Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Tanpa Tes, Bayar Rp 42,55 Juta

Posted by almakmun on 21/03/2009

Sekolah Swasta Bersaing Cari Siswa

Meski tahun ajaran baru 2009/2010 masih lama, namun atmosfir pendaftaran siswa baru sudah mulai terasa. Orangtua mulai sibuk menyurvei sekolah yang memiliki nilai lebih. Tak ayal, mereka rela berkeliling Kota Pahlawan agar bisa mendapatan sekolah yang tepat untuk anaknya.

Lembaga pendidikan pun juga mulai sibuk membuka pendaftaran siswa baru (PSB). Mereka berlomba-lomba menarik simpati para calon siswa dan orang tuanya dengan menawarkan berbagai fasilitas dan kelengkapan sarana prasarana.

Bahkan ada beberapa sekolah yang sudah membuka pendaftaran mulai Januari lalu dan juga ada yang menerima pendaftaran sepanjang tahun. Namun, ada fenomena yang menarik, meskipun pendaftaran belum dibuka, tak sedikit orangtua yang sudah inden.

Tentunya sudah bisa ditebak, persaingan antarsekolah favorit untuk menggaet calon siswa baru, tak bisa terelakkan lagi. Mereka bisa diibaratkan ’bertempur’ dalam medan yang diberi nama pasar bebas. Brosur-brosur bertebaran di mana-mana. Di tambah spanduk yang dipasang di beberapa tempat. Ada juga yang menggelar ekspo di mal-mal untuk mengenalkan sekolahnya.

Kepala Sekolah SD Al Falah Surabaya Jidi menilai itu bukanlah persaingan. ”Kami menganggap tidak ada saingan. Sebab dunia pendidikan itu bukan kompetisi antarsekolah, melainkan koopetitif. Artinnya kita bekerjasama dengan sekolah-sekolah lain. Ibarat bank, yang satu dengan yang lain kan bersaing, tapi mereka juga mengadakan kerjasama seperti adanya ATM bersama,” terang Jidi yang ditemui, Selasa (10/2) lalu.

Pernyataan berbeda disampaikan Sholihin Fanani, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya. Menurutnya persaingan itu memang ada, tapi lembaga yang dipimpinya tidak pernah merasa takut. ”Kami tidak takut dengan persaingan terhadap sekolah lain. Justru yang kami takutkan adalah bersaing dengan perubahan sosial itu sendiri,” katanya, Senin (9/2).

Lalu berapa biaya masuknya ? Masing-masing sekolah swasta favorit mematok biaya yang berbeda. Seperti SD Al-Falah Surabaya, uang pangkalnya Rp 8.5 juta, SPP 550.000 per bulan dan DPPS sebesar Rp 750.000/tahun.

Sedangkan SD Muhammadiyah 4 Pucang biaya masuk mulai dari Rp 6 juta sampai di atas Rp 6,5 juta. Untuk SPP bisa memilih berdasarkan kemampuan mulai dari Rp 300.000, Rp 325.000 atau lebih dari Rp 325.000. Ditambah lagi uang kegiatan Rp 600.000/tahun dan iuran komite sekolah minimal Rp 10.000.

SD Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya, mematok dana sumbangan gedung Rp 8 juta, uang kegiatan Rp 1,75 juta/tahun dan SPP Rp 560.000/bulan. Untuk SD Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya, formulir pendaftaran Rp 180.000, uang masuk Rp 7 juta (Jan-Maret), Rp 8 juta (April-Mei), Rp 9 juta (Juni-Juli), dan uang kegiatan Rp 900.000.

Sementara bagi orangtua yang menginginkan anaknya sekolah di SD Ciputra, harus menyiapkan dana sebesar Rp 42,55 juta untuk DPP dan SPP Rp 2,795 juta/bulan. Biaya besar itu karena sekolah Ciputra terotorisasi oleh International Baccalaureate (IB) untuk pendidikan usia 3 tahun sampai kelas 12. ”Jadi, kalau orang mendengar kata IB artinya bukan lagi standar dunia, akan tetapi standarnya dari kualitas pendidikannya, kualitas pengajarnya dan fasilitas yang bisa mendukung pembelajarannya,” tutur Ratih Saraswati, Pre & Elementary Principal Sekolah Ciputra saat ditemui, Kamis (12/2) lalu.

Besarnya biaya ini ternyata tidak mempengaruhi minat calon siswa untuk masuk ke sekolah-sekolah tersebut. Buktinya banyaknya yang sudah inden. ”Saat ini sudah ada 300 siswa yang inden, padahal kuota yang kami sediakan hanya 240 siswa”, Tutur Fanani.

Di SD Al Falah Surabaya, jumlah siswa yang inden mencapai 75 persen. Sedangkan kuotanya 102 siswa.

Begitu juga SD Alam Insan Mulia, jumlah calon siswa yang mendaftar sudah 80 persen. Nita, panitia PSB SD Alam Insan Mulia mengatakan, kuota yang ada di tempat kami hanya 48, dan yang sudah mendaftar 43 calon siswa,” ungkapnya, Rabu (18/2).

Tanpa Seleksi

Sekolah Ciputra memilih cara lain dalam penerimaan siswa baru, yakni tidak melalui seleksi. ”Kami tidak pernah menyeleksi siswa berdasarkan akademik. Karena program IB memberikan kesempatan siswa berkembang sesuai kapasitasnya. Ketika di kelas akan terjadi diferensiasi bagaimana siswa diberikan pengajaran dengan metode yang berbeda, konten berbeda, dan dengan penilaian berbeda,” tambah Ratih.

Ia yakin, bahwa sekolah yang bagus adalah sekolah yang bisa menerima siswa dari beragam kemampuan tetapi menghasilkan siswa yang luar biasa. Jadi kalau dibilang sukses, lanjut Ratih, bukan berarti semua mendapatkan nilai 10. Melainkan jika seorang anak masuk dengan skor empat, ketika keluar skornya menjadi delapan.

Menurut Ratif, itu pencapaian kemajuan yang luar biasa. ”Kalau masuknya sudah luar biasa, keluarnya luar biasa, ya biasa saja, tidak spesial,” ucap Ratih.

Perguruan Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya memberlakukan standar yang sama. Menurut Nadjib, mereka tidak pernah membatasi anak yang akan masuk, asal tidak mempunyai kelainan atau normal-normal saja. ”Yang penting begini, ketika dia masuk katakanlah nilainya enam, maka harapan kami ketika keluar nilai mereka delapan. Secara spesifik tidak ada tes rinci, hanya saja nanti ada pemetaan untuk mengetahui sejauh mana intelektual mereka,” terangnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: