Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Rekonstruksi Cara Memahami Islam Agar Terhindar Dari Aliran Sesat (Bagian 1)

Posted by almakmun on 02/05/2009

Memahami ajaran Islam merupakan kewajiban setiap orang Islam. Oleh karena itu, bagaimana cara memahami ajaran Islam dengan benar penting dibahas, karena kesalahan dalam cara memahami ajaran Islam akan berakibat tidak samanya ajaran Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Allah SWT., dan Nabi Muhammad SAW., sehingga sering apa yang dianggap seseorang sebagai ajaran Islam, padahal ia adalah hasil dari perasaan hati, pemikiran akal, dan perilaku yang telah diwarisi dari nenek moyang semata.
Kenyataan di masyarakat, banyak yang memahami ajaran Islam berdasarkan sudut pandangnya sendiri-sendiri, sehingga memunculkan aliran sesat. Jika seseorang memandang ajaran Islam hanya sebagai pemikiran, maka ia berusaha menarik ajaran Islam pada tataran rasional, sehingga ia mendekati ajaran Islam dengan pendekatan filsafat atau ilmiah rasional.
Jika seseorang memandang ajaran Islam hanya sebagai aliran (mazhab) dalam ilmu kalam, maka ia berusaha menarik ajaran Islam sesuai dengan aliran (mazhab) dalam ilmu kalam, seperti Mu’tazilah, Ahlu Sunnah wal jama’ah dan Syi’ah. Jika seseorang memandang ajaran Islam hanya sebagai aturan tentang hal-hal yang boleh dilakukan (halal) dan dilarang (haram), maka ia berusaha menarik ajaran Islam pada tataran fikih. Jika seseorang memandang ajaran Islam hanya untuk menata hati, maka ia berusaha menarik ajaran Islam pada persoalan tasawuf. Jika seseorang memandang ajaran Islam hanya sebagai gerakan politik, maka ia berusaha menarik ajaran Islam pada persoalan politik. Jika seseorang memandang ajaran Islam hanya sebagai sejarah kekuasaan dan pembaharuan pemikiran, maka ia berusaha menarik ajaran Islam pada persolan sejarah pemikiran dan pembaharuannya.
Tentu saja memahami ajaran Islam dari sudut pandang semacam di atas bukannya tidak diperbolehkan, namun yang tidak dibolehkan adalah pernyataan, bahwa hal itu adalah satu-satunya pendekatan yang paling benar, karena pendekatan di atas hanya salah satu dari aspek ajaran Islam yang tentunya masih banyak aspek lain yang harus diikutsertakan
Jika dinyatakan sebagai satu-satunya pendekatan, maka tidak mustahil ibarat orang buta ketika menjelaskan gajah yang hanya meraba telinganya saja, sehingga ia bersih kukuh (ngotot) menyatakan bahwa gajah itu kecil. Tentu ini tidak sesuai dengan kenyataannya dan akan mengakibatkan perdebatan dan perbedaan.
Oleh karenanya, diperlukan sebuah penataan ulang (rekonstruksi) tentang cara memahami ajaran Islam, agar terhindar dari kesesatan. Namun, sebelumnya harus dipahami terlebih dahulu apa itu Islam ?
Apa itu Islam ?
Islam adalah pedoman atau petunjuk hidup yang lengkap dan sempurna, sebagaimana ditegaskan Allah dalam surah al-Maidah (3) ayat 3 :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu(pedoman hidupmu), dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama (Pedoman hidup) bagimu.
Jika Islam sebagai pedoman hidup, tentu pendekatannya akan berbeda dengan pendekatan yang ada dalam masyarakat sekarang, karena kita harus berusaha memahami setiap gagasan atau ide yang terdapat dalam al-Qur’an dan kitab hadis sebagai pedoman hidup. Oleh karenanya, ajaran Islam dijadikan sebagai pedoman untuk mengarahkan perasaan hati, pemikiran akal dan tindakan, bukan sebaliknya perasaan hati atau pemikiran akal serta tindakan yang mengarahkan pada pemahaman ajaran Islam.
Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa setiap pedoman menuntut dibaca, dipahami dan dilaksanakan. Karenanya, kalau diibaratkan ajaran Islam seperti petunjuk penggunaan obat, maka setelah dibaca petunjuk tersebut menuntut sang pembaca untuk memahami isinya dan setelah paham isinya menuntut pembacanya melaksanakan aturannya. Sebagai akibatnya, Jika seseorang hanya membaca sebuah petunjuk atau pedoman, maka tentu tidak ada gunanya petunjuk tersebut, kecuali sekedar belajar membaca, sebagaimana yang dilakukan oleh anak-anak di taman kanak-kanak atau sekolah dasar ketika belajar membaca. Padahal seharusnya jika setelah membaca petunjuk atau pedoman, namun belum dapat memahami isinya, maka seharusnya ia membacanya kembali sampai dia benar-benar paham isinya, baru kemudian ia melaksanakan apa yang dipahami dari petunjuk atau pedoman tersebut, karenanya jika sudah paham, namun tidak melaksanakan aturannya, maka dapat saja dia overdosis (menyalahi aturan pemakaian obat) dan akan berakibat fatal (kematian) atau bukan kesembuhan yang didapat tetapi justru memperparah penyakitnya.
Oleh karena itu, jika seseorang menggunakan cara yang salah dalam memahami ajaran Islam, bukan sebagai petunjuk atau pedoman, maka bukan jalan keselamatan yang didapat, tetapi jalan kesesatan yang akan diperoleh.

Bagaimana Ajaran Islam sampai kepada kita ?
Agar dapat memahami ajaran Islam dengan benar, maka perlu memahami bagaimana ajaran Islam sampai kepada kita sekarang ini. Untuk memudahkan memahami proses sampainya ajaran Islam kepada kita, mari kita ilustrasikan gambar layaknya sebuah tangga dalam rumah tingkat.
Adakalanya seseorang dari tingkat dua akan turun ke tingkat dasar dengan menuruni anak tangga, maka dia akan memulai dari anak tangga yang paling atas (puncak anak tangga), yaitu al-Qur’an, kemudian turun pada anak tangga kedua, yaitu hadis, kemudian turun pada anak tangga yang ketiga, yaitu pendapat sahabat Rasulullah, kemudian turun pada anak tangga keempat, yaitu pendapat tabi’in, kemudian turun pada anak tangga kelima, yaitu pendapat ulama salaf (klasik), kemudian turun pada anak tangga keenam, yaitu pendapat ulama khalaf (modern). Jika cara memahami ajaran Islam seperti turun tangga dari puncak anak tangga, maka ia akan mendapatkan pemahaman ajaran Islam yang lengkap (komprehensif).
Namun, jika seseorang dari tingkat dasar akan naik ke tingkat dua dengan menaiki tangga, maka ia memulai dari anak tangga paling bawah, yaitu pendapat ulama khalaf (modern), kemudian jika ia merasa tidak perlu naik pada anak tangga kedua dari bawah, maka tentunya dia tidak akan sampai pada puncak anak tangga paling atas dan tidak sampai pada lantai di tingkat dua dari rumah tersebut. Maka jika cara memahami ajaran Islam sebagaimana gambaran kedua ini, maka pemahamannya tidak lengkap atau hanya sepotong. Sebagaimana dapat disaksikan dalam masyarakat kita sekarang, ada orang yang hanya mengambil pendapat ulama khalaf (modern) dan alergi dengan pendapat ulama salaf (klasik) bahkan yang lebih atas darinya. Atau sebaliknya ada sekelompok orang yang hanya mau menerima pendapat kalau berdasarkan ayat saja dan menolak sunnah Nabi (kelompok Inkarusunnah), kemudian ada lagi sekelompok orang yang mau menerima pendapat jika didasarkan satu hadis atau sunnah yang ia temukan tanpa melihat lebih lanjut bagaimana ayat yang terkait dengan hal tersebut (kelompok pendukung sunnah semata), kemudian ada lagi sekelompok orang yang hanya berpegang pada pendapat para ulama klasik saja (kelompok Salafi) dan ada sekelompok anak muda yang hanya mau menerima pendapat yang cocok dengan akalnya saja (rasionalis) serta ada sekelompok anak muda yang tidak mau terikat dengan teks al-Qur’an dan teks hadis (kelompok liberal). Bahkan ada sekelompok orang yang mau menerima pendapat yang modern saja (kelompok modernis).
Jika cara memahami ajaran Islam sepotong-potong, maka kapan persatuan umat Islam akan dapat diwujudkan, bukankah persatuan umat Islam sebagai suatu keharusan dengan tujuan untuk membangun kekuatan umat Islam, sebagaimana Allah telah memberikan perumpamaan agar umat Islam dapat belajar dari sebuah tanaman yang dimulai dari tunas (kecil), kemudian tumbuh menjadi besar dan kokoh, sehingga orang yang menanamnya senang, sedang orang yang tidak senang dengan besarnya tanaman itu akan menjadi jengkel. Perumpamaan tersebut dijelaskan dalam surah al-Fath (48) ayat 29 :
كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ
(Umat Islam hendaknya) seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min).
Selain perumpamaan di atas, Rasulullah Saw., mengajak kita belajar dari anggota tubuh kita ketika salah satunya sakit, maka anggota tubuh yang lain akan merasakan sakit. Contoh, ketika gigi kita sakit, maka kita tidak bisa tidur dan sering dikuti dengan demam karena infeksi yang menyebar. Perumpamaan tersebut dijelaskan dalam hadis shahih yang terdapat pada kitab Shahih al-Bukhari dalam bab al-Adab, no. 5552 :
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
(Dari Abu Nu’aim dari Zakariya dari Amir dari al-Nu’man bin Basyir berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : sesama mukmin hendaknya saling berkasih sayang karena kesamaan iman, saling mendekat dan saling tolong menolong sebagaimana tubuh manusia ketika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka akan terasa seluruh anggota tubuhnya dengan tidak dapat tidur dan deman).
Oleh karena itu, sesama mukmin harus merasa sakit ketika seorang mukmin lain sakit, bukan justru mengejeknya.
Selain itu, Rasulullah SAW mengajak umat Islam belajar dari sebuah bangunan yang mana semua bagiannya saling menguatkan. Perumpamaan tersebut dijelaskan dalam hadis shahih yang terdapat pada kitab Shahih Muslim dalam bab al-Bir wa al-Shilah wa al-Adab, no. 4684 :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو عَامِرٍ الْأَشْعَرِيُّ قَالاَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ وَأَبُو أُسَامَةَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ وَابْنُ إِدْرِيسَ وَأَبُو أُسَامَةَ كُلُّهُمْ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
(Dari Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Abu Amir al-Asya’ari keduanya dari Abdullah bin Idris dan Abu Usmah dan dari Muhammad bin al-Ala’ Abu Kuraib dari Ibn Mubarak dan Ibn Idris dan Abu Usamah semuanya dari Buraid dari Abi Burdah dari Abi Musa berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : seorang mukmin dengan mukmin yang lain seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan satu dengan lainnya).
Karenanya, sesama mukmin seharusnya saling memperkuat mukmin yang lain, bukan saling menjatuhkan antara satu kelompok muslim dengan kelompok muslim lainnya.

2 Responses to “Rekonstruksi Cara Memahami Islam Agar Terhindar Dari Aliran Sesat (Bagian 1)”

  1. abdullah said

    salam….
    salut dengan karyanya.
    mudah-mudah ulama kita dapat berpikiran seperti di atas. sehingga pengikutnya tidak bingung. amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: