Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Archive for February, 2009

Anti Kemapanan

Posted by almakmun on 28/02/2009

Mengutip dari Jaya Setiabudi, Ahli ilmu pengetahuan pernah mencoba memasukkan katak hidup dalam kuali yang berisi air mendidih. Spontan katak itu lompat melebihi batas lompatannya yang wajar. Percobaan kedua dilakukan dengan cara yang berbeda. Kuali berisi air dengan suhu normal, kemudian katak yang lain dimasukkan.

Karena airnya bersuhu normal, katak tersebut tak melakukan perlawanan alias diam saja. Apalagi di dalam kuali tersebut telah berisi enceng gondok dan bunga teratai, seperti layaknya habitat sang katak. Perlahan-lahan suhu kuali dinaikkan dengan menggunakan pemanas listrik. Katak tersebut tidak bergeming, karena ia tidak benar-benar merasakan kenaikkan suhu tersebut. Sampai batas suhu air mendidih, katak tersebut tak melakukan perlawanan dan akhirnya mati. Apa pelajaran dari cerita tersebut?

Bukan hanya kegagalan yang menjadi musuh besar kita, keberhasilan, kemapanan juga musuh terselubung. Seseorang yang gagal, tidak ada pilihan bagi dirinya selain bangkit. Jadi, sangat ‘lumrah’ jika ia fight untuk bangkit dari keterpurukkannya. Namun beda halnya dengan seseorang yang telah mendapatkan keberhasilan, ia memiliki 2 pilihan, untuk menikmati dan terlena, atau membuat target-target pencapaian baru dan siap action lagi. Ambil contoh nyata dalam kehidupan kita, terutama di lingkungan pekerja. Mungkin Anda atau kawan Anda bergabung di suatu perusahaan atau instansi pemerintah yang penuh dengan fasilitas dan proteksi, terutama sebagai pegawai negeri atau BUMN yang nyaris tidak mungkin dipecat. Apa yang mereka rasakan? Kenyamanan karena dimanjakan! Tidak ada salahnya dengan bergabung ke perusahaan seperti itu, bahkan itulah harapan sebagian besar orang. Namun hal itulah yang menjadi salah satu penyebab krisis mental bangsa ini. Kehilangan ‘fighting spirit’! Coba bandingkan Negara tetangga kita Singapura, yang proteksi terhadap karyawan perusahaan lemah. Kawan saya pernah bekerja di perusahaan perminyakan di Singapura, di-PHK dalam 2 kali 24 jam dengan alasan perampingan. Sekilas kita memandang alangkah tidak berperikemanusiaan mereka. Tapi di satu sisi, mereka dipersiapkan untuk waspada setiap saat.

Di dunia pengusaha, penyakit kemapanan juga dapat menghinggapi kita, namanya kehilangan momentum. Mereka yang sukses dalam usahanya, terlena dan meninggalkan pembelajaran. Semangat juang mereka hilang justru pada saat mereka mendapatkan apa yang telah diimpikannya. Tidak menjadi masalah selama usahanya tetap berkembang atau setidaknya stabil. Namun, seperti roda yang berputar, terkadang gejolak mengganggu tidur kita. Seperti saat krisis ini berlangsung, apa yang akan terjadi pada mereka yang ‘tidur’ terlalu lama? Mereka kelabakan mencari jalan keluar dari krisis. Tapi ternyata ‘peta’ yang mereka gunakan sudah usang. Masih untung jika masih punya semangat untuk bertarung lagi, kebanyakan dari mereka sudah ‘kegemukkan’ dan kehilangan ‘momentum’. Bagaimana menghindarinya?

Ciptakan Tantangan

Bagi Anda yang berstatus sebagai karyawan, tantanglah bos Anda untuk memberikan kerjaan lebih atau baru, jika perlu mutasi. Boleh beristirahat dan menikmati pencapaian, tapi jangan lama-lama. Bagi Anda pengusaha yang sudah mapan, buatlah tantangan baru, misalnya dengan membuka cabang, franchise atau diversivikasi usaha. Buatlah otak Anda melar dengan permasalahan baru yang Anda hadapi. Bagi Anda yang belum sukses, berbaik sangkalah kepada Tuhan, berarti Ia sedang melatih diri Anda untuk lebih tangguh. Bukankah manusia yang beruntung adalah yang memanfaatkan waktu untuk selalu bertumbuh?

“Sukses bukanlah pencapaian, namun bertumbuh ke potensi maksimal yang diberikan Allah kepada kita” FIGHT!

Advertisements

Posted in renungan | Leave a Comment »

Jangan Menuntut Upah

Posted by almakmun on 28/02/2009

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Swt., baik dalam keadaan senang, luang, susah ataupun dalam keadaan sempit. Sebab takwa merupakan manifestasi ketaatan seorang hamba kepada Allah. Di samping itu, hendaklah kita dalam beribadah senantiasa dilandasi karena cinta kepada Allah dan ikhlas, tulus senantiasa mengharapkan ridho-Nya. Sebagaimana dalam sebuah riwayat disebutkan: Tsaubah pernah berkata, saya pernah mendengar Rasulullah Saw., bersabda, “Berbahagialah orang yang ikhlas, karena ikhlas adalah cahaya hidayah dan karena disebabkan oleh ikhlas fitnah yang paling kejam akan menjauhinya”
Allah menciptakan jin dan manusia dimuka bumi ini tidak lain dan tidak bukan diberi tugas untuk menyembah Allah sebagaimana Firman Allah:  “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya merka menyembah-KU” (adz-Dzariat 56)
ayat tersebut juga didukung dengan ayat yang lain: “Wahai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa”(al-Baqarah 21)
dari ayat diatas, dapat diketahui bahwa semua orang diperintahkan untuk menyembah Tuhan, namun demikian, siapa Tuhan yang kita sembah? untuk itu, Allah memperkenalkan dirinya sendiri, dan menyebutkan nama-Nya sebagaimana firman Allah:إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي (طه: 14)
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”.(thaha14)
Perlu diketahui, bahwa Setiap hamba memiliki kemampuan dan kemauan dalam beribadah yang berbeda-beda. Ada yang rajin saum Senin-Kamis, ada yang khusyuk dalam salat, ada yang kuat dalam wirid, ada yang jujur dalam berdagang, dan ada pula yang tekun dalam mempelajari ilmu. Tekun dan rajin beribadahnya seorang hamba adalah tanda tingkat ma’rifat kepada-Nya. Banyaknya amal ibadah seorang hamba juga merupakan tanda sifat ihsan dalam dirinya.
Kemudian yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apa motivasi kita semua menyembah Allah? Apakah karena menginginkan surga atau karena takut dengan panasnya api neraka atau karena yang lain?
Mari kita tengok sebentar tuntunan para ahli tasawuf dalam memaknai untuk apa kita ibadah. Ibn Atha’ilah dalam bukunya yang sangat terkenal al-Hikam menjelaskan, Mata Talabta ‘Iwaddhan ‘ala Amalin, Tulibta Biwujudi sh-Shidqi fihi wa yakfilmuriba Wujdanu Salamah (Apabila engkau menuntut upah/pahala atas suatu amal perbuatan, pasti engkau juga akan dituntut adanya siddiq di dalam amal artinya dituntut kesempurnaan dan keikhlasanmu dalam amal perbuatan itu dan bagi orang yang masih ragu-ragu (belum sempurna di dalam amal) harus merasa cukup puas jika ia telah selamat dari siksaan).
Seringkali kita menuntut dan berharap kepada Allah untuk mengabulkan segala permintaan kita. Andaikata kita menuntut upah kepada Allah dari amal kebaikan kita, maka Allah pun akan menuntut kesempurnaan dan keikhlasan dari amal-amal kita. Bila demikian, sanggupkah kita memenuhi tuntutan tersebut? Sungguh berat untuk kita lakukan?
Maka, daripada menuntut Allah memberikan upah dan pahala, lebih baik kita menuntut diri menyempurnakan amal-amal yang kita lakukan. Insya Allah ketika kita bersungguh-sungguh melakukan yang terbaik untuk Allah, maka Allah pun akan memberikan upah terbaik pula bagi kita, tanpa diminta. Jumlahnya pun lebih banyak dari yang kita minta. Sebab, barangsiapa yang bersungguh-sungguh kepada Allah, maka Allah pun akan lebih bersungguh-sungguh kepadanya.
Sebenarnya, diterimanya amal yang kita lakukan saja, sudah merupakan keberuntungan yang teramat besar, walau tanpa disertai upah. Ibnu Atha′ilah kembali menegaskan kembali, Jangan menuntut upah terhadap amal perbuatan yang kau sendiri tidak ikut berbuat, cukup besar balasan (upah) Allah bagimu, jika Allah menerima amal itu.
Di sinilah terjadi perubahan paradigma berpikir. Kebahagiaan kita bukan lagi dari menerima hasil, kebahagiaan kita terletak pada proses menjalankan amal dengan cara terbaik. Maka, daripada sibuk memikirkan pahala shalat, lebih baik kita memikirkan bagaimana agar shalat kita bisa khusyuk, tepat waktu, berjamaah di masjid, dan berada pad shaf terdepan. Daripada memikirkan limpahan rezeki buah dari sedekah, lebih baik kita berpikir bagaimana kita bisa ikhlas bersedekah dan memberikan barang terbaik. Daripada memikirkan dapat memasuki pintu Ar Rayyan di surga, lebih baik kita berpikir dan berusaha melakukan shaum terbaik. Sehingga tidak hanya menahan lapar dan haus saja, tapi juga menahan pancaindra, hati dan pikiran dari yang diharamkan Allah. Demikian seterusnya.
Jika kita beribadah kepada Allah tujuannya menuntut pahala (pembalasan), berarti ibadahnya tersebut hanya masih untuk kepentingan nafsunya sendiri bukan ibadah untuk Allah.
Jama’ah jumu’ah yang berbahagia, Pada dasarnya semua perbuatan amal ibadah, ada imbalan di dunia dan di akhirat. Untuk itu kita semua harus mutayakkinan (meyakini hal itu), sebab allah itu kelumanane jembar. makanya ketika beribadah tidak usah berangan-angan tentang imbalan. Jika dalam ibadah masih angan-angan imbalan, itu namanya kurang percaya kepada allah, masih mencurigai Allah.
Jika kita di dalam beribadah kok angan-angan imbalan, nuntut ganjaran, maka
Nomer satu, berarti ibadahnya hanya untuk kepentingan nafsunya sendiri. Ibadahnya masih belum karena keagungan Allah. Padahal sesungguhnya ibadah kepada Allah itu karena keagungan Allah. Allah pantas disembah, pantas diibadahi sebagaimana ayat di atas.
Nomer dua, menawi kita semua ibadah karena nuntut imbalan, itu pembalasan hanya cukup selamat dari siksa. Selamat dari siksa diakhirat, sedangkan pemberian yang lain belum misalnya amal-amal yang lain yang kita lakukan iklas, kita tidak merasa.
Apa yang membedakan hanya selamat dari siksa dengan adanya imbalan? Mari kita ilustrasikan. Ada kejadian yang sangat berbahaya, semisal bencana tsunami. Si A mendpatkan pertolongan dan selamat dari bahaya tadi, ya hanya selamat saja tidak diberi apa-apa. Adapun si B disamping dia diselamatkan dari bahaya, ia juga diberi pakaian, uang dll, ada tambahannya.
Si B ini merupakan gambaran orang iklas beribadah bukan karena apa-apa, bukan karena nuntut imbalan, bukan karena kepentingan diri sendiri. Semacam ini akan diberi jazak (pembalasan) oleh Allah baik didunia dan akhirat, pembalasan yang sangat agung. Pembalasan diakhirat berupa bidadari, taman, istana dan jazak yang paling agung dan top adalah jazak melihat dzat Allah.
Syeh Al-Wasithi dalam syarah al-Hikam berkata : Al ibadatu ila thalabil afwi anha, aqrabu minha ila thalabil a’wadhi ’alaiha (ibadah-ibadah itu lebih dekat kepada mengharap maaf dan ampun daripada mengharap pahala dan upah). Artinya di dalam ibadah mengandung dua hal. Yaitu dalam ibadah masih mengandung kesembronoan dan kekurangsempurnaan ibadah. contoh shalat, harusnya bacaannya harus tepat, tadabburul ma’na (angan-angan makna) disamping juga mengingat allah (aqimishalat lidzikrillah). Nah kita evaluasi shalat kita. Kadang kita shalat itu bacaannya kurang pas contoh baca tahiya ….tatttt sembrono kan, dll
Oleh karena itu, ibadah shalat kita itu seharusnya lebih dekat untuk minta ampun kepada Allah karena ibadahita banyak sembronone kurang sempurnane dan ditambah lagi riyak tambah maneh kurang iklas, ini yang dinamakan dengan ma’lul (dimasuki penyakit) oleh karena itukita wajib minta ampun. Lha nyambut gawe gak tepak kok nuntut ongkos. Tukang minta ongkos nik gawenane bener. Seng bener yo jaluk ampun bukan minta ongkos.
Oleh sebab itu, Rasulullah, sahabat dan para ulama memberikan tuntunan untuk selalu membaca istighfar ketika selesai shalat andaikata shalat yang kita lakukan tadi masih banyak sembronone dan kurang sempurna.
Sedang di dalam syarah Annashrabadi dijelaskan bahwa ibadah bila diperhatikan kekurangan-kekurangannya lebih dekat kepada mengharap maaf dari pada mengharap pahala dan upah. ”Ya allah tugas saya dari engkau saya laksanakan, namun tidak bisa sempurna, untuk itu saya mohon maaf”. Bukanya malah minta ganjaran, gusti ganjarane pundi.
Allah berfirman yang artinya : Katakanlah hanya karunia dan rahmat allah mereka boleh bergembira sebab itu lebih baik bagi mereka dari segala apa yang dikumpulkan oleh mereka sendiri.
Kita beribadah itu mengumpulkan amal. Amal-amal yang kita kumpulkan dibandingkan dengan fadhal (karunia) dan rahmat Allah, masih jauh lebih besar fadhal dan rahmat Allah.
Untuk itu, setiap kali berdoa hendaklah kita tambah dengan ucapan Ighfirlana ya Allah2x fainna maghfirataka awsa’u min dzunubina warhamna ya Allah 2x fainna rahmataka arjalana min jami’i amalina (Ya Allah, ampunilah kami, ampunilah kami, karena sesungguhnya ampunanmu lebih luas dari dosa-dosa kami. Dan rahmati kami ya Allah, karena sesungguhnya rahmat Mu lebih bisa kami harapkan daripada semua amalan-amalan kami)
Oleh karena itu, dalam beramal jangan sampai kita njagakno amal yang telah kita lakukan, sebab amal kita penuh dengan kesembronoan dan kekurangan, sebaliknya yang kita harapkan adalah minta fadhal dan rahmat Allah. Jika kesembronoan dan kekurangan terjadi tetapi kalau Allah menyayangi kita, maka hal itu tidak jadi masalah.

Posted in Religi | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Pandangan Islam Tentang Bekerja

Posted by almakmun on 27/02/2009

Al-Qur’an adalah mukjizat bagi Nabi Muhammad Saw. Al-Qur’an merupakan petunjuk, pedoman dan pegangan bagi manusia, baik untuk kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat.

Mahluk social, itulah yang melekat dan menjadi icon manusia itu sendiri. Manusia dalam kehidupannya tidak dapat berdiri sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Manusia pastilah mempunyai kebutuhan dasar yang harus mereka penuhi, di antaranya adalah sandang, pangan dan papan. Demi memenuhi kebutuhannya tersebut, tidak mungkin seseorang akan memenuhinya sendiri atau mendapatkannya sendiri, melainkan mereka akan membutuhkan orang lain untuk memenuhinya. Hal ini tercermin dari adanya jual beli atau barter.

Dalam rangka memenuhi kebutuhannya, seseorang haruslah mempunyai uang atau alat barter, dan hal tersebut tidak mungkin didapatkannya melainkan dengan jalan bekerja. Dari sini, maka bekerja merupakan sebuah tuntutan dan lebih dari itu, bekerja merupakan sebuah menifestasi dari keimanan kita. Di mana Islam menganjurkan pemeluknya untuk bekerja.

A. Pengertian Kerja dan Etos Kerja

Dalam pembahasan kali ini, penulis merasa agak bimbang terhadap tema dalam ayat al-Qur’an yang akan dikaji. Hal ini, dikarenakan dalam pembahasan kali ini adalah dengan menggunakan metode maudhu’i. Di mana kita mengumpulkan semua ayat yang berbicara tentang persoalan yang akan dikaji. Akan tetapi, dalam pembahasan kali ini yang dibahas adalah “Bekerja perspektif Islam”.

Di dalam al-Qur’an, kata bekerja secara leterlek tidak diketemukan. Akan tetapi, kemudian penulis mengambil kata bagha yang bermakna mencari (dalam pengertian lanjutan bermakna mencari karunia Allah SWT. / bekerja). Selain itu juga menggunakan sebagian dari kata ‘amala. Diambil sebagian karena kata ‘amala dalam al-Qur’an lebih condong mengarah kepada suatu amal perbuatan yang berkaitan dengan akhirat.

Kerja bermakna suatu perbuatan melakukan sesuatu yang dilakukan (diperbuat). Sedangkan etos kerja terdiri dari dua kata, yaitu kata etos dan kerja. Etos bermakna semangat, jiwa-jiwa dan pandangan hidup khas suatu bangsa.

Dari pengertian di atas, maka dapat diketahui bahwa Etos kerja muslim adalah suatu cara pandang yang diyakini seorang muslim, bahwa bekerja itu bukan saja untuk memuliakan dirinya, menampakkan kemanusiaannya, tetapi juga sebagai suatu manivestasi dari amal shaleh dan oleh karenanya mempunyai nilai ibadah yang sangat luhur.

Apa Yang Dimaksud Dengan Bekerja?

Jika kita melihat diseluruh penjuru, maka kita akan menyaksikan begitu banyak orang yang bekerja, mereka melakukan aktivitas, tetapi lihatlah bahwa dalam setiap aktivitasnya itu ada sesuatu yang dikejar, ada tujuan serta usaha (ikhtiar) yang sangat sungguh-sungguh untuk mewujudkan aktivitasnya mempunyai arti.

Namun demikian, dalam pandangan Toto Tasmara, tidaklah semua aktivitas manusia dapat dikategorikan sebagai bentuk pekerjaan. Karena di dalam makna pekerjaan terkandung tiga aspek yang harus dipenuhinya secara nalar, yaitu:

Ø Bahwa aktivitasnya dilakukan karena ada tanggung jawab.

Ø Bahwa apa yang dilakukannya tersebut dilakukan karena ada kesengajaan, sesuatu yang direncanakan, karenanya terkandung di dalamnya suatu gabungan antara rasa dan rasio.

Ø Bahwa apa yang dilakukan itu dikarenakan adanya sesuatu arah dan tujuan yang luhur (aim, goal) yang secara dinamis memberikan makna bagi dirinya, bukan ghanya sekedar kepuasan biologis statis.

Di sisi lain, makna bekerja bagi seorang muslim adalah suatu upaya yang sungguh-sungguh, dengan mengerahkan seluruh aset, fikir dan dzikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah SWT. yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik, atau dengan kata lain bahwa hanya dengan bekerja manusia dapat memanusiakan dirinya.

Manusia sebagai mahluk Allah SWT. yang paling mulia di antara mahluk-mahluk-Nya. Dengan demikian, maka sangat wajar jika manusia diberi amanah menjadi khalifah dimuka bumi untuk mengatur, megelola dan memakmurkan jagat raya ini. Untuk menjalankan tugasnya itu dengan baik, Allah SWT. memberikan dan melengkapi berbagai fasilitas subyektif dan obyektif untuk bekerja.

B. Bekerja Dalam Anjuran Al-Qur’an

Dalam pembahasan kali ini ayat-ayat al-Qur’an yang digunakan adalah: Berdasarkan kata ‘amala, terdapat beberapa ayat yang ada di dalam surat: an-Nisa>’: 32, Yunus: 67, an-Naml: 86, al-Qas}as}: 72 dan 73, Saba’: 10, 11, 12, 13, Ya>sin: 33, 34, 35 dan Jumu’ah: 10. Sedangkan yang memakai kata bagha yang terdapat dalam surat: al-Qashas ayat 73 dan 77, Jumu’ah: 10, al-Isra>’: 12 dan 66, al-Ja>s}iyah: 12, an-Nah}l: 14, fat}ir: 12 sedangkan yang memakai redaksi amala adalah surat kahfi: 79. di samping itu juga memakai surat an-Nasrah}: 7 dan Saba’: 15

Dalam al-Qur’an terdapat perintah untuk mencari karunia Allah SWT. yang ada di bumi, yaitu:

وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah SWT. kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah SWT. telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah SWT. tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Qs. Al-Qashas: 77)

Kalimat وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا (janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`kmatan) duniawi), dalam tafsir Ibn Katsir, bermakna manusia tidak boleh melupakan kehidupan duniawinya, di mana manusia membutuhkan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan nikah yang semuanya itu tidak dilarang oleh Allah SWT. Selain itu, bahwa sesungguhnya manusia itu dalam hubungannya dengan Tuhannya mempunyai kewajiban (hak Allah SWT. untuk disembah) dan dalam diri manusia juga mempunyai hak, keluarganya mempunyai hak, tetangganya juga mempunyai hak, maka penuhilah semua hak tersebut. Sedangkan dalam Tafsi>r ath-Thabari, kata tersebut bermakna manusia harus mencari rizqi Allah yang ada di dunia demi kehidupan mereka di dunia dan juga bermakna bahwa kehidupan dunia merupakan sarana untuk beribadah dan taat kepada Allah untuk kehidupan di akhirat nanti.

Ayat tersebut laksana percikan air syurgawi yang membasuh wajah umat Islam, untuk tampil sebagai seorang pekerja keras dan berprestasi. Di mana untuk menggapai keberuntungan hidup tidaklah hanya cukup tenggelam dalam masalah ibadah formal atau lainnya. Akan tetapi, hendaknya dimanifestasikan dalam ibadah aktual. Di samping itu, ayat tersebut memberikan suatu penegasan, bahwa Allah SWT. menciptakan manusia di muka bumi ini untuk beribadah kepada kepada-Nya. Akan tetapi, dalam rangkaian ibadah tersebut kita dilarang melupakan kehidupan dunia, dimana manusia membutuhkan makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan lain sebagaianya. Untuk merealisasikan kebutuhan tersebut, maka manusia diperintahkan untuk bekerja dengan giat, karena harta kekayaan tidak akan datang sendiri di hadapan manusia.

Ayat di atas juga didukung oleh hadis nabi Muhammad Saw.,:

إحرث لدنياك كأنك تعيث أبدا, واعمل لأخرتك كأنك تموت غدا.

Dari sini, dapat diketahui bahwa bekerja merupakan pokok dari kehidupan. Yang mana kita ketahui bersama bahwa Rasulullah juga bekerja, di masa kecilnya beliau menggembala domba dan ketika remaja dia bekerja sebagai saudagar, hal ini menunjukkan betapa pentingnya pekerjaan tersebut. Di samping itu, Rasulullah juga mencela orang yang meminta-minta dan tidak mau berusaha atau bekerja, sebagaimana sabda beliau:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ مَوْلَى عَبْدِالرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

Dari Abi ‘Ubaid Maula Abdi ar-Rahman bin Auf, bahwasanya dia mendengar Abu Bakar r.a. berkata, Rasulullah Saw., telah bersabda, “Andainya seseorang mencari kayu bakar dan dipikulkan di atas punggungnya, hal itu lebih baik daripada kalau dia meminta-minta pada seseorang yang kadang-kadang ia diberi dan kadang ia ditolak.” (HR. Bukhari)

Dari sini, dapat kita ketahui betapa orang yang bekerja adalah mulia sekali dan merupakan hinaan dan celaan bagi orang yang tidak bekerja dan bahkan sampai meminta-minta.

Di sisi lain ayat tersebut di atas, didukung oleh ayat lain dalam surat al-Jumu’ah: 10, yaitu:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah SWT. dan ingatlah Allah SWT. banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Qs. Al-Jumu’ah: 10)

ِ فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْض (Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi), di dalam kitab tafsir al-Ja>mi’ li Ah}ka>mi al-Qur’an karangan imam al-Qurthubi, ayat ini merupakan perintah mubah, yang bermakna jika kalian merasa waktunya luang setelah shalat Jumu’ah, maka bertebaranlah di muka bumi untuk berdagang, beraktivitas sesuai dengan kepentingannya.

وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ (carilah karunia Allah SWT. ), bermakna rizqi dari Allah SWT. Ayat di atas menunjukkan perintah mubah. Dalam pengertian, manusia setelah selesai melakukan shalat Jumu’ah bagi yang mempunyai aktivitas, maka aktivitasnya dilanjutkan dan bagi yang tidak mempunyai aktivitas, maka boleh berdiam diri di masjid untuk berdzikir.

Adapun ayat lain yang menjelaskan tentang anjuran manusia untuk mencari karunia Allah SWT. yang ada di laut adalah:

رَبُّكُمُ الَّذِي يُزْجِي لَكُمُ الْفُلْكَ فِي الْبَحْرِ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Tuhan-mu adalah yang melayarkan kapal-Kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadapmu.(Qs. Al-Isra’: 66)

Ayat di atas didukung oleh ayat al-Qur’an yang lain, yaitu:

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; mudah-mudahan kamu bersyukur. (Qs. Ar-Ru>m: 46)

اللَّهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Allah SWT.lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. (Qs. Al-Ja>thiyah: 12)

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Dia-lah, Allah SWT. yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.(Qs. An-Nah}l: 14)

وَمَا يَسْتَوِي الْبَحْرَانِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ سَائِغٌ شَرَابُهُ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَمِنْ كُلٍّ تَأْكُلُونَ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُونَ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ فِيهِ مَوَاخِرَ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur. (Qs. Fa>t}ir: 12)

Ayat-ayat tersebut di atas, merupakan gambaran dan juga informasi tentang kelautan. Yang mana, Allah SWT.-lah yang telah menundukkan angin (dalam pengertian mengatur kecepatan angin) agar memudahkan perjalanan kapal-kapal, sehingga ada angin yang setiap musim mendorong kapal-kapal itu dapat berlabuh pada tujuannya dan begitu juga ketika kapal-kapal mereka kembali.

Dari ayat tersebut di atas, memberikan gambaran bahwa Allah SWT. memberikan karunia-Nya yang ada di laut baik berupa ikan-ikan segar untuk di makan dan atau juga mutiara yang digunakan perhiasan. Di samping untuk dimakan dan perhiasan, ikan-ikan segar dan mutiara tersebut dapat diperjual belikan yang nantinya akan menghasilkan uang demi memenuhi kebutuhan hidup yang lainnya. Dengan demikian, bagi siapa saja yang menginginkannya, maka ia harus berusaha dan bekerja sendiri untuk mengambilnya di lautan, atau dapat membelinya dengan menggunakan alat pembayaran yang syah dan atau barter.

Lebih lanjut Allah SWT. SWT. menegaskan:

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. (Qs. Al-Kahfi: 79)

Menurut Ibnu Al-Arabi, yang dinamakan miskin adalah orang yang tidak mempunyai sesuatu. Sedangkan dalam pengertian lain bahwa miskin itu kondisinya lebih baik dari fakir (hal ini berdasar pada surat al-Bara’ah).

Untuk selanjutnya, Allah SWT. memberikan tanda-tanda dari kekuasaan-Nya, bahwa Dia menjadikan malam sebagai waktu bagi manusia untuk istirahat dan di waktu siang hari digunakan untuk bekerja. Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT.:

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ءَايَتَيْنِ فَمَحَوْنَا ءَايَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا ءَايَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا

Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas. (Qs. Al-Isra>’: 12)

وَمِنْ ءَايَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan. (Qs. Ar-Ru>m: 23)

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (Qs. Al-Qashash: 73)

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar. (QS. Yunus: 67)

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.

Ayat-ayat tersebut di atas, memberikan suatu gambaran tentang waktu-waktu dalam bekerja. Di mana kita ketahui bersama, lazimnya pekerjaan yang dilakukan di masa dahulu (masa nabi Muhammad Saw.) adalah berupa perniagaan, perkebunan dan peternakan yang lazimnya dilakukan diwaktu siang dan diwaktu malam hari digunakan istirahat. Namun demikian, ayat tersebut juga tidak secara keseluruhan menetapkan siang hari sebagai waktu bekerja dan malam hari sebagai waktu istirahat, karena kita ketahui bersama, bahwa profesi seorang nelayan yang lazimnya mencari ikan di waktu malam hari dan pagi hari mereka kembali dengan membawa ikan tangkapannya begitu juga dengan orang yang berprofesi sebagai security yang terkena piket di malam hari.

Dalam rangka menjalankan pekerjaan, maka orang yang akan melaksanakan pekerjaan tersebut hendaknya orang yang mempunyai kekuatan dan sifat amanah, sebagaimana Firman Allah SWT. SWT.:

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَاأَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ(26)قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ (27)

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.Berkatalah dia (Syu`aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah SWT. akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik” . (Qs. al-Qashah: 26-27)

Ayat ke 26 di atas, dipertegas dengan hadis nabi Muhammad Saw, :

المؤمن القوي خير وأحب الى الله من المؤمن الضعيف.

Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah SWT. daripada mukmin yang lemah.

Ayat ke 26 dan hadis Nabi Saw., di atas merupakan ayat yang menggambarkan, bahwa sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau pekerjakan untuk tugas apapun adalah orang yang kuat fisik dan mentalnya lagi terpercaya. Maka dari sini tidak heran jika Ibnu Taymiyah dalam karyanya as-Siyasah as-Syar’iyah kemudian merujuk ayat ini sebagai bahan acuan dalam menentukan syarat orang yang hendak memegang jabatan. Begitu juga dengan para penguasa Mesir ketika memilih dan mengangkat nabi Yusuf as., sebagai kepala badan logistik negeri itu, sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur’an:

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ

Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku”. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang kuat lagi dipercaya pada sisi kami“. (Qs. Yu>suf: 54)

Kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan dalam berbagai bidang. Karena itu, terlebih dahulu harus dilihat bidang apa yang akan ditugaskan kepada yang dipilih. Sedangkan Kepercayaan adalah integritas pribadi, yang menuntut adanya sifat amanah, sehingga tidak merasa bahwa apa yang ada di dalam genggamannya merupakan milik pribadi, tetapi milik pemberi amanat yang harus dipelihara dan jika diminta kembali, maka harus dengan lapang dada mengembalikannya.

Perumpamaan Negeri Yang Makmur Dalam al-Qur’an.

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.

Ayat di atas, memberikan gambaran tentang negeri Saba’ yang merupakan idaman semua negara di mana yang terkenal dengan istilah بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ . negeri tersebut mempunyai tanah yang berair (subur), tidak ada nyamuk, kalajengking, ular serta mempunyai udara yang segar. Bisa dikatakan sebagai negeri yang terbebas dari binatang berbisa yang dapat membahayakan jiwa manusia, mempunyai tanah yang subur yang dapat menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan dan negeri yang diberkahi oleh Allah.

Dengan kondisi tanah yang subur, manusia diperintahkan untuk mencari karunia Allah dengan menanam tanaman untuk dirinya, sebagaimana Firman Allah:

لِيَأْكُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ أَفَلَا يَشْكُرُونَ

Supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? (Qs. Yasin: 35)

لِيَأْكُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ bermakna buah-buahan yang lazimnya berada di Arab yakni kurma, sedangkan di daerah lain bisa saja berarti beraneka macam buah-buahan. Sedangkan kata وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ bermakna apa nyang dilakukan manusia, yaitu bercocok tanam. Akan tetapi, jika kita sudah mendapatkan karunia Allah kita tidak boleh ingkar terhadap nikmat-Nya, akan tetapi kita harus banyak beribadah sebagai manifestasi dari syukur kita kepada Allah.

C. Analisis

Manusia tidak bisa dilepaskan dari pekerjaan. Manusia diciptakan oleh Allah SWT. bukan hanya sebagai hiasan pekerjaan, akan tetapi juga sebagai suatu ciptaan yang diberi tugas, dan salah satu tugasnya adalah memelihara ciptaan ini dengan pekerjaannya. Dengan demikian, kerja merupakan tugas Ilahi, yang mengandung kewajiban dan hak.

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (*) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (Qs. Al-Inshirah: 7-8)

Beberapa ulama berbeda pendapat tentang ayat ini, di mana ada yang mengartikan, bahwa jika kita selesai melaksanakan ibadah shalat lima waktu, maka segera kita ikuti dengan berdoa. Sedangkan menurut sebagian ulama lain, bahwa jika kita selesai melaksanakan urusan keduniaan, maka kita berpaling untuk beribadah kepada Allah. Menurut Ibnu Abbas dan Qatadah, bahwa jika kita selesai melaksanakan shalat, maka kemudian kita ikuti dengan berdoa memanjatkan apa yang menjadi hajat kita. Di samping itu, ayat ini juga menandakan perintah manusia untuk berusaha dahulu setelah itu baru menyerahkan urusan tersebut kepada Allah.

Manusia adalah mahluk kerja, seperti halnya hewan yang juga bekerja dengan gayanya sendiri. Hewan bekerja semata-mata berdasarkan naluriah, di dalamnya tidak ada etos, kode etik dan tidak menggunakan akal. Akan tetapi, manusia bekerja berdasarkan konsep, keinginan, etos dan pendayagunaan akal untuk meringankan beban tenaga manusia yang terbatas, namun mampu meraih prestasi yang setinggi mungkin.

Bekerja merupakan fitrah dan sekaligus merupakan salah satu identitas manusia, sehingga bekerja yang didasarkan pada prinsip-prinsip iman, bukan saja menunjukkan fitrah seorang muslim, tetapi sekaligus meninggikan martabat dirinya sebagai hamba Allah SWT. yang mengelola seluruh alam sebagai bentuk dari cara dirinya mensyukuri kenikmatan dari Allah SWT. Disamping itu, bekerja adalah segala aktivitas dinamis, artinya bahwa seluruh kegiatan yang dilakukan seorang muslim harus penuh dengan tantangan (challenging) tidak monoton, dan selalu berupaya untuk mencari terobosan-terobosan baru dan tidak pernah merasa puas dalam berbuat kebaikan.

Semua usaha dan aktivitas seorang mukmin, baik yang bercorak duniawi ataupun ukhrawi pada hakekatnya adalah bermuara pada satu titik tumpuan falsafah seorang muslim, yaitu keridhaan Allah SWT.

Manusia hidup di dunia ini mempunyai sejumlah kebutuhan yang bermacam-macam yang kesemuanya secara rinci terbagi menjadi tiga, yaitu kebutuhan pokok (primer), sekunder dan tambahan (tersier). Akan tetapi, dari urutan kebutuhan tersebut, kebutuhan primerlah yang paling mendesak dan tidak boleh diabaikan, sedangkan kebutuhan kedua dan ketiga masih dapat diabaikan.

Ajaran Islam menyuruh manusia untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan sebaiknya tidak melarang naluri secara paksa. Islam menyuruh makan dan minum yang halal, bersih dan sehat. Islam memerintahkan menutup aurat dengan menikmati pakaian yang diturunkan Allah SWT. Selanjutnya Allah SWT. memberi kepandaian dan kecakapan kepada manusia melindungi dirinya ketika istirahat dengan membuat rumah.

Untuk mewujudkan semua itu, makan, minum, pakaian dan tempat tinggal mesti dengan ikhtiar dan rajin bekerja. Bekerja mencari fadhilah karunia Allah SWT., mendongkrak kemiskinan, memperbaiki taraf hidup dan martabat serta harga diri adalah merupakan nilai ibadah yang esensial, karena kita harus ingat sabda nabi Muhammad Saw.,: “Kemiskinan itu sesungguhnya lebih mendekati kepada kekufuran”. Lebih lanjut, Nabi dalam doanya meminta agar dijauhkan dari sifat malas dan fitnah kemiskinan, doa tersebut adalah:

حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَالْهَرَمِ وَالْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْفَقْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ عَنِّي خَطَايَايَ بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّ قَلْبِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَبَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ (رواه البخاري)

Dari doa tersebut, maka dapat kita ketahui bahwa begitu bahanya sifat malas dan miskin. Karena orang yang malas tidak akan mampu berkreasi dan hanya dapat menjadi hamba-hamba yang penuh dengan angan-angan kosong dan lebih menghawatirkan lagi bahwa orang yang pemalas dan tidak mau bekerja dipandang masyarakat sebagai sampah yang tak berguna, padahal menurut hadis nabi Saw., bahwa “Sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi yang lainnya”.

Di dalam memenuhi kebutuhan tersebut orang yang paling baik adalah orang yang memenuhi kebutuhannya dengan kerja keras dan tidak meminta-minta, sebagaimana hadis nabi Muhammad Saw.,:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ ثَوْرٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنِ الْمِقْدَامِ رَضِي اللَّهم عَنْهم عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ (رواه البخاري)

Diriwayatkan oeh Ibrahim bin Musa ……… dari Khalid bin Mi’dan dari Miqdam r.a. Dari Rasulullah Saw., belaiu bersabda, “Tidak seorang pun memakan satu makanan yang lebih baik dari apa yang ia makan dari hasil kerja tanganya sendiri, dan sesungguhnya nabi Daud itu makan dari hasil kerjanya sendiri”.

حَدَّثَنَا عَبْدُاللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَحْتَطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَأْتِيَ رَجُلًا فَيَسْأَلَهُ أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَه ُ)رواه البخاري)

Dari abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah Saw., bersabda, “Demi Allah SWT., apabila seseorang di antara kamu menyiapkan talinya, lalu datang membawa segulungan kayu bakar di atas punggungnya itu lebih baik baginya daripada ia mendatangi seorang laki-laki dan meminta-minta kepadanya sehingga ia diberi atau tidak. (HR. Bukhari)

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُبَيْدِاللَّهِ بْنِ أَبِي جَعْفَرٍ قَالَ سَمِعْتُ حَمْزَةَ بْنَ عَبْدِاللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَاللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ وَقَالَ إِنَّ الشَّمْسَ تَدْنُو يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَبْلُغَ الْعَرَقُ نِصْفَ الْأُذُنِ فَبَيْنَا هُمْ كَذَلِكَ اسْتَغَاثُوا بِآدَمَ ثُمَّ بِمُوسَى ثُمَّ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَزَادَ عَبْدُاللَّهِ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي جَعْفَرٍ فَيَشْفَعُ لِيُقْضَى بَيْنَ الْخَلْقِ فَيَمْشِي حَتَّى يَأْخُذَ بِحَلْقَةِ الْبَابِ فَيَوْمَئِذٍ يَبْعَثُهُ اللَّهُ مَقَامًا مَحْمُودًا يَحْمَدُهُ أَهْلُ الْجَمْعِ كُلُّهُمْ وَقَالَ مُعَلًّى حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ رَاشِدٍ عَنْ عَبْدِاللَّهِ بْنِ مُسْلِمٍ أَخِي الزُّهْرِيِّ عَنْ حَمْزَةَ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْأَلَةِ *

Dari Ubaidillah bin Abi Ja’far berkata: Aku mendengar Hamzah bin Umar dia berkata, aku mendengar Abdullah bin Umar r.a. berkata, Nabi Muhammad bersabda, “Orang yang senantiasa (di dunia ini) meminta-minta kepada sesamanya, maka di hari kemudian nanti ia datang (bangkit) dengan tidak memiliki daging sama sekali…. (HR. Bukhari)

Lebih dari itu, bagi seorang muslim tidaklah cukup mengenal fenomena alam, tetapi dia ingin berbuat sesuatu untuk mengolah alam yang diyakininya sebagai amanah dan rahmat Allah SWT. Itulah sebabnya, cara pandang seorang muslim dalam melaksanakan suatu pekerjaan harus didasarkan pada tiga dimensi kesadaran, yaitu:

Ø Aku tahu (ma’rifat, ‘alamat, epistemology)

Ø Aku berharap (hakikat, ilmu, religiositas)

Ø Aku berbuat (Syari’at, amal, etis)

Dimensi tersebut harus dihayati oleh setiap subyek pelaku kerja, sehingga dia mampu mengambil posisi yang jelas dari pekerjaan serta nilai lebih (added value) yang akan dia peroleh dari pekerjaannya tersebut.

Dimensi ma’rifat, didasarkan pada kemampuan seseorang untuk memahami tanda-tanda yang ditebarkan Allah SWT., dalam alam semesta ini. Karena hanya orang yang mampu menerjemahkan tanda-tanda alam itulah yang akan mampu tampil sebagai innovator, melalui berbagai hipotesis keilmuannya.

Selanjutnya tiga perangkat tersebut dirangkum dalam suatu kemasan yang padu dan kokoh dalam bentuk amaliah yang kemudian melahirkan kesejahteraan bagi alam sekitarnya (rahmatan lil alamin).

Dengan demikian, tampaklah bahwa bekerja dan kesadaran bekerja mempunyai dua dimensi yang berbeda menurut takaran seorang muslim, yaitu bahwa makna dan hakekat bekerja adalah fitrah manusia yang secara niscaya, sudah seharusnya demikian (conditio sine quanon). Manusia dapat memanusiakan dirinya dengan bekerja.

Sedangkan kesadaran bekerja akan melahirkan suatu improvements untuk meraih nilai yang lebih bermakna, dia mampu menuangkan idenya dalam bentuk perencanaan, tindakan serta melakukan penilaian dan analisa tentang sebab dan akibat dari aktivitas yang dilakukannya (managerial aspect).

Dengan cara pandang seperti ini, sadarlah bahwa setiap muslim tidaklah akan bekerja hanya sekedar untuk bekerja; asal mendapat gaji, dapat surat pengangkatan atau hanya sekadar menjaga gengsi agar tidak di masukkan ke dalam golongan pengangguran. Karena kesadaran bekerja secara produktif serta dilandasi semangat tauhid dan tanggung jawab uluhiyah merupakan salah satu ciri khas dari karakter seorang muslim.

Hiduplah Dengan Cita-Cita

Salah satu perbedaan yang paling esensial antara manusia dengan binatang adalah ada tidaknya cita-cita atau idealisme. Sebuah kalimat bijak mengatakan “manusia tanpa cita-cita imani, tidak lebih dari seonggok daging dan tulang tanpa enerji”.

Apabila seseorang mempunyai keinginan dan dikejawantahkan dalam bentuk kerja nyata, maka berubahlah keinginan itu menjadi cita-cita.

Sebaliknya, jika keinginan hanya sekedar angan-angan, maka jadilah keinginan itu sebagai impian dan jadilah dia sebagai si penghayal-penghayal kelas teri.

Kita boleh bermimpi tetapi lebih dari itu, jadikan mimpi menjadi kenyataan dengan mengerahkan semua potensi. Apalagi dengan sangat jelas bahwa Allah SWT. tidak akan mengubah suatu kaum selama kaum itu tidak mau mengubah dirinya sendiri, sebagaimana Firman Allah SWT.:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah SWT. tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Qs. Ar-Ra’d: 11. lihat juga dalam surat al-Anfal: 53)

Intinya harus tertanam dalam keyakinan kita bersama, bahwa bekerja itu adalah amanah Allah SWT., sehingga ada semacam sikap mental pada diri setiap pribadi muslim, bahwa:

Ø Karena bekerja adalah amanah, maka ia akan bekerja dengan kerinduan dan tujuan agar pekerjaannya tersebut menghasilkan tingkat hasil yang seoptimal mungkin.

Ø Ada semacam kebahagiaan melaksanakan pekerjaan, dengan artian dia telah melaksanakan amanah Allah SWT..

Ø Tumbuh kreativitas untuk mengembangkan dan memperkaya dan memperluas (job enrichment and job enlargement), karena dirinya merasa bahwa dengan mengembangkan pekerjaanya maka akan tumbuh berbagai kegiatan dan tangtangan yang berarti menunjukkan bertambahnya amanah Allah SWT. kepada dirinya.

Ø Ada semacam malu hati jika pekerjaannya tidak ia laksanakan dengan baik, karena hal ini berarti sebuah penghianatan terhadap Allah SWT.

Posted in Religi | Leave a Comment »