Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

PILIH KEMULIAAN SESAAT ATAU KEMULIAAN YANG ABADI

Posted by almakmun on 28/04/2009

إذا أردت ان يكون لك عز لا يفنى فلا تستعزن بعز يفنى

Apabila engkau menginginkan kemuliaan yang abadi, janganlah engkau mencari kemuliaan yang sementara.(Sharh al-Hikam)

Kemuliaan, sebuah kata yang sepele namun memiliki makna dan dampak yang sangat besar. Betapa tidak, manusia akan menempuh berbagai macam cara untuk mendapatkan kemuliaan tersebut, seperti melalui harta, jabatan, dan kekuasaan. Dan ada lagi yang mencarinya dengan ilmu dan amal. Ada yang mencarinya melalui wajah yang cantik dan suara yang merdu. Ada pula mencarinya melalui tindakan yang ekstrem seperti terjun dari tempat yang tinggi.
Demi mendapatkan harta yang banyak, mereka rela melakukan korupsi, menipu, dan lainnya. Demi mendapatkan kedudukan yang tinggi mereka rela melakukan suap dan menjilat ke atasan. Mereka yang menginginkan kekuasaan rela melakukan segala macam cara untuk merealisasikannya. Dan banyak lagi yang lainnya.
Perlu diketahui bahwa kemuliaan yang diperoleh dengan cara-cara tersebut hanya bersifat sementara dan hanya fatamorgana. Kemuliaan tersebut akan hilang atau tertandingi dengan kemuliaan lain. Sebagai contoh, orang yang berpangkat, berkuasa dan harta yang banyak akan tidak merasa mulia lagi jika berhadapan dengan orang yang lebih tinggi pangkatnya, lebih luas kekuasaannya dan lebih banyak hartanya. Begitu pula dengan orang yang dimuliakan karena kecantikan atau ketampanannya akan tidak dimuliakan lagi bilamana wajah dan tubuhnya tudak menarik lagi. Orang yang dimuliakan karena kemerduan suaranya, tidak lagi dimuliakan jika kemerduan suaranya telah pudar atau ada orang lain yang mempunyai suara lebih merdu. Seseorang yang dimuliakan karena keberaniannya terjun dari tempat yang tinggi tidak lagi dimuliakan jika ada orang lain yang lebih berani terjun dari tempat yang lebih tinggi.
Mereka yang memiliki kemuliaan yang bersifat sementara tidak akan merasa damai dan tenang karena khawatir kemuliaanya akan direbut orang. Begitu juga dengan orang yang dimuliakan karena ilmunya akan dibayang-bayangi rasa cemas jika ada orang lain yang lebih pintar dan lebih berilmu.
Tidak hanya itu saja, orang yang dimuliakan karena kekuatan amal kebaikannya masih juga bimbang dan cemas jika keburukan yang dulu atau tersembunyi akan diketahui orang banyak. Semua kemuliaan tersebut akan hilang dan berakhir jika ajal telah menjempunya. Jasadnya dikebumikan di dalam tanah dan kemuliaannya ditinggalkannya begitu saja di atas kuburnya.
Sebenarnya jika kita perhatikan secara mendalam dan seksama, maka akan kita dapatkan bahwa kemuliiaan itu bukanlah apa yang dimiliki dan bukan apa yang diletakkan orang lain kepada seseorang itu. Kemuliaan dan kemegahan adalah sebuah perasaan yang timbul di dalam hati. Ada seseorang yang kekuasanya tidak seberapa tetapi ia sudah merasakan sangat mulia. Ada orang yang hanya menjadi pemandu raja tetapi sudah berasa mulia seperti raja.
Tidaklah patut mereka (orang-orang munafik) mencari kekuatan dan kemuliaan di sisi orang-orang kafir itu, kerana sesungguhnya kekuatan dan kemuliaan itu ialah milik Allah, (diberikan-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya). (QS. An-Nisa’: 139)
Kemuliaan hanyalah milik Allah. Tak ada satu pun makhluk yang dapat memberikan kemuliaan. Apa yang diberikan oleh makhluk hanyalah gambaran yang menurut sangkaan belaka. Kemuliaan sejati hanya boleh didapatkan dari Allah dengan jalan mengambil perhatian kepada aspek batin yang bersangkutan dengan ketuhanan. Hamba Allah yang tidak tertipu oleh zahirnya alam akan terus berpegang pada aspek batinnya yang memberi peringatan dan petunjuk. Mereka bersabar dalam menempuh gelombang takdir Ilahi sehingga mereka terdampar di pantai keridhoan Ilahi.
Di sana akan dipakaikan kepada mereka pakaian kemuliaan berupa tauhid yang benar. Tauhid lah kemuliaan yang sejati dan abadi. Tauhid mengajarkan hanya Allah Yang Maha Esa, dan Maha Mulia tidak yang lain. Apabila hati seseorang sudah dipenuhi oleh tauhid niscaya ia akan dipenuhi oleh kemuliaan. Kemuliaan yang dipancarkan oleh tauhid tidak akan hancur atau binasa. Perpisahan dari benda-benda alam, pendapat orang lain dan apa saja tidak sedikit pun mengecilkan atau membimbangkan hati yang bertauhid. Hati yang sudah penuh dengan kemuliaan Allah tidak lagi menghiraukan penghinaan makhluk. Ia tidak berakhir dengan kematian karena Allah tidak binasa dan kemuliaan-Nya juga tidak binasa. Ia tetap mulia di dalam kuburnya, mulia ketika dibangkitkan dari kuburnya dan lebih mulia lagi di akhirat yang kekal abadi

2 Responses to “PILIH KEMULIAAN SESAAT ATAU KEMULIAAN YANG ABADI”

  1. ust. Sholeh said

    Masya Allah, ya akhi fainsya allah ridhollah ‘alaik.

  2. almakmun said

    Syukron, fainsya allah ridhollah alaik wa ‘ala usrotuk.
    mata tadzhab ila baity?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: