Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Untuk Apa Al-Qur’an diturunkan (bagian 2)

Posted by almakmun on 07/05/2009

Al-Qur’an Sebagai Sarana Menyatukan Perbedaan Pendapat antar Umat Islam
Oleh karena itu, dijelaskan dalam al-Qur’an jika orang-orang mukmin berlainan pendapat dalam masalah tertentu, hendak-nya diselesaikan melalui firman Allah dan sabda Rasulullah SAW, karena hal ini mempunyai akibat yang lebih baik. Hal ini dijelaskan dalam surah al-Nisa’ (4) ayat 59 : يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ ْالآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاٍ (Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (ulama) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya).
Selain itu, karena al-Qur’an memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus menuju Allah dan memberikan berita gembira bagi orang-orang mukmin dengan pahala atas perbuatan yang shaleh. Sebagaimana dijelaskan dalam surah al-Isra’ (17) ayat 9 : إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا (Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar).
Keempat, al-Qur’an diturunkan sebagai penawar (dari kebodohan) dan untuk menimbulkan kasih sayang sesama orang-orang yang beriman. Hal ini dijelaskan dalam surah al-Isra’ (17) ayat 82 : وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا (Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian).

Cara al-Qur’an Menjelaskan Petunjuknya
Al-Qur’an menjelaskan petunjuknya melalui lima cara berikut :
Pertama, pemberian wawasan baru terhadap pandangan yang berkembang dalam sebuah masyarakat tertentu. Sebagaimana dilakukan al-Qur’an dalam pemberian pemahaman baru terhadap keyakinan yang ada. Misalnya, ketika manusia menganggap kesuksesan seseorang diukur dari segi materi, maka Allah menjelaskan bahwa orang sukses itu diukur dengan kualitas iman, amal saleh, saling berpesan terhadap kebenaran yang datang dari Allah dan saling berpesan terhadap kesabaran dalam menghadapi penderitaan. Hal ini dijelaskan dalam surah al-Ashr (103) ayat 1-3 : وَالْعَصْرِ(1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2) إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ(3) (Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran).
Kedua, pemberian jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh seseorang. Sebagaimana al-Qur’an menyampaikan materi petunjuknya melalui jawaban dari pertanyaan orang-orang sesaat sebelumnya turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad, misalnya tentang khamr dan judi, sebagai-mana dijelaskan dalam surah al-Baqarah (2) ayat 219 : يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا (Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”). Begitu juga tentang apa yang dinafkahkan, sebagaimana dijelaskan dalam surah dan ayat yang sama di atas sebagai berikut : وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ (Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Cara ini dalam istilah modern disebut dengan teori Strategy of learning start with question.
Ketiga, pemberian perumpamaan. Sebagaimana al-Qur’an memahamkan ajarannya dengan perumpamaan atau contoh sesuatu yang bisa dilihat, seperti Allah memberi perumpamaan orang kafir ketika datang kepada mereka ajaran Islam, seperti binatang yang tidak mengerti panggilan penggembalanya. Sebagaimana dijelaskan dalam surah al-Baqarah (2) ayat 171 : وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لاَ يَسْمَعُ إِلاَّ دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ (Dan perumpamaan orang-orang kafir adalah seperti peng-gembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti ajakan Islam). Juga Allah memberi perumpamaan orang-orang yang berdo’a kepada berhala seperti orang yang mengambil air minum dengan telapak tangan terbuka, sehingga tidak akan mendapatkan air untuk diminum. Hal ini dijelaskan dalam surah al-Ra’d (13) ayat 14 : لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لاَ يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلاَّ كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلاَّ فِي ضَلاَلٍ (Hanya bagi Allah-lah (yang berhak mengabulkan) do`a yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan do`a (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka).
Keempat, pengungkapan tokoh seja-rah yang pernah hidup di dunia ini baik tokoh yang perlu diteladani atau tokoh yang perlu dihindari. Sebagaimana al-Qur’an menjelas-kan petunjuknya dengan menyebut tokoh-tokoh yang pernah hidup di dunia yang harus dihindari, seperti Fir’aun, Qarun, Haman dan Qabil. Sedang tokoh yang harus diteladani, seperti Nabi Muhammad, Nabi Sulaiman, Nabi Yusuf, Dzulqanain, Keluarga Nabi Ibrahim, keluarga Imran, Luqman, Ashabul Kahfi dan lainnya. Dalam isitilah modern disebut dengan strategy of Sharing Experience. Contoh penjelasan al-Qur’an tentang Qarun, Fir’aun dan Haman adalah orang-orang yang menyombongkan diri karena tidak mau mengikuti ajaran yang disampaikan oleh Nabi Musa, sebagaimana dijelaskan dalam surah al-Ankabut (29) ayat 39 : وَقَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مُوسَى بِالْبَيِّنَاتِ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الأَرْضِ وَمَا كَانُوا سَابِقِينَ (Dan (juga) Karun, Fir`aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). Begitu juga al-Qur’an menjelaskan bagaima-na Dzulqarnain menemukan kelompok pertama yang ditemuinya di tempat matahari terbenan (Barat) adalah orang-orang yang tidak beragama, sehingga Allah memberikan kebebasan untuk menyiksa mereka atau memberikan peringatan kepada iman, maka Dzulqarnain memilih memberi peringatan terlebih dahulu, kemudian apabila mereka berbuat aniaya sesudah itu, iia akan menyiksanya dan kelak juga Allah akan menyiksa kembali. Hal ini dijelaskan dalam surah al-Kahfi (18) ayat 86-88 : حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا قُلْنَا يَاذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا(86) قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَى رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا(87) وَأَمَّا مَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَى وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا(88) (Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari (pantai sebelah barat), dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat (yang tidak beragama), Kami berkata : Hai Dzulkarnaian, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan (menyeru pada iman) terhadap mereka. Berkata Dzulqarnain: Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembali-kan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazab-nya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan dan akan kami perintahkan kepadanya yang mudah dari perintah-perintah kami).
Kelima, menjelaskan petunjuknya dengan penegasan llarangan dan perintah dalam tataran problem solving (pemecahan masalah dengan memberikan jalan keluar-nya). Sebagaimana Allah menjelaskan llarangan zina, yang terdapat dalam surah al-Isra’ (17) ayat 32 : وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً (Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk). Kalau zina adalah cara yang keji dan jalan yang buruk untuk menyalurkan dorongan seks, maka Allah memberikan jalan keluar yang baik untuk penyaluran dorongan seks, yaitu pernikahan, sebagaimana perintah nikah dalam surah al-Nur (24) ayat 32 : وَأَنْكِحُوا الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: