Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Archive for March 3rd, 2009

Seputar Qadha Shalat

Posted by almakmun on 03/03/2009

Pendahuluan

Masalah qadha’ shalat menimbulkan perdebatan di antara kita. Hal ini dikarenakan ketidakjelasan pengertian tentang qadha’ shalat itu sendiri, sehingga ada sebagian yang berpendapat bahwa qadha’ shalat adalah shalat yang dilakukan pada waktu yang sama ketika shalat tersebut sengaja tidak dilakukan pada masa sebelumnya, sehingga banyak juga orang yang tidak shalat pada masa mudanya, kemudian ia mengqadha’nya pada masa tuanya. Sedangkan jika kita melihat hadis dan praktek Rasulullah Saw., hal tersebut tidak ditemukan dasarnya.

Oleh karena itu, qadha’ shalat seharusnya diartikan dengan melaksanakan shalat di luar waktunya karena ketiduran atau lupa. Sebagaimana hadis shahih yang menjelaskan bahwa siapa yang tidak melasanakan shalat sesuai waktunya disebabkan tertidur atau lupa, maka hendaklah ia shalat ketika terbangun atau ingat. Hal ini dijelaskan di dalam shahih Muslim bab al-Masajid wa al-Mawdhi’ as-Shalat, no. 1103:

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَسِيَ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

Dari Muhammad bin al-Muthanna dari Abd al-A’la dari Sa’id dari Qotadah dari Anas bin Malik berkata bahwa Nabi Saw., bersabda: “Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur, maka tebusannya adalah shalat ketika terbangun dari tidur dan dia ingat.”

B. Sebab-sebab qadha shalat

Sebab-sebab yang memperbolehkan qadha’ shalat adalah:

1. Sebab lupa

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., yang menyatakan bahwa siapa yang lupa shalat hendaknya shalat kapan saja ketika dia ingat. Hal ini dijelaskan di dalam shahih Bukhari bab Mawaqit as-Shalat, no. 562:

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ وَمُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَا حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ وَأَقِمْ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي قَالَ مُوسَى قَالَ هَمَّامٌ سَمِعْتُهُ يَقُولُ بَعْدُ وَأَقِمْ الصَّلَاةَ للذِّكْرَى قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ وَقَالَ حَبَّانُ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ حَدَّثَنَا أَنَسٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ

Dari Abu Nu’aim dan Musa bin Ismail keduanya dari Hammad dari Qatadah dari Anas bin Malik dari Nabi Saw., bersabda: “Barangsiapa yang terlupa shalat, maka hendaknya shalat ketika ia ingat dan tidak ada tebusan kecuali melaksanakan shalat tersebut dan dirikanlah shalat untuk mengingat Allah Swt.,”

Selain itu, terdapat penjelasan bahwa ketika terjadi perang khandaq, Umar bin Khatab tidak melaksanakan shalat asar dan teringat ketika matahari telah terbenam, maka Rasulullah Saw., memerintahkannya untuk mengambil air wudhu dan shalat asar pada waktu maghrib sebelum shalat maghrib. Hal ini dijelaskan dalam shahih Bukhari bab Mawaqit as-Shalat, no. 561:

حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ فَضَالَةَ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ جَاءَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ بَعْدَ مَا غَرَبَتْ الشَّمْسُ فَجَعَلَ يَسُبُّ كُفَّارَ قُرَيْشٍ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كِدْتُ أُصَلِّي الْعَصْرَ حَتَّى كَادَتْ الشَّمْسُ تَغْرُبُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ مَا صَلَّيْتُهَا فَقُمْنَا إِلَى بُطْحَانَ فَتَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ وَتَوَضَّأْنَا لَهَا فَصَلَّى الْعَصْرَ بَعْدَ مَا غَرَبَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهَا الْمَغْرِبَ

Dari Muhammad Saw.,’adz bin Fudhalah dari Hisyam dari Yahya dari Abi Salamah dari Jabir bin Abdillah bahwa Umar bin al-Khattab ingat sebelum shalat asar ketika perang khandaq hingga saat matahari terbenam karena memerangi kafir Quraisy, maka ia bertanya kepada Rasulullah Saw., saya tidak shalat asar sehingga matahari terbenam, maka Nabi Saw., bersabda: “Sungguh aku tidak shalat sampai di Buthan, maka berwudhulah untuk shalat, maka kami semua wudhu dan shalat asar setelah matahari terbenam, kemudian setelah itu shalat maghrib

2. Sebab tertidur

Sebagaimana pada saat bepergian, Rasulullah Saw., dan rombongan tidur di tengah malam, kemudian bangun paginya sesudah matahari terbit, maka Rasulullah Saw., menyuruh Bilal mengumandangkan azan dan wudhu untuk melaksanakan shalat shubuh. Hal ini dijelaskan di dalam Shahih Bukhari bab Mawaqit as-Shalat, no. 560:

حَدَّثَنَا عِمْرَانُ بْنُ مَيْسَرَةَ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ قَالَ حَدَّثَنَا حُصَيْنٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سِرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ لَوْ عَرَّسْتَ بِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَخَافُ أَنْ تَنَامُوا عَنْ الصَّلَاةِ قَالَ بِلَالٌ أَنَا أُوقِظُكُمْ فَاضْطَجَعُوا وَأَسْنَدَ بِلَالٌ ظَهْرَهُ إِلَى رَاحِلَتِهِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ فَنَامَ فَاسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ طَلَعَ حَاجِبُ الشَّمْسِ فَقَالَ يَا بِلَالُ أَيْنَ مَا قُلْتَ قَالَ مَا أُلْقِيَتْ عَلَيَّ نَوْمَةٌ مِثْلُهَا قَطُّ قَالَ إِنَّ اللَّهَ قَبَضَ أَرْوَاحَكُمْ حِينَ شَاءَ وَرَدَّهَا عَلَيْكُمْ حِينَ شَاءَ يَا بِلَالُ قُمْ فَأَذِّنْ بِالنَّاسِ بِالصَّلَاةِ فَتَوَضَّأَ فَلَمَّا ارْتَفَعَتْ الشَّمْسُ وَابْيَاضَّتْ قَامَ فَصَلَّى

Dari ‘Imran bin Maysarah dari Muhammad bin Fudhail dari Hushain dari Abdillah bin Abi Qatadah dari bapaknya berkata, bahwa ia berjalan malam bersama Nabi Saw., kemudian salah seorang dari kami berkata: jika engkau yang Rasulullah istirahat bersama kami, maka kami khawatir engkau tertidur, maka Bilal berkata: aku yang akan membangunkan kalian semua, maka Bilal menyandarkan punggungnya dan tertidur, kemudian Rasulullah Saw., bangun dari tidurnya saat matahari sudah terbit, maka ia berkata kepada Bilal bagaimana janjimu? Maka Bilal menjawab, sungguh aku tidak pernah tertidur seperti malam ini. Maka Rasulullah Saw., bersabda: “Sungguh Allah Swt., menahan nyawamu dan akan mengembalikannya atas kehendak-Nya, kemudian berkata kepada Bilal: kumandangkan azan dan berwudhulah, maka shalat ketika matahari sudah mengeluarkan sinarnya.”

Di sisi lain, terdapat hadis dhaif (lemah) karena ditemukan perawi yang bernama Muhammad bin Yazid tidak diketahui identitasnya menjelaskan bahwa Rasulullah Saw., lupa shalat asar dan baru ingat setelah maghrib, maka ia kemudian shalat asar dan mengulang shalat maghrib. Hal ini dijelaskan di dalam Musnad Ahmad bab Musnad as-Syamiyyin, no. 16361:

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ دَاوُدَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَوْفٍ حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا جُمُعَةَ حَبِيبَ بْنِ سِبَاعٍ وَكَانَ قَدْ أَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْأَحْزَابِ صَلَّى الْمَغْرِبَ فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ هَلْ عَلِمَ أَحَدٌ مِنْكُمْ أَنِّي صَلَّيْتُ الْعَصْرَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا صَلَّيْتَهَا فَأَمَرَ الْمُؤَذِّنَ فَأَقَامَ الصَّلَاةَ فَصَلَّى الْعَصْرَ ثُمَّ أَعَادَ الْمَغْرِبَ

Dari Musa bin Daud dari Ibn Lahi’ah dari Yazid bin Abi Habibi dai Muhammad bin Yazid bahwa Abdullah bin Auf dari Aba Jumu’ah Habib bin Siba’ bahwa ia melihat Nabi Saw., pada tahun Ahzab shalat maghrib dan setelah selesai ia bertanya: Apakah seseorang telah mengetahui bahwa aku sudah shalat asar?, maka orang-orang yang mendengarnya berkata: engkau belum shalat asar, maka Rasulullah Saw., memerintahkan azan dan mendirikan shalat asar, kemudian mengulangi shalat maghrib.

Apabila ada orang yang memahami bahwa qadha’ shalat dilaksanakan bersamaan dengan waktu shalat yang dilupakan atau tertidur, sebenarnya ia tidak tepat dalam memahami arti hadis shahih yang terdapat di dalam Sunan Ibn Majah bab as-Shalat, no. 690:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ أَنْبَأَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَبَاحٍ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ ذَكَرُوا تَفْرِيطَهُمْ فِي النَّوْمِ فَقَالَ نَامُوا حَتَّى طَلَعَتْ الشَّمْسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ فِي النَّوْمِ تَفْرِيطٌ إِنَّمَا التَّفْرِيطُ فِي الْيَقَظَةِ فَإِذَا نَسِيَ أَحَدُكُمْ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا وَلِوَقْتِهَا مِنْ الْغَدِ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَبَاحٍ فَسَمِعَنِي عِمْرَانُ بْنُ الْحُصَيْنِ وَأَنَا أُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ فَقَالَ يَا فَتًى انْظُرْ كَيْفَ تُحَدِّثُ فَإِنِّي شَاهِدٌ لِلْحَدِيثِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَمَا أَنْكَرَ مِنْ حَدِيثِهِ شَيْئًا

Dari Ahmad bin Abdah dari Hammad bin Zaid dari Thabit dari Abdullah bin Rabah dari Abi Qatadah berkata tentang kelalaian karena tidur pada saat shalat shubuh sehingga terbit matahari, maka Rasulullah Saw., bersabda: “Tidak akan ada dalam tidur suatu kelalaian, karena kelalaian itu terjadi saat terjaga (tidak tidur) dan jika seseorang terlupa shalat atau tertidur, maka hendaklah shalat ketika ingat dan hendaklah pada saat yang sama tidak terulang kembali.

Hadis di atas bukan dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa qadha’ shalat dapat dilakukan bersamaan dengan waktu shalat berikutnya, sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Syarh oleh al-Sanadi.

Oleh karena itu, bagi wanita yang haid tidak perlu mengqadha’ shalat yang ditinggalkan, sebagaimana dijelaskan di dalam hadis shahih yang terdapat di dalam shahih Muslim bab al-Haid, no. 506:

حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ مُعَاذَةَ ح و حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ يَزِيدَ الرِّشْكِ عَنْ مُعَاذَةَ أَنَّ امْرَأَةً سَأَلَتْ عَائِشَةَ فَقَالَتْ أَتَقْضِي إِحْدَانَا الصَّلَاةَ أَيَّامَ مَحِيضِهَا فَقَالَتْ عَائِشَةُ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قَدْ كَانَتْ إِحْدَانَا تَحِيضُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ لَا تُؤْمَرُ بِقَضَاءٍ

Dari al-Rabi’ al-Zuhrany dari Hammad dari Ayyub dari Abi Qilabah dari Mu’adah. Juga dari Hammad dari Yazid al-Risyki dari Mu’adah bahwa seorang perempuan bertanya kepada Aisyah, apakah kami mengqadha’ shalat yang kami tinggalkan ketika dalam keadaan haid, maka Aisyah menjawabnya apakah kamu termasuk orang Khawarij, padahal di antara kami sedang haid pada zaman Rasulullah Saw., dan kami tidak diperintahkan mengqadha’ shalat.

Di sisi lain juga dijelaskan dari Aisyah bahwa kami diperintahkan mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan mengqadha’ shalat. Hal ini terdapat di dalam shahih Muslim bab al-Haid, no. 508:

و حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ مُعَاذَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّي أَسْأَلُ قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

C. Penutup

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa masalah qadha’ shalat dapat dilakukan karena dua sebab, yaitu sebab lupa dan tertidur dan dilakukan ketika ingat dan terjaga dari tidur (bangun tidur). Sedangkan bagi wanita yang haid tidak perlu mengqadha’ shalat yang ditinggalkan selama masa haid. Adapun pendapat yang menyatakan bahwa qadha’ shalat dilakukan bersamaan dengan waktu shalat yang ditinggalkan pada hari berikutnya tidak kuat, karena salah memahami hadis yang terdapat di dalam Sunan Ibn Majah.

Mudah-mudahan sedikit uraian ini dicatat oleh Allah Swt., sebagai ilmu yang bermanfaat.

Advertisements

Posted in Religi | Leave a Comment »

Manis Getirnya Cinta

Posted by almakmun on 03/03/2009

Senyum manis terpancar dari wajah mereka

Isak tangis menetes dari mata mereka

Apa gerangan sebabnya

Semua karena kebodohan dan ketololan mereka

Cinta …..

Kau buat mereka seakan terbang ke angkasa

Memandangi indahnya alam semesta

Menikmati indahnya bulan berhias bintang

Cinta ….

Kau buat mereka berlinangkan air mata

Bak butiran air dari langit di musim hujan

Kepedihan nan kesedihan menyelimuti mereka

Laksana tiada kehidupan

Derita lagi-lagi derita

Apakah ia musuh cinta

Derita bukanlah musuh cinta

Ia membuat cinta menjadi semakin dewasa

Renungkan dan pahami

Akan makna cinta

Niscaya kau akan mendapati

Ia pemberian Sang Maha Mencinta

Buatlah ia laksana madu

Yang tiada sedikitpun kepedihan

Hanya manis nan menyenangkan

Posted in renungan | Leave a Comment »

Belajar dari Kaum Tsamud

Posted by almakmun on 03/03/2009

Nabi Sholeh A.S., merupakan salah satu utusan Allah Swt., yang kisahnya berulangkali disebut di dalam al-Qur’an, seperti dalam surat al-A’raaf, Hud, al-Qamar, dan yang lainnya.

Beliau diutus oleh Allah Swt., kepada kaum Tsamud, yaitu suatu suku yang oleh sebagian ahli sejarah dimasukkan ke dalam bagian dari bangsa Arab dan ada pula yang menggolongkan mereka ke dalam bangsa Yahudi. Mereka bertempat tinggal di suatu dataran bernama ” al-Hijir ” yang terletak di antara Hijaz (Saudi Arabia) dan Syam (Syiria).

Daerah al-Hijir merupakan wilayah subur yang memberikan hasil berlimpah ruah kepada kaum Tsamud. Namun semua itu dibalas mereka dengan menjadikan berhala sebagai sesembahan (Tuhan), dan berbuat kerusakan di muka bumi. Untuk itu, Nabi Sholeh mengajak mereka menyembah hanya kepada Allah Swt. Ajakan beliau diterima oleh sekelompok orang-orang yang memiliki kedudukan sosial lemah, dan ditolak oleh kelompok orang-orang kaya, bahkan beliau dituduh mengejar kedudukan dan ingin diangkat menjadi pemimpin kaum Tsamud, serta dianggap sebagai orang gila.

Untuk membendung dakwah Nabi Sholeh A.S., mereka meminta bukti mukjizat sebagai bukti kenabiannya. Nabi Sholeh A.S., kemudian menyanggupinya dengan syarat mereka mau beriman kepadanya. Sesuai dengan permintaan, Nabi Sholeh A.S., memohon kepada Allah Swt., agar diberi mukjizat untuk menciptakan seekor unta betina yang dikeluarkan dari batu karang besar yang terdapat di sisi sebuah bukit yang mereka tunjuk.

Dengan izin Allah Swt., terbelahlah batu karang besar yang ditunjuk itu dan keluarlah seekor unta betina. Dalam surat Hud, 64 disebutkan:

Artinya: Hai kaumku, “inilah unta betina dari Allah Swt., sebagai mukjizat untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat.”

Dengan adanya mukjizat tersebut, gagallah usaha para pemuka kaum Tsamud dalam menghilangkan pengaruh Nabi Sholeh A.S., bahkan sebaliknya malah telah menambah tebal kepercayaan serta keimanan para pengikutnya.

Untuk itu, para pemuka kaum Tsamud kembali mengatur rencana dan strategi pembunuhan atas unta Nabi Sholeh A.S., Hal ini diperkuat oleh seorang janda bangsawan kaya raya yang akan menyerahkan dirinya kepada orang yang membunuh unta tersebut. Di samping itu, ada wanita lain yang mempunyai beberapa puteri cantik yang akan menghadiahkan salah satu dari mereka kepada orang yang berhasil membunuhnya.

Dengan sayembara seperti itu, tergugahlah hati Mushadda’ bin Muharrij dan Gudar bin Salif untuk mengikuti sayembara tersebut dan penuh semangat ingin membunuh unta tersebut. Dengan bantuan tujuh orang lelaki, bersembunyilah mereka di suatu tempat yang biasanya dilalui oleh unta Nabi Sholeh A.S., begitu unta yang tidak berdosa itu lewat, Mushadda’ segera memanah betisnya, dan disusul oleh Gudar dengan menikamkan pedang tajam di perutnya.

Dengan perasaan bangga, pergilah para pembunuh unta itu ke ibu kota dan menyampaikan berita kematian unta Nabi Sholeh A.S. Mereka berkata kepada Nabi Sholeh A.S., :”Wahai Sholeh! Untamu telah kami bunuh, maka datangkan azab Tuhanmu”. Nabi Sholeh A.S., menjawab: “Tunggulah akan tibanya azab, kamu boleh bersuka ria dan bersenang-senang selama tiga hari, kemudian terimalah ganjaranmu yang setimpal pada hari keempat”.

Nabi Sholeh A.S., memberitahu kaumnya bahwa azab Allah Swt., akan didahului dengan tanda-tanda, seperti pada hari pertama bila mereka terbangun dari tidurnya akan menemui wajahnya menjadi kuning dan berubah menjadi merah pada hari kedua dan hitam pada hari ketiga dan pada hari keempat turunlah azab Allah Swt., yang pedih nan menyakitkan.

Mendengar ancaman tersebut, kelompok pembunuh unta kembali merancang pembunuhan atas diri Nabi Sholeh A.S., sebelum tibanya azab. Mereka berencana membunuh beliau di saat orang masih tidur nyenyak untuk menghindari tuntutan balas dendam oleh keluarga Nabi Sholeh A.S.

Ketika mereka datang ke tempat Nabi Sholeh A.S., di malam yang gelap-gulita dan sunyi-senyap berjatuhanlah di atas kepala mereka batu-batu besar yang tidak diketahui dari arah mana datangnya dan mereka terkapar dalam keadaan tidak bernyawa lagi.

Satu hari sebelum hari turunnya azab yang telah ditentukan itu, berangkatlah Nabi Sholeh A.S., bersama para pengikutnya menuju Ramalah, sebuah tempat di Palestina. Di hari yang telah ditentukan, kaum Tsamud habis binasa, hancur lebur ditimpa halilintar yang dahsyat beriringan dengan gempa bumi yang mengerikan.

Kisah ini memiliki arti yang cukup mendalam dan relevan untuk dijadikan tanbih (peringatan) dalam keseharian kita, yaitu:

Pertama, perbuatan dzalim oleh segelintir orang dapat menyebabkan mala petaka bagi yang lainnya. Dalam konteks kekinian, KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) yang dilakukan oleh “oknum” elite eksekutif, legislatif dan yudikatif bisa menyebabkan keterpurukan ekonomi Indonesia dan berimbas pada penderitaan berkepanjangan yang dialami oleh rakyat yang tidak berdosa. Contoh lainnya adalah seperti pembalakan liar yang dilakukan oleh segelintir cukong yang difasilitasi oleh segelintir “oknum” pejabat bisa menyebabkan global warming (pemanasan global) dan berimbas pada seluruh manusia. Untuk itu, kita semua harus meniru Nabi Sholeh A.S., yang tiada hentinya menyuarakan kebenaran demi terciptanya keseimbangan hidup, tentunya dengan cara-cara yang proporsional.

Kedua, harta dan kedudukan bisa membuat seseorang gelap mata dan menimbulkan sifat iri hati. Dalam kehidupan keseharian, tidak sedikit para “oknum” elit politik dan pengusaha yang melakukan tindakan adu domba, money politic dan KKN demi eksistensi jabatan dan pundi-pundi keuangannya. Agar terhindar dari sikap di atas, kita harus menyadari, bahwa harta dan jabatan hanyalah sebuah titipan Allah Swt., yang nantinya akan dimintai pertanggung jawaban. Sehingga cara mendapatkan dan menggunakannya harus dengan cara-cara yang terpuji.

Dengan demikian, Semoga para pelaku kemungkaran dan kejahatan segera sadar dan bertaubat dengan menyesali perbuatannya serta memperbaiki diri dan semoga kita semua terhindar dari Azab Allah Swt., Amin.

Posted in renungan | Leave a Comment »