai instrinsik individu, keutamaan spiritual yang sama antara pria dan wanita, budak dan tuan, dan keunggulan perawan atas kepatuhan istri – dalam beberapa hal menumbangkan gagasan-gagasan yang mendasar bagi kekuasaan patriarkihi di zaman itu.
Masa Bizantine, Peran ekonomi aktif wanita mangandaikan keterlibatan umum dalam masayarakat dan interaksi yang jauh lebih besar dengan pria melebihi yang diyakini oleh para sarjana. Dengan demikian, realitas fungsional berbeda dari yang ideal. Ia menunjukkan bahwa wanita-wanita Bizantine bergerak aktif tidak hanya sebagai pengunjung pemandian, bidan dan dokter, melainkan juga sebagai seniman dan pedagang bahan makanan. Wanita juga terlibat dalam perdagangan jarak jauh.
Wanita di Dalam Al-Qur’an
Secara ontologis, masalah-masalah substansial manusia tidak diuraikan panjang lebar dalam al-Qur’an. Yang ditekankan adalah eksistensi manusia sebagai hamba, sebagai wakil Tuhan di Bumi. Sebagaimana Friman Allah dalam surat al-An’am: 165:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلاَئِفَ الأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ العِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌManusia adalah satu-satunya mahluk eksistensialis, karena hanya mahluk ini yang bisa naik turun derajatnya di sisi Tuhan, sekalipun manusia merupakan ciptaan terbaik tetapi tidak mustahil akan turun ke derajat “paling rendah”, (لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ. ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ ) surat at-Tin 4-5. bahkan bisa rendah dari binatang. وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَل هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الغَافِلُونَ al-A’raf: 179.
Ukuran kemuliaan di sisi Tuhan adalah prestasi dan kualitas tanpa membedakan etnik dan jenis kelamin (يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ) al-Hujurat 13. Al-Qur’an tidak menganut faham the second sex yang memberikan keutamaan kepada jenis kelamin tertentu atau the first ethnic, yang mengistimewakan suku tertentu. Jenis kelamin apapun dan suku manapun mempunyai potensi yang sama untuk menjadi ‘abid dan khalifah. An-Nisa’ 123 dan an-Nahl 97
وَمَن يَعْمَل مِنَ الصَّالِحَاتَ مِن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُوْلَـئِكَ يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ وَلاَ يُظْلَمُونَ نَقِيراً
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
Sosok ideal wanita muslimah diilustrasikan sebagai kaum yang mempunyai kemandirian politik, sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Mumtahanah ayat 12:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءكَ المُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَن لاَّ يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئاً وَلاَ يَسْرِقْنَ وَلاَ يَزْنِينَ وَلاَ يَقْتُلنَ أَوْلاَدَهُنَّ وَلاَ يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلاَ يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Di sisi lain, sejarah juga mencata bahwa terdapat seorang ratu yang mempunyai kerajaan yang besar dan superpower, dia adalah ratu Balqis. Hal ini diceritakan dalam al-Qur’an surat an-Naml : 23:
إِنِّي وَجَدتُّ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِن كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ
Selain itu, seorang perempuan juga mempunyai sebuah kemandirian ekonomi (lihat dalam surat an-Nahl ayat 97). Tidak hanya sampai di situ, Islam sangat menghormati dan mengangkat derajat kaum perempuan yang mana al-Qur’an mengijinkan wanita melakukan gerakan oposisi terhadap berbagai kerusakan dan menyampaikan kebenaran (lihat surat at-Taubah ayat 71). Bahkan al-Qur’an menyerukan perang kepada suatu negeri yang menindas kaum perempuan (lihat surat an-nisa: 75)
Secara normative al-Qur’an sangat tinggi memandang wanita daripada kitab suci agama-agama lain, begitu juga dengan penafsiran pertama di masa nabi Muhammad Saw., semua ide yang ada di dalam al-Qur’an diimplementasikan dalam kehidupan beliau.

Problem Penafsiran Beberapa Tokoh Islam Terhadap Wanita
Pada Masa Abu Bakar Ash-Shidiq
Pada masa Abu Bakar, perlakuan terhadap wanita tidak jauh berbeda dengan masa Nabi Muhammad ketika masih hidup. Akan tetapi ada beberapa kebijakan yang berbeda, antara lain: isteri-isteri nabi Muhammad tetap tinggal di serambi masjid. Secara financial, mereka mendapatkan dari hasil kerja sendiri seperti Sawda’ yang membuat kerajinan kulit.
Pada Masa Umar bin al-Khatab
Pada masa ini dipandang sebagai periode yang banyak mengeluarkan kebijakan yang berbeda dengan para pendahulunya. Umar bin Khatab menyebarkan serangkaian aturan keagamaan, kewarganegaraan dan hukum pidana termasuk rajam sebagai hukuman atas perbuatan perzinahan.
Ia sangat keras terhadap wanita dalam kehidupan pribadi dan public; ia gampang marah pada istri-istrinya dan secara fisik menyerang mereka, dan ia berusaha membatasi wanita-wanita dirumah mereka dan mencegah mereka menghadiri shalat berjamaah di masjid. Tak berhasil dalam usaha yang terakhir ini, ia menyelenggarakan shalat terpisah antara pria dan wanita dengan imam yang berbeda. Umar juga melarang isteri-isteri Muhammad untuk pergi menunaikan ibadah haji. Akan tetapi, kemudian dia menyadari perbuatannya tersebut dan mencabut kebijakannya itu. Hal ini dikarenakan kebijakannya memicu ketidakpuasan umm mukminin “walaupun sejarah tidak mencatatnya sedikitpun”
Pada Masa Ustman bin Affan
Pada masa ini, Ustman memperbolehkan isteri-isteri Muhammad untuk melaksanakan ibadah haji dan mencabut kebijakan Umar bin al-Khatab berupa imam-imam tersendiri untuk kaum wanita. Pria dan wanita kembali menghadiri masjid bersama-sama, meskipun wanita berada dibelakang barisan pria. Akan tetapi pemulihan ini tidak berlangsung lama, dan berbalik arah tanpa ada tawar-menawar.
Aisyah masih berperan aktif dan akhirnya secara public turun ke ranah politik. Ketika usman terbunuh, ia berpidato di muka umum sambil mengenakan hijab di masjid Mekkah, ia terus menghimpun kekuatan di sekelilingnya yang kemudian dilakukan pada masa suksesi kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.
Pandangan al-Ghazali tentang wanita
Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-ghazali al-Thusi al-Syafi’i. Dia dilahirkan di Thus, suatu kota kecil yang ada di Khurasan pada tahun 450 M. Dia merupakan orang yang ahli dalam bidang teologi, tasawuf, adab dan dapat juga dimasukkan sebagai ahli filsafat walaupun tidak semua filosof sepakat untuk memasukkannya. Dia kemudian mendapat gelar sebagai Hujjatul Islam karena pembelaannya terhadap Islam terutama terhadap kaum Bathiniyah dan kaum filosuf. Akan tetapi, disisi lain al-Ghazali mendapatkan serangan dan cemoohan dengan istilah “Si penyembelih ayam yang bertelur emas”, hal ini dikarenakan dia dianggap sebagai orang yang mengakibatkan kemandegkan pemikiran Islam.
Mengenai pemikiran tentang wanita, Al-Ghazali pernah berkata “Perhatikan wanita-wnita yang telah berjuang di jalan Allah dan berkata, ‘wahai jiwaku, janganlah senang menjadi lebih rendah dari seorang wanita, sebab adalah tercela bagi seorang pria lebih rendah dari seorang wanita dalam masalah-masalah agama atau dunia ini” (lihat dalam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, (Kairo: Muassasah al-Halabi wa Syurakah wa at-Tawzi, 1967). Artinya, dalam bidang spiritual (dan juga material) pria paling biasa sekalipun haruslah berharap sanggup melampaui wanita-wanita paling berbakat dan cerdas.
Pandangan kaum Sufi
Gagasan-gagasan sufi secara implisit meragukan cara dari Islam mapan dalam mengkonsptualisasikan gender, seperti diisyaratkan oleh kenyataan bahwa mereka mengizinkan wanita untuk memberikan tempat sentral dalam kehidupan mereka pada amalan spiritual. Dengan demikian, menegaskan pentingnya hal yang spiritual di atas hal yang biologis. Sebaliknya visi legal dari Islam mapan mengutamakan kewajiban wanita sebagai istri dan ibu.
Di kalangan sufi, mereka menolak adanya perbedaan antara pria dan wanita. Ada sebuah kisah yang menarik untuk disimak, bahwa dalam tokoh mereka ada yang bernama Rabi’ah al-Adawiyah yang mendasari interaksi pria wanita dalam masyarakat dominan. Disamping itu, menurut Hasan al-Bashri menceritakan bahwa “Kuhabiskan sehari semalam bersama Rabi’ah dengan membicarakan kebenaran jalan dan kebenaran, dan tak pernah terlintas dalam benakku bahwa aku seorang pria, dan tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa ia seorang wanita, dan pada akhirnya ketika aku memandangnya, kulihat diriku sendiri dalam keadaan bangkrut (tak berharga secara spiritual) dan Rabi’ah sebagai benar-benar tulus (kaya dalam keutamaan Spiritual) (lebih lanjut lihat dalam Margareth Smith, Rabi’a: The Mystic and Her Fellow-Saints in Islam, (Cambridge: Cambridge University Press, 1928). kisah tersebut membalik penilaian masyarakat dominant tentang pria atas wanita dengan menggambarkan bukan hanya seorang pria pemimpin sufi paling dihormati yang menggambarkan dirinya dalam keadaan “bangkrut” jika dibandingkan dengan seorang wanita yang memiliki berbagai keutamaan spiritual.
Berdasarkan paparan di atas, dapat diketahui bahwa pada dasarnya di dalam tasawuf tidak mengenal adanya pembedaan antara laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, di dalam thariqah mu’tabarah seorang perempuan tidak diperbolehkan / tidak syah menjadi khalifah/mursyid menurut kesepakatan ahl al-Kasyfi. Argument tersebut dapat ditemukan di dalam Al-Mizan al-Kubra, yaitu:
Para ulama’ kasyaf sepakat, bahwa setiap penyeru kepada Allah (di dalam thariqah) syaratnya harus laki-laki. Kami tidak pernah mengetahui selamanya, seorang wanita dari kalangan salaf yang saleh yang memimpin majelis untuk mendidik murid (di dalam thariqah), karena kurangnya derajat wanita. Jika terdapat kesempurnaan pada sebagian wanita seperti Maryam binti Imran dan ‘Aisyah istri Fir’aun, maka itu adalah kesempurnaan dari sisi takwa dan agama, bukan kesempurnaan dari sisi hokum antara manusia dan penempuhan maqam kewalian. Kemaksimalan wanita adalah menjadi orang yang tekun beribadah dan orang yang zuhud seperti Rabi’ah al-Adawiyyah. Ringkasnya, setelah ‘Aisyah r.a. tidak diketahui mujtahid wanita yang lain dari para istri Nabi Muhammad Saw., dan tidak ada wanita yang kesempurnaannya menyamai laki-laki.
Pandangan Ibn Arabi.
Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn al-Arabi al-Ta’I al-Hatami, yang lahir di Mursia Spanyol, pada tanggal 17 Ramadhan 560 H. atau 28 Juli 1165 M. di mana dia kemudian dikenal dengan sebutan Ibnu Arabi (tanpa menggunakan al). dia mendapatkan gelar Muhyi al-Din dan al-Syaikh al-Akbar, dia adalah seorang pakar tasawuf yang memunculkan teori wahdatul wujud. Di samping itu, ketinggian intelektual dan jangkauannya – masih diperdebatkan – mengungguli al-Ghazali. Lihat dalam Khalil Ibn Aybak Safadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, (Beirut: Da>r al-kutub, tt.)
Ibn Arabi dihukum sebagai seorang ahli bid’ah berkali-kali dalam hidupnya. Paling tidak dalam satu kesempatan, “bid’ah” yang membuat berang kaum ortodoks berhubungan dengan pernyataannya tentang wanita. Syairnya Turjuman al-Asywaq, (Syair ini mengisahkan pertemuannya dengan wanita muda di Mekkah. Ia menulis bahwa Nizam (nama wanita itu) terpelajar dan saleh dengan pengalaman hidup spiritual dan mistis bukan karena kecantikannya sebagaimana orang-orang kerdil melihat wanita. Kenangan tentang keagungan jiwa dan kesederhanaan sikapnya dan persahabatan yang kukuh yang ia tawarkan kepadanya mengilhami syairnya yang metafora sentralnya ialah bahwa wanita muda adalah manifestasi duniawi dari Sophia, kebijaksanaan Ilahi yang dipahat oleh jiwanya. Lebih jauh lihat dalam Henry Corbin, Creative Imagination in the Sufism of Ibn Arabi, terj. Ralph Manheim, (Princeton: Princeton University Press, 1969), yang makna sepenuhnya bersifat spiritual dan alegoris.
Penekanan Ibn Arabi pada dimensi feminine Tuhan dan komplementaritas lelaki dan wanita adalah sebuah unsur yang konsisten dalam pemikirannya. Ia menggambarkan Adam sebagai wanita pertama karena Hawa dilahirkan dari sisinya dan Maryam sebagai Adam kedua karena ia melahirkan Isa. Dengan menggunakan metafora Adam dan Hawa, menurutnya tentang Tuhan yang mengeluarkan dari Adam “suatu mahluk dalam citranya sendiri, yang disebut wanita, dan karena ia tampil dihadapannya dalam citranya sendiri, pria pun sangat merindukannya, sebagaimana sesuatu merindukan dirinya sendiri”.
Pandangan Muhammad Abduh
Ia seorang tokoh pembaharu dalam Islam, seorang intelektual Mesir yang disegani dan dihormati serta mempunyai banyak pengikut. Ia juga seorang pembaharu menyangkut wanita
Menurut Muhammad Abduh, bahwa ayat al-Qur’an tentang pahala yang sama atas amal perbuatan menunjukkan bahwa pria dan wanita sama dan sederajat dihadapan Allah. Karena itu, tidak ada perbedaan di antara mereka berkenaan dengan kemanusiaan dan tidak ada keunggulan atas satu sama yang lain dalam amal perbuatan. Abduh berargumen bahwa aturan-aturan yang mempengaruhi wanita, semisal mengenai poligami dan perceraian, seperti adat-istiadat “terbelakang” dan “rendahan” yang menyebabkan umat Islam terpuruk dalam keadaan kejahilan yang tercela, bersumber bukan dari Islam, melainkan dari kerusakan dan salah-tafsir yang menimpa Islam selama berabad-abad.
Wanita di Masa Daulah Umayyah dan Abasiyah
Pada masa Umayyah, hukum-hukum lokal dimodifikasi dan dielaborasi oleh aturan-aturan al-Qur’an dan dilapisi sehimpunan peraturan administrativ dan disusupi oleh elemen-elemen dari berbagai system yang asing.
Pada abad kesepuluh, himpunan pemikiran dan praktek hukum sunni mencapai formulasi final dalam empat mazhab hukum, yang mewakili asal-usul regional yang berbeda dari mazhab-mazhab itu dan dinamai sesuai dengan para pendukung utamanya – Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hanbali, yang kemudian dianggap pemikiran mereka sangat sacral. Dari empat mazhab tersebut ada perbedaan dalam memandang wanita, misalnya saja mazhab Maliki yang berbeda dengan tiga mazhab lainnya yang mengatakan, bahwa wanita mempunyai hak untuk mengajukan perceraian lewat pengadilan, bukan hanya karena ketidakmampuan seksual, sebagaimana mazhab Hanafi, tetapi juga karena perselingkuhan, tidak sanggup menjaga isteri, kekejaman dan suami sakit kronis dan tidak dapat disembuhkan.
Sebagian besar hukum Mesopotamia mempunyai kesamaan dalam hukum Ibrani dan dalam hukum Islam. Berbagai kesamaan yang jelas dengan hukum Islam adalah mencakup pemberian hak untuk menceraikan hampir sepenuhnya kepada pria, kecuali jika perjanjian itu menentukan sebaliknya (sebuah ketentuan perjanjian yang juga dapat dilakukan oleh wanita muslim dalam beberapa mazhab fiqh), memberi wanita hak untuk memberikan kesaksian (sebuah hak yang kemudian dibatasi pada periode Babilonia). Lebih lanjut, lihat dalam Gerda Lerner, The Creation of Patriarchy, (New York: Oxford University Press, 1986), bab VII dan IX, lihat juga dalam Siebert, Woman in the Ancient Near East. H. 8, A.L. Oppenheim, Letters from Meopotamia, (Chicago: University Of Chicago Press, 1967). Berkenaan dengan wanita dapat memberikan kesaksian, hukum Mesopotamia tampaknya lebih berbaik hati kepada wanita daripada hukum Islam, atau sekurang-kurangnya ketimbang hukum Islam yang ditafsirkan secara tradisional yang menurutnya kesaksian dua orang wanita kualitas kesaksiannya sama dengan kesaksian satu orang laki-laki.
Pandangan Aliran Qaramithah
Qaramithah adalah Sebuah gerakan marginal secara politik yang berakar pada masyarakat bawah dan menantang rezim Abasiyah secara militer. Gerakan ini pernah berhasil dalam mendirikan sebuah republic yang merdeka akan tetapi tidak berlangsung lama dan republiknya dibumihanguskan serta karya-karya ulama mereka dibakar dan dilenyapkan. Hamper seluruh informasi yang ada diperoleh dari pengamat tak simpatik yang mendukung kaum Abasiyah. Dalam republic yang mereka dirikan, harta milik bersama dikelola oleh sebuah komite sentral yang memastikan bahwa semua orang telah memenuhi kebutuhan mereka berupa sandang, pangan dan papan.
Gagasan bahwa hukum-hukum yang berlaku bagi masyarakat muslim kurun awal tidaklah mesti berlaku bagi atau mengikat atas masyarakat-masyarakat kurun terkemudian. Hal tersebutlah yang mendorong kaum Qaramithah untuk menolak perseliran dan perkawinan anak perempuan di usia sembilan tahun dan kaum Qaramithah melarang poligami dan hijab. Wanita-wanita Qaramithah tidak dihijab serta pria dan wanita mempraktekkan monogami.
Pandangan Muhammad Syahrur
Nama lengkap Muhammad Syahrur adalah Muhammad Syahrur Ibn Deyb. Lahir di Damaskus, Syria, tanggal, 11 April 1938. ia adalah seorang tokoh kontemporer dan Dr dalam bidang teknik. Akan tetapi dia berhasil mengeluarkan gagasan-gagasan yang menakjubkan dalam kajian keIslaman yang sangat jauh berbeda dengan pemikir yang lainnya. Metode yang dipakai Syahrur dalam studi kebahasaan adalah metode histories-ilmiah Sedangkan pendekatan yang dipakai adalah pendekatan linguistik-filosofis-humanistik.
Pandangan Syahrur Tentang Pakaian (libas)
Huruf lam, ba’ dan sin adalah tiga huruf asli yang menunjuk pada pengertian tutup dan menutupi (as-satr wa at-taghtiyah). Secara denotative, kata libas bermakna pakaian yang dikenakan, sebagaimana dalam firman Allah:
أُولَئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا (الكهف: 31)
: “….dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal”.

Dan juga firman Allah:
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ (فاطر: 33)
“(Bagi mereka) surga ‘Ad, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan dengan mutiara dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera.”

Secara konotatif-metaforis, kata al-libas dapat diartikan sebagai pencampuran dan penggantian, sebagaimana firman Allah:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (البقرة: 42)
“Dan janganlah kalian mencampur adukkan antara yang hak dengan yang bathil dan janganlah kalian sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.”

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا (الفرقان: 47)
“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.”

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ…….. (البقرة: 187)
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka…….”

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ (النحل: 112)
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari ni`mat-ni`mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.”

Berkaitan dengan pakaian, maka kita tidak dapat melepaskan pengertian pakaian tanpa melihat ayat lain yang mengisyaratkan bagaimana manusia pertama memakai pakaian, hal ini dapat kita lihat dalam firman Allah:
يَابَنِي ءَادَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ ءَايَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُون َ(26)يَابَنِي ءَادَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ (الأعراف: 26-27)
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi `auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.

Berdasarkan ayat di atas, kemudian apakah kita akan memahaminya dengan pengertian yang denotative ataukah dengan pengertian konotatif-metaforis? Akan tetapi sebelum membahasnya lebih lanjut, marilah kita membnicarakan tentang hal yang tidak dapat dipisahkan dari pakaian, yaitu tentang aurat.
Aurat (as-Saw’ah) seperti halnya dengan liba>s yang juga mempunyai arti denotative maupun konotatif. Secara denotative bermakna keburukan (al-qubh), seperti disebutkan dalam hadis nabi Muhammad yang bermakna “perempuan yang buruk rupa namun subur lebih baik daripada perempuan cantik tetapi mandul”. Kata ini juga berarti al-baras} (bintik-bintik putih pada kulit), sebagaimana firman Allah: وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَى جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ ءَايَةً أُخْرَى (طه: 22) (dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai tanda yang lain pula”). Pendapat ini dipegang oleh al-Ja>h}iz yang mengutip dari pendapat az-Zamakhsari
Secara konotatif as-saw’ah bermakna aurat, yaitu bagian tubuh yang tidak boleh dibuka untuk diperlihatkan. Berdasarkan hal ini, maka muncul pendapaty yang mengatakan bahwa kata tersebut merupakan kata kiasan tentang alat kelamin laki-laki dan perempuan yang jika diperlihatkan akan mengganggu pihak lain. Selain itu, kata as-saw’ah juga berarti aib (fad}I>h}ah) dan bangkai (ji>fah), seperti dalam firman Allah: فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْأَةَ أَخِيهِ قَالَ يَاوَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْأَةَ أَخِي فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ (المائدة: 31) (Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?….).
Kembali lagi pada surat al-A’raf : 26-27, di mana kata saw’ah lebih cenderung bermakna konotatif. Hal ini dikarenakan rasa berdosa pada seseorang ketika auratnya terbuka merupakan perasaan sosial yang tidak mungkin muncul dalam kondisi sendirian, ketika tidak ada pihak lain yang sengaja melihat dan memperhatikannya. Dalam hal ini, maka kata saw’ah harus dimaknai secara konotatif sebagaimana Ibn Abbas dan Qatadah yang memaknai libas at-taqwa sebagai amal shaleh, maka untuk selanjutnya Syahrur memaknai kata as-saw’ah dengan pengertian “amal buruk” pada diri seseorang yang tidak ingin diekspos kepada pihak lain, terlebih jika orang tersebut adalah golongan ahli taubat, beriman dan memiliki hati nurani yang hidup.
Al-Qur’an memaparkan masalah penutup (h}ija>b), jilbab dan kerudung (khima>r) dalam tiga ayat saja.
Pertama adalah ayat tentang hijab yang secara terbatas terkait dengan para isteri nabi Muhammad Saw., tidak ada isyarat baik secara eksplisit maupun implicit yang mengaitkan ayat ini dengan isteri orang-orang yang beriman secara umum (lihat dalam surat al-Ahzab: 53).
Kedua. Ayat tentang jilbab yang ditujukan kepada isteri Rasul dan isteri orang-orang yang beriman, yakni:
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (الأخزاب: 59)
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”

Karena ayat ini ditrurunkan berdasarkan kondisi-kondisi obyektif yang berlaku pada masa Nabi. Oleh karena itu, ayat ini berfungsi sebagai ayat pengajaran (ta’li>miyyah) bukan sebagai ayat penetapan hukum (tashri’iyyah). Sedangkan untuk konteks saat ini, pemberlakuan ayat tersebut dapat berupa tata cara bepergiannya perempuan yang didasarkan pada kebiasaan setempat dengan catatan dapat menghindarkannya dari gangguan sosial.
Ketiga, ayat yang berkaitan dengan masalah penutup kepala perempuan (al-khi>mar) dan perhiasan yang ditujukan secara umum bagi seluruh perempuan beriman. Ayat yang dimaksud adalah:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَائِهِنَّ أَوْ ءَابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (النور: 31)
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Analisis
Wacana Hijab
Adopsi hijab oleh wanita-wanita muslim terjadi melalui proses asimilasi serupa dari adat istiadat penduduk yang mereka taklukan. Hijab agaknya dipakai dalam masyarakat Sasania, pemisahan jenis kelamin dan penggunaan hijab tampak jelas dikawasan Timur Tengah Kristen dan Mediterania disaat kebangkitan Islam.
Menurut analisis Gerda Lerner, bahwa hijab berfungsi bukan hanya menandakan kelas atas. Akan tetapi, secara lebih mendasar membedakan antara wanita-wanita terhormat dengan mereka yang tersedia untuk umum. Dalam arti bahwa pemakaian hijab mengklasifikasikan wanita sesui dengan aktivitas seksual mereka dan memberi isyarat kepada pria tentang wanita-wanita mana yang berada dalam lindungan pria dan mana yang boleh diperebutkan secara jujur dan adil.
Perkawinan
Ada sebuh kisah yang menarik, ada seorang wanita yang bernama ‘Atikah binti Zaid (w. 672 M), seorang wanita yang terkenal karena kecantikan, kecerdasan, dan kemahiran syairnya, juga menikah dengan empat pria. Suami pertamanya adalah putra Abu Bakar, wafat dengan meninggalkan warisan yang banyak dengan syarat bahwa ia tidak boleh kawin lagi. Sesudah menolak banyak lamaran, akhirnya dia menerima ‘Umar bin al-Khatab. Kemudian dia menikah dengan Zubair ibn al-Awwam dengan syarat ia tidak boleh memukulnya atau menghalang-halanginya menghadiri shalat di masjid, setelah Zubair meninggal pada perang tahun 656 M kemudian dia menikah dengan Husain putra Ali bin abi Thalib, pada waktu itu atikah berusia empat puluh lima tahun. Lihat dalam Umar Ridda Kahhalah, A’lam an-Nisa’ ; Fi A’lam al-‘Arab wa al-Islam, (Damaskus: al-Mathba’ah al-hasyimiyyah, 1940). tidak hanya Atikah saja, ada juga Umm Kultsum menikah dengan tiga pria yang menikah dengan suami terakhir berusia empat puluh tahun. Hal tersebut menggambarkan bahwa tidak ada stigma apapun dilekatkan pada perkawinan dengan wanita-wanita bukan perawan. Informasi dua wanita tersebut juga menunjukkan bahwa usia dan perkawinan sebelumnya tidak menghalangi wanita memperoleh pasangan yang prestisius secara sosial. Begitu juga dengan Khadijah istri Muhammad yang menikahinya pada usia empat puluh tahun.
Begitu Islam menaklukan daerah-daerah disekitarnya, asimilasi berbagai tradisi scriptural dan sosial dari para penduduk Kristen dan yahudinya ke dalam korpus kehidupan dan pemikiran Islam terjadi dengan begitu mudah. Para muallaf pun membawa serta tradisi-tradisi pemiikiran dan kebiasaan mereka.
Seluruh risalah langit menyinggung masalah perempuan ketika diturunkan adalah berupaya untuk mengembalikan kehormatan perempuan dan memposisikannya secara sejajar dengan laki-laki, disamping mendesain peran masing-masing dalam keluarga dan masyarakat. Di samping itu, ada beberapa hal yang turut merubah pandangan masyarakat tentang perempuan, yaitu:
 Berakhirnya masa komunitas matrilineal dan hadirnya masa patrilinial.
 Pengaruh pandangan patriarkhis yang membakukan ajaran-ajaran pemimpin agama (sadanah) dalam agama-agama Mesopotamia, Persia dan India.
 Pembakuan ajaran para rahib (ahbar) dalam agama Yahudi dan para uskup, paus (kahanah) dan para rasul dalam agama Nasrani.
Sedangkan dalam risalah Muhammad sendiri tidak jauh lebih baik perannya daripada risalah-risalah sebelumnya. Demikian juga dengan para fuqaha dan mufassir dalam masalah perempuan, hijab dan pakaiannya tidak memiliki pendapat yang lebih berimbang jika dibandingkan dengan pemuka agama sebelumnya. Hal ini dikarenakan:
 Masuknya sejumlah pengikut agama-agama terdahulu ke dalam agama Islam, yang masih membawa pandangan teologis mereka yang lama. Di antara mereka adalah Ibn Juraij (seorang ahli tafsir yang terkenal), Tamim ibn Aws ibn Haritsah ad-Darimi (seorang sahabat yang terkenal meriwayatkan hadis tentang al-Jasa>sah dan Dajjal. Sebelumnya dia adalah seorang rahib dan ahli ibadah di antara bangsa Palestina. Dialah orang pertama yang memasang lampu dan menuturkan kisah di dalam masjid). Juga Ka’ab ibn Mati’ al-Humairy.
 Di satu sisi terjadi keterlambatan proses kodifikasi hadis yang baru dimualai sejak satu abad berlalu, ditambah lagi dengan adanya periwayatan hadis secara maknawi dan tersebarnya hadis-hadis palsu karena dipicu oleh factor-faktor politik dan kepentingan aliran.
 Larangan yang berlebihan agar tidak terjebak pada kesalahan. Larangan ini dikemukakan oleh imam-imam besar seperti at-Tabari dan as-Suyuti yang bertujuan untuk menjamin bahwa informasi dan data yang disajikan dalam karya mereka pada khalayak ramai tanpa diseleksi atau dikoreksi.
 Pandangan yang membabi buta yang mensakralkan seluruh peninggalan tradisi dan para pemegang otoritas atasnya.
Tidak hanya para mufassir yang seolah olah mendiskreditkan perempuan, begitu juga para ahli hadis yang memiliki pandangan tentang ketaatan perempuan kepada suaminya, anjuran untuk mengurung perempuan dalam rumah karena mereka adalah aurat, perempuan kurang akal dan agama yang menyebabkan mereka banyak menghuni neraka, perempuan merupakan hal yang membatakan wudhu layaknya batalnya wudhu oleh keledai dan anjing hitam, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Disamping factor-faktor tersebut di atas, ada empat factor membentuk berbagai kemungkinan kehidupan wanita di Timur tengah
1. Adat istiadat dan hukum-hukum yang mengatur perkawinan, terutama hukum-hukum yang membolehkan poligami, perseliran dan perceraian sepihak oleh suami.
2. Ideal sosial dari pemingitan wanita
3. Hak hukum wanita untuk memperoleh harta kekayaan
4. Posisi wanita dalam system kelas, (yang dipengaruhi oleh tiga factor di atas)

KESIMPULAN

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa isu gender yang selama ini berkembang dan seakan-akan mendiskreditkan wanita ternyata bukan kesalahan dari ajaran agama, melainkan akan kurang pas atas tafsir (kalau tidak boleh dikatakan salah tafsir) kitab suci.
Pandangan dan pendapat para pemuka agama atas interpretasi kitab suci tidak terlepas dari kultur yang ada dan juga tradisi local yang berkembang. Hal ini dapat diketahui beragamnya pendapat tentang kedudukan wanita mulai masa Abu Bakar as-Shidiq sampai masa sekarang ini (masa pemikiran Syahrur). Sehingga setting social berpengaruh terhadap hokum fiqh.
Beberapa factor yang turut merubah pandangan masyarakat tentang perempuan, yaitu:
 Berakhirnya masa komunitas matrilineal dan hadirnya masa patrilinial.
 Pengaruh pandangan patriarkhis yang membakukan ajaran-ajaran pemimpin agama (sadanah) dalam agama-agama Mesopotamia, Persia dan India.
 Pembakuan ajaran para rahib (ahbar) dalam agama Yahudi dan para uskup, paus (kahanah) dan para rasul dalam agama Nasrani.
Sedangkan dalam risalah Muhammad sendiri tidak jauh lebih baik perannya daripada risalah-risalah sebelumnya. Demikian juga dengan para fuqaha dan mufassir dalam masalah perempuan, hijab dan pakaiannya tidak memiliki pendapat yang lebih berimbang jika dibandingkan dengan pemuka agama sebelumnya. Hal ini dikarenakan:
 Masuknya sejumlah pengikut agama-agama terdahulu ke dalam agama Islam, yang masih membawa pandangan teologis mereka yang lama. Di antara mereka adalah Ibn Juraij (seorang ahli tafsir yang terkenal), Tamim ibn Aws ibn Haritsah ad-Darimi. Juga Ka’ab ibn Mati’ al-Humairy.
 Di satu sisi terjadi keterlambatan proses kodifikasi hadis yang baru dimualai sejak satu abad berlalu, ditambah lagi dengan adanya periwayatan hadis secara maknawi dan tersebarnya hadis-hadis palsu karena dipicu oleh factor-faktor politik dan kepentingan aliran.
 Larangan yang berlebihan agar tidak terjebak pada kesalahan. Larangan ini dikemukakan oleh imam-imam besar seperti at-Tabari dan as-Suyuti yang bertujuan untuk menjamin bahwa informasi dan data yang disajikan dalam karya mereka pada khalayak ramai tanpa diseleksi atau dikoreksi.
 Pandangan yang membabi buta yang mensakralkan seluruh peninggalan tradisi dan para pemegang otoritas atasnya.
Tidak hanya para mufassir yang seolah-olah mendiskreditkan perempuan, begitu juga para ahli hadis yang memiliki pandangan tentang ketaatan perempuan kepada suaminya, anjuran untuk mengurung perempuan dalam rumah karena mereka adalah aurat, perempuan kurang akal dan agama yang menyebabkan mereka banyak menghuni neraka, perempuan merupakan hal yang membatakan wudhu layaknya batalnya wudhu oleh keledai dan anjing hitam, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Disamping factor-faktor tersebut di atas, ada empat factor membentuk berbagai kemungkinan kehidupan wanita di Timur tengah
a. Adat istiadat dan hukum-hukum yang mengatur perkawinan, terutama hukum-hukum yang membolehkan poligami, perseliran dan perceraian sepihak oleh suami.
b. Ideal sosial dari pemingitan wanita
c. Hak hukum wanita untuk memperoleh harta kekayaan
d. Posisi wanita dalam system kelas, (yang dipengaruhi oleh tiga factor di atas)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Zainal Abidin, Riwayat Hidup al-Ghazali, Jakarta: Bulan Bintang, 1975
Al-Audat, Husain, al-Mar’ah al-Arabiyah fi ad-Din wa al-Mujtama’, Dar al-Ahaly, 1996
Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, Kairo: Muassasah al-Halabi wa Syurakah wa at-Tawzi, 1967
Corbin,Henry, Creative Imagination in the Sufism of Ibn Arabi, terj. Ralph Manheim, Princeton: Princeton University Press, 1969
James Mellart, Catal Huyuk: A Neolithic Town in Anatolia, New York: McGraw- Hill, 1967
Kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita, buku III, Pengantar Teknik Analisa Gender, Jakarta, 1992
Khalil Ibn Aybak Safadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, Beirut: Da>r al-Kutub, tt.
Leila Ahmed, Wanita Dan Gender Dalam Islam; Akar-Akar Histories Perdebatan Modern, terj. M.S. Nasrullah, Jakarta: Lentera Basritama, 2000
Lerner,Gerda, The Creation of Patriarchy, New York: Oxford University Press, 1986
M. Lips,Hilary, Sex and gender an Inroduction, California, London, Toronto,: Mayfield Publishing Company, 1993
Margareth Smith, Rabi’a: The Mystic and Her Fellow-Saints in Islam, Cambridge: Cambridge University Press, 1928
Masyhuri, A. Aziz, Permasalahan Thariqah;Hasil Kesepakatan Muktamar dan Musyawarah Besar Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah Nahdlatul Ulama’ (1957-2005), Surabaya: Khalista, 2006
Nur Cholis Madjid, Khazanah Intelektual Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1984
Oppenheim, A.L., Letters from Meopotamia, Chicago: University Of Chicago Press, 1967
Sholwater,Elaine, Speaking Of Gender, New York & London : Routledge, 1989
Syahrur, Muhammad, Dirasah Islamiyyah al-Mu’ashirah; Nahw Ushul Jadidah Lilfiqh al-Islami; Fiqh al-Mar’ah, Damaskus: Maktabah al-Asd, 2000
——–, Syahrur, Metodologi Studi Islam kontemporer, terj. Sahiron Syamsuddin, Yogyakarta: eLSAQ, 2004
Umar Ridda Kahhalah, A’lam an-Nisa’ ; Fi A’lam al-‘Arab wa al-Islam, Damaskus: al-Mathba’ah al-Hasyimiyyah, 1940
Umar, Nasarudin, Argumen Kesetaraan Gender (Prespektif al-Qur’an), Jakarta: Paramadina, 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: