Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Cara Menghadirkan Hati Dalam Shalat

Posted by almakmun on 15/08/2009

Perlu diketahui, bahwa mengenai khusyu’ ada di antara ulama yang menjadikannya sebagai sifat-sifat hati seperti khawatir dan takut, dan ada di antara mereka yang menjadikannya sebagai perbuatan anggota lahir seperti diam, tidak menoleh dan tidak bermain. Pendapat pertama berlandaskan firman Allah Swt.:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي (طه: 14)
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
Shalat adalah amal ibadah yang pertama kali akan dihisab di hari perhitungan. Sebagaimana sabda nabi Muhammad Saw.,
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ نَصْرِ بْنِ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ حَمَّادٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ قَالَ حَدَّثَنِي قَتَادَةُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ حُرَيْثِ بْنِ قَبِيصَةَ قَالَ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ يَسِّرْ لِي جَلِيسًا صَالِحًا قَالَ فَجَلَسْتُ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فَقُلْتُ إِنِّي سَأَلْتُ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي جَلِيسًا صَالِحًا فَحَدِّثْنِي بِحَدِيثٍ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَنْفَعَنِي بِهِ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ رَوَى بَعْضُ أَصْحَابِ الْحَسَنِ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ حُرَيْثٍ غَيْرَ هَذَا الْحَدِيثِ وَالْمَشْهُورُ هُوَ قَبِيصَةُ بْنُ حُرَيْثٍ وَرُوِي عَنْ أَنَسِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوُ هَذَا
Aku mendengar Rasulullah bersabda ”Sesungguhnya amal yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila Shalatnya baik, maka sungguh orang itu akan bahagia dan berhasil, tetapi jika shalatnya rusak, maka sungguh orang itu akan menyesal dan merugi. Jika sekiranya ada kekurangan dalam shalat fardhunya, Allah akan berfirman kepada malaikat, “Carilah dalam catatannya mungkin hamba-Ku suka mengerjakan shalat sunnah, maka kekurangan dalam shalat fardhunya akan disempurnakan dengan shalat sunnahnya. Kemudian seluruh amal yang lainnya akan dihisab seperti itu juga. (HR. Tirmizi)
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa apabila keluarga Rasulullah ditimpa suatu musibah, maka beliau akan menganjurkan mereka untuk mengerjakan shalat sambil membaca ayat (طه(1)مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْءَانَ لِتَشْقَى(2 demikian pula para Rasul Allah, apabila mereka mendapat kesulitan mereka akan menyibukkan diri dengan shalat.
Allah Swt., berfirman dalam surat al-Baqarah: ayat 45:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ(البقرة: 45(
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`,
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ bermakna jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kamu, dalam arti jadikanlah ketabahan menghadapi segala tantangan bersama dengan shalat, yakni doa dan permohonan kepada Allah Swt., sebagai sarana menghadapi tugas.
وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ (sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu)
Apa yang dimaksud dengan khusyu’? khusyu’ adalah ketenangan hati dan keengganannya mengarah kepada kedurhakaan. Yang dimaksud dengan orang-orang yang khusyu’ oleh ayat ini adalah mereka yang menekan kehendak nafsunya dan membiasakan dirinya menerima dan merasa tenang menghadapi ketentuan Allah serta selalu menghadapkan kesudahan yang baik, ia bukanlah orang yang terperdaya oleh rayuan nafsu.
Menurut Syeich Thahir ibn Asyur, orang-orang khusyu’ yang dimaksud adalah orang-orang yang takut lagi mengarahkan pandangannya kepada kesudahan segala sesuatu sehingga mudah baginya meminta bantuan sabar yang membutuhkan penekanan gejolak nafsu dan mudah juga baginya melaksanakan shalat kendati kewajiban ini mengharuskan disiplin waktu serta kesucian. Padahal boleh jadi pada saat itu ia sedang disibukkan oleh aktivitas yang menghasilkan harta atau kelezatan.
Kekhusyuan dalam shalat menuntut manusia untuk menghadirkan kebesaran dan keagungan Allah, sekaligus kelemahannya sebagai manusia di hadapan-Nya. Puncak khusyu’ adalah ketundukan dan kepatuhan seluruh anggota badan, dalam keadaan pikiran dan bisikan hati secara keseluruhan menuju kehadirat Ilahi.
Ibn Atha’ menyebutkan, bahwa tingkatan-tingkatan orang shalat:
1. الصلاة مع الغفلة yaitu orang yang ketika shalat yang diingat bukan Allah Swt., melainkan ingat selain Allah Swt. shalat ini masuk dalam tingkatan mutlaqusshalat (shalat asal-asalan)
2. الصلاة مع اليقضة yaitu shalat sertane nglilir. Maksudnya adalah ketika shalat orang tersebut kadang ingat Allah Swt., dan terkadang juga ingat selain Allah Swt.,. shalat ini masuk dalam tingkatan mutlaqusshalat (shalat asal-asalan)
3. الصلاة مع الحضور yaitu shalat yang disertai hadirnya hati, ketika shalat yang diingat hanya Allah Swt.,. shalat ini masuk dalam tingkatan iqoomatusshalat/shalat haqiqah (shalat yang sebenarnya.
4. الصلاة مع الغيبة yaitu shalat disertai samar hilang (ketika shalat tidak melihat apapun yang dilihat hanya Allah Swt.
Khusyu’ adalah lebih condong pada ketenangan hati, untuk itu Menurut Abu Hatim al-Ashom, 3 perkara yang mempengaruhi hati menjadi tidak bersih, yaitu:
1. شهوة النظر yaitu keinginan melihat. Masih cakep dan masih cantik an manusia masih aja punya keinginan melihat yang lebih jelek seperti lihat komedi bedes. Kemudian, ada lagi bahwa segala sesuatu yang ditutupi itu adalah jelek, tetapi masih saja ingin melihatnya. Apa itu? Aurat manusia. Khusus untuk yang terakhir ini, ironisnya kebanyakan dari mereka bangga mempertontonkan auratnya.
2. شهوة الكلام yaitu keinginan berbicara. Dalam artian berbicara yang tiada artinya dan tidak ada gunanya.
3. شهوة الطعام yaitu keinginan makan. Makan adalah untuk menjaga dan memenuhi kebutuhan tubuh. Namun demikian tidak jarang dari mereka banyak yang berlebihan dalam makan. “makan untuk hidup atau hidup untuk makan”
Jika kita ingin shalat kita benar-benar tenang dan khusyu’, maka kita perlu memulainya dengan wudhu. Wudhu tidak saja membasuh anggota wudhu dengan air “wudhu lahir”. Melainkan lebih lanjut wudhu juga bermakna wudhu batin, menurut Abu Hatim al-Ashom wudhu batin adalah membasuh hati dengan 7 perkara, yaitu:
1. Membasuh hati dengan taubat
2. Membasuh hati dengan an-Nadamah (الندمة) yaitu merasa menyesal atas dosa-dosa yang pernah dilakukan atau merasa menyesal atas amal-amal yang kurang baik.
3. Dibasuh dengan ترك حب الدنيا yaitu meninggalkan mencintai dunia.
4. Dibasuh dengan ترك سناء الخلق meninggalkan senang dipuji mahluk
5. Dibasuh dengan ترك بالرياسة yaitu meninggalkan senang menjadi pemimpin
6. Dibasuh dengan ترك غلي yaitu meninggalkan senang uneg-uneg jelek
7. Dibasuh dengan ترك الحسد yaitu meninggalkan hasud.
Di sisi lain, menurut Ayatullah Khumaini dalam kitab سر الصلاة : معراج السالكين والصلاة العارفين. dijelaskan bahwa penyebab utama dan satu-satunya kemunculan kesibukan hati adalah cinta dan perhatian terhadap dunia. Jika kepentingan dan perhatian utama seseorang adalah memperoleh dunia dan segala perhiasannya, maka hati secara fitri akan cenderung padanya hingga ia menjadi sibuk dengannya. Karena cinta dunia kalaupun hati berpaling dari salah satu urusan dunia, pasti ia akan beralih pada urusan dunia yang lainnya. Sehingga tiada hentinya dan tiada akhirnya.
Hati laksana burung yang terbang dari satu dahan ke dahan yang lain. Selama pohon angan-angan duniawi ada padanya, burung hati akan bergantung pada dahan-dahannya.
Adapun jika seseorang memotong “pohon” ini dengan riyadhah, mujahaddah dan tafakkur tentang akibat dan aib dunia, serta memperhatikan secara seksama ayat-ayat al-Qur’an, hadis dan keadaan-keadaan para wali Allah Swt., tentu hatinya akan tenang menjadi tenteram, memungkinkan untuk mendapatkan kemenangan dengan memperoleh kesempurnaan mental dan darinya akan terwujud kehadiran hati serta semua tingkatannya. Atau ia akan mendapat kemenangan dengan memperoleh buahnya, sesuai kadar yang dilakukannya dalam pemangkasan pohon tersebut. Bisa jadi seseorang dikategorikan sebagai ahli dunia karena cinta serta ketertarikan hatinya pada dunia dan lupa kepada al-Haqq dan akhirat, meskipun ia tidak memperoleh bagian dari dunia ini. Sebaliknya, ada orang lain yang mungkin memiliki kekuasaan, kedudukan dan harta tetapi ia tidak termasuk ahli dunia. Bahkan ia menjadi insan ilahi dan menusia lahuti seperti Sulaiman bin Daud a.s.
Masih menurut Ayatullah Khumaini Allah Yarham, penting diketahui, bahwa sumber kehadiran hati di dalam suatu perbuatan serta sebab penerimaan dan penghadapan diri terhadap-Nya adalah hati yang menyambut perbuatan itu dengan pengagungan dan menganggapnya sebagai hal yang penting. Sebuah analog.
Jika seorang raja agung memperkenankanmu masuk ke dalam penjamuan akrabnya atau majelis terhormatnya dan ia memuliakan, memperhatikan serta bersikap lembut kepadamu di tengah kehadiran banyak orang, maka hatimu secara otomatis akan hadir di tempat itu secara purna: dengan perhatian penuh mencatat semua hal yang terjadi di majelis itu berikut pembicaraan, gerakan, dan diam sang raja. Hatimu hadir di tempat tersebut dalam semua keadaan dan tidak melupakannya sesaatpun. Karena sang raja memandang maqam ini sangat agung dan penting, demikian pula jadinya di hatimu. Sebaliknya, jika orang yang berbicara kepadamu adalah orang yang tidak penting di hatimu, bahkan ia hina, maka engkau tidak akan menemukan kehadiran hati selama berbicara dengannya sehingga engkau akan lalai terhadap keadaan dan ucapannya. Begitu juga dengan shalat, kalaulah kita menganggap penting munajat kepada al-Haq Sang Pemberi Nikmat, Tuhan Semesta Alam dan Raja di Raja.
Di sisi lain, ada juga cara menghadirkan hati dalam shalat, sebagaimana dalam sebuah riwayat, di dalam kitab Mukasyafatul Qulub karangan imam al-Ghazali, dari Hatim al-Ashom, sesungguhnya ia ditanya mengenai shalatnya. Dia berkata ”Apabila waktu shalat datang, aku lekas menyempurnakan wudhu. Aku datang ke tempat di mana aku akan melakukan shalat, dan aku duduk di sana hingga semua anggota tubuhku menyatu, kemudian barulah aku berdiri shalat. Aku jadikan ka’bah berada di antara hajatku, shirat berada di telapak kakiku, surga disebelah kananku neraka disebelah kiriku, malaikat maut mengintai dibelakangku dan aku menganggap salat ini merupakan salat terakhirku. Kemudian aku berdiri di tengah-tengah raja’ (mengharap rahmat) dan khauf (takut azab) aku membaca takbir dengan takbir yang mantap, membaca dengan tartil, aku ruku’ yang disertai tawadhu’, aku sujud dengan sujud yang khusyu’ aku sertakan rasa ikhlas atas shalatku kemudian aku tidak tahu apakah shalatku diterima atau tidak.
Dengan demikian, mulai dari sekarang marilah kita melaksanakan shalat dengan usaha keras agar shalat kita khusyu’ dan senantiasa mendapatkan ridho Allah SWT.
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ(1)الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ(2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: