Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

ARTI SEBUAH ULANG TAHUN (MILAD)

Posted by almakmun on 10/03/2009

Saat itu, aku sedang menikmati sebuah liburan. Ya,,,, meskipun bukan libur panjang dan bukan jalan-jalan ke tempat wisata atau tempat-tempat lainnya. Namun aku ngerasa liburanku kali ini terasa beda kalau tidak boleh dikatakan spesial.

Mau tau aku kemana dan kenapa..? (cieh…cieh sok pede kalau orang lain pengen ngerti) lebih tepatnya aku pulang kampoeng dimana orang tuaku tinggal (maklumlah aku kan berasal dari kampoeng, tepatnya satu kabupaten dengan yang namanya Ponari tapi beda kecamatan atau\ sekecamatan ama Gus Dur).

Seperti biasanya pulang kampoeng yang aku lakukan sebelum-sebelumnya, sudah pastinya prosesi sungkem ama bunda dan ayah tercinta tidak pernah terlewatkan (I love and miss you forever umi wa abiy). Ritual bercengkrama mesra dan bersenda gurau dengan saudara dan keponakan-keponakan yang lucu dan menggemaskan diantara kami pun tercipta dengan hangat, sehangat sinar surya di pagi hari (maklum karena aku sebagai anak bontot dari lima bersaudara dan kebetulan juga aku belum married, so jadinya ya bercanda dengan keponakan, he…he…). Hal seperti ini kerap kami selenggarakan entah satu bulan sekali atau sebulan dua kali, demi menjaga keutuhan dan kerukunan keluarga besar kami disamping juga melepas kangen setelah beraktivitas dan tinggal dirumah masing-masing.

Lho kok jadi ngomogin keluarga besarku. Ok dah, sekarang aku coba balik ke hal yang membuatku terasa beda. Ya, sebuah momen ulang tahun atau orang Arab biasa nyebutnya dengan milad. Pingin tau siapa yang ulang tahun? (cieh….cieh sok pede lagi) ulang tahun ini bukan aku, melainkan ulang tahunnya orang yang amat sangat special sekali bagiku dan paling aku Cintai setelah Allah, beliau adalah Muhammad bin Abdullah, Rasulullah dan Nabi kita semua. Sudah pastinya di benak pembaca ada sebuah pertanyaan yang muncul, Kenapa sampai aku mengatakan ulang tahun bukannya ulang tahun itu hanya untuk mereka yang masih bernyawa, sedang yang sudah tiada bukan ulang tahun tapi peringatan kelahiran.

Disinilah aku ingin mengungkapkan, bahwa keberadaan seseorang yang mempunyai nilai dan arti penting dalam pribadinya akan selalu merasa bahwa meskipun bentuk jasadnya telah tiada, namun keberadaan orang tersebut akan selalu dan selalu dan terus tertanam kuat di lubuk hati. Begitu juga dengan Nabi Muhammad yang aku pikir tidak hanya aku saja yang ngerasa bahwa beliau ini bener-bener sangat berarti bagiku, melainkan seluruh umat Islam akan ngerasa seperti aku. Gak percaya? pingin bukti (cieh….cieh sok neges)?

Satu contoh riil, ketika aku dirumah terdengar suara merdu di angkasa raya yang berasal dari pengeras suara di masjid dan mushala. Ini membuat hati dan perasaanku terenyuh sampai-sampai air mata pun tak tertahan lagi menetes dipipiku, aku ngerasa betapa hina dan tidak bermanfaatnya diriku ini jika aku berkaca pada Nabi Muhammad, masih terlalu kotor diri ini dan aku senantiasa berharap semoga mendapatkan safaat dari beliau di hari akhir nanti Amiin. Ya lantunan suara orang-orang yang sedang membaca Maulid Diba’ dan atau Maulid Habsy. Mereka penuh semangat serta antusiasme yang tinggi dalam membaca, tak lain dan tak bukan karena ini merupakan aktualisasi kecintaan yang mendalam mereka kepada Junjungan dan Rasulullah Muhammad yang telah membawa sebuah perubahan yang dahsyat tak hanya di dunia Arab melainkan di seluruh penjuru dunia.

Kelahiran beliau merupakan sebuah obat dan suplemen tersendiri bagi seluruh manusia. Dengan kelahiran beliau wajah dunia Arab yang sebelumnya terkesan sangat tidak bersahabat dengan kaum termarginalkan dan kaum hawa berubah menjadi terangkatnya derajat mereka.

Muhammad bin Abdullah telah berhasil membawa masyarakat yang asalnya Jahiliyah menjadi sebuah masyarakat yang Madani. Ini semua tak lepas dari tugas, peran dan fungsi beliau sebagai Nabi sekaligus Rasul. Hal tersebut tidaklah mudah, Dimana nyawa menjadi taruhannya, karena kita tahu watak dan sifat kebanyakan orang Arab adalah keras, sehingga membutuhkan sebuah pendekatan dan metode tersendiri. Dan ini yang berhasil dilakukan beliau.

Muhammad bin Abdullah terlahir sebagai anak yang piatu, dimana ayahnya meninggal sebelum beliau lahir. Setelah itu, beliau ditinggal oleh ibunda tercinta, jadilah Muhammad sebagai seorang yang yatim dan piatu. Kondisi yang demikian mempunyai rahasia tersendiri, yang mana ini menandakan bahwa Allah sendirilah yang akan mendidik dan membimbing beliau sehingga terbebas pemikiran orang tua beliau. Andaikata orang tua beliau masih ada, tentu sedikit banyak Muhammad Saw., akan terkontaminasi oleh pemikiran, culture dan sebagainya sehingga mempengaruhi kenetralan beliau sebagai utusan Allah. Hal ini diperkuat bahwa Muhammad Saw., adalah Ummiy (tidak bisa baca dan tulis) yang membuat originalitas wahyu selalu terjaga.

Kelahiran Nabi Muhammad menjadi sebuah momentum tersendiri bagi seluruh umat Islam diseluruh dunia. Sebagai umat Islam yang mengikuti Rasulullah, kita diharuskan cerdas dalam memilih dan memilah ajaran dan aturan mana yang bisa dipakai dan yang tidak. Dalam artian, ada syariat khusus untuk Nabi Muhammad yang tidak boleh ditiru dan diaplikasikan oleh umat beliau, seperti Rasulullah beristeri sembilan, dsb. Begitu juga dengan sifat basyariyah beliau yang tingkah lakunya sebagai manusia biasa merupakan pilihan bukan keharusan, artinya boleh ditiru dan boleh tidak, seperti beliau makan dengan tangan tidak pakai sendok, beliau tidurnya miring dll.

Sudah menjadi keharusan bagi seluruh manusia untuk merenung kembali apa itu ulang tahun. Ulang tahun tidak hanya bermakna telah bertambahnya usia seseorang yang biasanya dirayakan dengan berbagai macam cara dan bentuk, mulai dari makan-makan sampai yang lainnya. Momen ulang tahun seharusnya digunakan untuk bermuhasabah, merenung atas diri kita, apakah umur kehidupan yang selama ini telah kita jalani mempunyai sebuah manfaat dan arti untuk orang lain. Apakah selama ini kita masih termakan yang namanya egosentris pribadi. Apakah kehidupan kita selama ini telah sesuai dengan garis aturan dan rambu-rambu ajaran Islam. Apakah selama ini kita beribadah hanya mengharapkan pahala dan upah dari Allah. Hanya kita sendiri yang bias menjawabnya. Namun demikian, yang paling penting aku tegaskan dan garisbawahi disini adalah

KITA BERIBADAH BUKAN KARENA TAKUT PANASNYA API NERAKA ATAU INGIN MENIKMATI INDAHNYA SURGA, MELAINKAN KITA BERIBADAH SENANTIASA TULUS IKHLAS MENGHARAPKAN RIDHO-NYA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s