Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Untuk Apa Al-Qur’an diturunkan? (bagian 1)

Posted by almakmun on 07/05/2009

Jika kita tanyakan pada orang-orang yang kita temui tentang untuk apa al-Qur’an diturunkan ?, tentu jawabannya bermacam-macam sesuai dengan apa yang dipahami oleh orang tersebut. Kalau kita tanyakan kepada orang-orang yang menghafal al-Qur’an, akan menjawab bahwa al-Qur’an untuk dihafal. Kalau kita tanyakan kepada orang yang senang membaca al-Qur’an, akan menjawab bahwa al-Qur’an untuk dibaca. Kalau kita tanyakan kepada intelektual muslim , akan menjawab al-Qur’an untuk dipahami. Begitu juga kalau kita tanyakan pada filosof Muslim, akan menjawab bahwa al-Qur’an diturunkan untuk dijadikan landasan pemikiran filosofis. Jika kita tanyakan kepada orang yang suka membuat jimat, akan menjawab al-Qur’an diturunkan untuk dijadikan jimat. Jika kita tanyakan kepada orang Islam KTP (kartu penduduk) saja, akan menjawab al-Qur’an sebagai asesoris keluarga muslim. Kalau kita tanyakan kepada orang-orang yang mengobati orang-orang sakit dengan ayat-ayat al-Qur’an, akan menjawab al-Qur’an untuk obat. Namun, tentunya jawabannya akan berbeda manakala kita tanyakan kepada al-Qur’an sendiri yang tentunya berisi tujuan yang diharapkan oleh Allah.

Al-Qur’an Sebagai Petunjuk Hidup
Pada zaman modern ini mushaf al-Qur’an telah dicetak di seluruh dunia beserta terjemahannya dalam berbagai bahasa. Namun, sangat disayangkan banyak orang belum mampu memahami maksud Allah menurunkan al-Qur’an. Sehingga fakta menunjukkan bahwa mushaf al-Qur’an hanya menjadi asesoris rumah tangga saja, atau hanya dibaca saja dan sebagian menghafalnya dengan baik. Hal tersebut tidak jelek karena telah ada kepedulian terhadap al-Qur’an.
Akan tetapi kepedulian terhadap al-Qur’an tidak boleh berhenti pada batas tersebut, karena maksud Allah menurunkan al-Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi manusia, membenarkan penyelewengan isi dari kitab suci sebelumnya dan membedakan gagasan yang benar dengan gagasan yang salah. Sebagaimana dinyatakan Allah dalam surah al-Baqarah (2) ayat 185 :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
(Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan berisi penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk yang telah ada (dalam kitab suci sebelumnya) dan pembeda (antara gagasan yang benar dengan gagasan yang salah).
Memang Allah menciptakan manusia dan menyempurnakan penciptaanNya dan sekaligus membuat ketentuan-ketentuannya serta memberikan petunjuk bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupan dunianya dan kehidupan alam kuburnya serta akhiratnya. Sebagaimana dinyatakan Allah dalam surah al-A’la (87) ayat 1-3 :
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى(1) الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى(2) وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى(3)
(Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaanNya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk).
Jika tujuan al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, maka seharusnya para wisudawan hari ini tidak boleh merasa puas ketika telah mengajarkan cara membaca al-Qur’an dan menghafalkannya. Karena jika berhenti di sini saja, maka tujuan diturunkan al-Qur’an tidak akan tercapai sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupannya. Memang seseorang yang akan memahami al-Qur’an tidak mungkin tanpa membaca al-Qur’an terlebih dahulu, begitu juga seseorang tidak mungkin dapat mempraktekkan al-Qur’an tanpa memahami al-Qur’an terlebih dahulu. Oleh karena itu, tiga kata membaca, memahami dan mempraktekkan isinya tidak dapat dipisahkan.
Kalau kita membaca petunjuk pemakaian obat, maka tentunya dituntut memahaminya dan jika sudah memahaminya dituntut melaksanakan petunjuk tersebut. Jika kita hanya membaca saja, tentu tidak sesuai maksud penulisnya, begitu juga ketika kita puas hanya memahaminya tanpa melaksanakan petunjuk tersebut kita akan overdosis, maka bukan kesembuhan yang didapat, tetapi makin parah sakitnya bahkan mungkin saja mengantarkan orang yang meminumnya ke alam kubur.
Allah memberikan perumpamaan bagi orang-orang yang membaca al-Qur’an, namun tidak mau menggunakan petunjuknya, berarti ia tidak lebih cerdas dari sebuah gunung. Karena seandainya al-Qur’an diturunkan kepada gunung tentu gunung itu akan tunduk dan melaksanakan sepenuhnya petunjuk al-Qur’an dikarenakan takut kepada Allah. Perumpamaan tersebut digambarkan dalam surah al-Hasyr (59) ayat 21 :
لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْءَانَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
(Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah (melaksanakan isi al-Qur’an) disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: