Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Biografi Ibn Taymiyah

Posted by almakmun on 16/05/2009

1. Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan

Nama lengkap Ibn Taymiyah adalah Taqiy al-Din Abu al-Abbas Ahmad bin Abd al-Halim bin Abd al-Salam bin Abdullah bin Abi al-Qasim bin Taymiyah al-Harran. Dia dilahirkan di desa Harran, Mesopotamia Utara dekat Damaskus pada hari Senin, 10 Rabi’ al-Awwal 661 H (22 Januari 1263 M) dan wafat pada malam Senin, 20 Dhu al-Qa’dah 728 H (26 September 1328 M).

Taymiyah dikenal sebagai keluarga terpelajar, Islami serta dihormati dan disegani oleh masyarakat luas di masanya. Taymiyah Adalah sebuah nama yang menurut kakeknya bermula pada saat ia melaksanakan ibadah haji. Adapun istrinya (nenek Ibn Taymiyah) sedang dalam kondisi hamil berada di rumah. Ketika berada di tengah perjalanan, tepatnya di Tayma’ – sebuah daerah dekat Tabuk– konon tiba-tiba ia melihat seorang gadis kecil cantik jelita yang muncul dari sebuah pintu gerbang. Ketika pulang dari Mekkah, ia diberitahu bahwa istrinya telah melahirkan anak perempuan yang kemudian dipanggilnya bayi itu dengan : Ya Taymiyah! Ya Taymiyah!. Karena itu bayi yang kelak melahirkan Ibn Taymiyah itu dinisbahkan pada sosok gadis cantik yang pernah dilihat dan dikaguminya di Tayma’. Dalam riwayat lain, nama Taymiyah dinisbahkan kepada nenek moyang Ibn Taymiyah.

Ayah Ibn Taymiyah adalah Shihab al-Din Abd Halim bin Abd al-Salam (627-682), beliau adalah seorang ulama besar yang mempunyai kedudukan tinggi serta dipercaya sebagai khatib dan imam besar sekaligus mu’allim bidang kajian tafsir dan hadith di masjid Agung Damaskus. Jabatan lain yang diembannya adalah sebagai direktur Madrasah Dar al-Hadith as-Sukriyah (Sebuah lembaga pendidikan Islam yang bermadhab Hanbali yang sangat maju dan bermutu saat itu dan disini pulalah dia mendidik putra kesayangannya Ibn Taymiyah).

Kakek Ibn Taymiyah adalah Shaikh Majd ad-Din Abi al-Barakat Abd al-Salam bin Abdullah (590-652 H). dalam penilaian al-Shawkani (1172-1250) ia dinyatakan sebagai seorang mujtahid mutlak, beliau adalah seorang alim termashur yang ahli tafsir, hadith, ahli usul fiqh, fiqh dan nahwu. Sedangkan al-Khatib Fakhr ad-Din adalah pamannya yang merupakan seorang cendekiawan muslim populer dan pengarang yang produktif di masanya. Sharaf al-Din Abd Allah bin Abd al-Halim (696-727 H) adalah adik laki-lakinya yang dikenal sebagai ilmuwan muslim ahli bidang kewarisan Islam (faraid), ilmu h}adith dan ilmu pasti (al-Riyadiyat).

Kesungguhan dan ketekunan Ibn Taymiyah dalam mencari ilmu serta kecerdasan dan kepribadian luar biasa yang dibarengi dengan sikap wara’, zuhud, dan tawad}u’, sehingga menjadikannya sosok yang mempu nyai prestasi besar dalam dunia Islam. Ia tidak hanya dikenal sebagai ulama besar, tetapi juga seorang pejuang tangguh dan pengarang yang produktif. Lebih dari itu, ia dapat dikatakan sebagai salah seorang tokoh Islam yang independent, tidak terikat dengan pemahaman dan aliran tertentu dan selalu siap menerima dan membela siapapun yang menurutnya sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah.

Pertengahan 667 H (1270 M), ketika ia berumur kurang lebih enam tahun, kota Harran diserang oleh bangsa Tartar (Mongol). Kondisi semacam ini, mengharuskan keluarga besar Taymiyah memutuskan untuk hijrah ke Damaskus. Namun apa dikata, ternyata selama dalam pengungsian, keluarganya banyak mengalami kesulitan dan penderitaan, sehingga peristiwa tersebut sangat membekas di hati Ibn Taymiyah dan menyebabkan kebencian yang mendalam pada bangsa Tartar, yang nantinya dia akan tampil memimpin perlawanan militer. Mereka menempuh perjalanan pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan buku-buku, bukan harta benda.

Damaskus merupakan kota untuk menimba ilmu dari sejumlah ulama terkemuka. Meskipun Damaskus merupakan kota yang tidak begitu aman, karena dibayang-bayangi oleh tentara Mongol, Ibn Taymiyah dapat belajar dengan tenang dan lebih mudah mengembangkan ilmunya dari pada hidup di Harran. Hal ini dikarenakan Damaskus selain dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam selain Mesir, juga merupakan pusat berkumpulnya para ulama besar dari berbagai madhab atau aliran yang ada pada saat itu.

Awalnya Ibn Taymiyah mencurahkan perhatiannya untuk mempelajari al-Qur’an (umur tujuh tahun sudah hafal al-Qur’an dengan baik) dan hadith, kemudian bahasa Arab, ulum al-Qur’an, ulum al-Hadith, fiqh, usul fiqh, sejarah, kalam, mantiq, filsafat, tasawuf, ilmu jiwa, ilmu sastra, matematika dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Dengan perhatiannya yang besar terhadap dunia intelektual, ia digambarkan oleh al-Dhahabi sebagai sosok yang pantang terhadap makanan, pakaian dan seks, tetapi lebih tertarik untuk memperluas ilmu pengetahuan dan mendorong amal yang sesuai dengan ilmunya.

Setelah menguasai bermacam disiplin ilmu, Ibn Taymiyah yang telah menjadi mufti sejak umur 20 tahun, kemudian mengabdikan ilmunya demi kejayaan Islam dan kepentingan umat Islam. Setelah ayahnya meninggal dunia, ia menggantikan posisinya sebagai guru besar studi h}adith dan fiqh madhab Hanbali di beberapa madrasah terkenal di Damaskus. Kuliah-kuliahnya mencakup semua aspek ajaran Islam, akan tetapi fokus utamanya adalah menghidupkan kembali semangat Nabi Muhammad Saw., dan sahabat-sahabatnya, ketika Islam tercerami oleh ide-ide asing serta bid’ah dan khurafat.

Ibn Taymiyah meninggal pada tanggal 20 Dzu al-Qa’dah 728 H (26 September 1328 M), dan disemayamkan di samping makam saudaranya Shaikh Jamal al-Islam Syarafuddin. Beliau meninggal ketika berada di dalam penjara Qalah Dimashq yang disaksikan oleh salah seorang muridnya yang bernama, Ibn Qayyim. Jenazah beliau di shalatkan di masjid Jami Bani Umayah sesudah salat dhuhur. Semua penduduk Damaskus (yang mampu) hadir untuk mensalatkan jenazahnya, termasuk para umara, ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Damaskus menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Damaskus tua, muda, laki-laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.

2. Setting Sosial dan Politik Masa Ibn Taymiyah

Ibn Taymiyah dilahirkan sekitar lima tahun setelah tentara Mongol menjatuhkan kota Baghdad, ibukota dinasti Abbasiyah. Dengan jatuhnya Baghdad, maka runtuhlah kerajaan Islam yang telah berkuasa selama lima abad (750-1258 M) dan telah berhasil mencapai kejayaannya baik dalam kemajuan fisik ataupun kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Kota Baghdad kemudian diduduki oleh Dinasti Ilkhan sedangkan khilafah Islam setelah jatuhnya Baghdad dikuasai oleh kerajaan Mamluk (1250-1517 M) dengan Mesir sebagai pusat kekuasaannya.

Kondisi masyarakat di masa Ibn Taymiyah sangat heterogen, baik kebangsaan, status sosial, agama, aliran, budaya dan hukum. Keadaan ini diakibatkan adanya kekacauan lingkungan yang karena sering terjadi peperangan yang menyebabkan adanya pengungsi dari berbagai daerah datang dan menetap di sana.

Setelah Baghdad jatuh, dunia Islam tenggelam dalam kemunduran dan menghadapi berbagai tantangan. Dari arah Barat, umat Islam menghadapi ancaman orang-orang Spanyol yang sejak abad II telah melancarkan perang Salib. Selama dua abad lamanya (1097-1292 M) terjadi tidak kurang tujuh kali pertempuran. Arah Timur umat Islam menghadapi ancaman tentara Mongol. Pada tahun 1253 M. Hulagu Khan, cucu dari Jengis Khan meninggalkan negerinya dan melancarkan invasi ke negeri-negeri Islam. Pertama yang ditaklukan adalah kerajaan Khawarizm di Khurasan, kemudian kerajaan Assasins di Alamut. Pada tahun 1258 M mereka menghancurkan Baghdad dan berhasil membunuh ratusan ribu penduduknya. Setelah mengancurkan Baghdad, tentara Hulagu Khan melancarkan aksinya ke Syria dan berhasil menduduki kota Aleppo, Hamah dan Harim. Selanjutnya mereka menuju ke Mesir, akan tetapi di Ayn Jalut mereka dikalahkan oleh tentara Barbar. Di samping itu, kondisi di dalam negeri tidak stabil akibat permusuhan antara para penguasa dan sekte-sekte di kalangan Islam sendiri.

Pada 1293 M. Ibn Taymiyah mulai terseret dan terlibat dalam kancah dunia politik praktis –yang menjadikannya semakin terkenal karena nampak kontroversial dalam keterlibatannya, dengan munculnya kasus seorang Kristen kebangsaan Suwayda’, Assaf al-Nasrani, yang menghina Nabi Muhammad Saw. Dalam kasus ini, umat Islam meminta gubernur Syria untuk menghukum mati. Dengan bererapa pertimbangan, gubernur memberi dua opsi antara memeluk Islam atau dihukum mati. Pilihan memeluk Islam telah membebaskan Assaf dari hukuman mati. Dalam hal ini, Ibn Taymiyah memprotes keras penyelesaian kasus tersebut karena sarat nuansa politis. Menurutnya, siapa saja yang menghina Nabi Muhammad Saw., harus dihukum mati. Karena masuknya seseorang ke dalam Islam tidak berimplikasi pada pengguguran hukuman atas tindak kejahatan yang dilakukannya.

Dengan sikap tegas tersebut, Ibn Taymiyah akhirnya harus rela mendekam pertama kali di dalam penjara Adhrawiyah, Damaskus (693 H/1293 M). Kondisi semacam ini, justru membangkitkan semangatnya untuk mengarang buku perdananya yang berjudul Al-Sarim al-Maslul ‘ala Shatim al-Rasul.

Ibn Taymiyah menghirup udara bebas pada 17 Sha’ban 695 H/1296 M. Ia kemudian mengajar di madrasah Hanabilah, suatu madrasah Hanbali tertua dan paling bermutu di Damaskus saat itu. Peran Ibn Taymiyah yang cukup besar karena kewibawaan dan keberaniannya di mata umat saat itu, mendorong sultan al-Malik al-Manshur untuk mengajaknya turut serta mendesak umat Islam berijtihad bersama-sama sultan dalam rangka menentang kerajaan Armenia kecil.

Ibn Taymiyah sebenarnya telah lama terlibat kontroversi teologis dan sufistik dengan orang-orang yang tidak sepaham dengannya, ia harus mengalami ujian berat atas tuduhan tajsim (antrophomorphisme) dan tasbih (menyerupakan Tuhan dengan mahluk) dari lawan-lawannya. Ujian pertama yang dialaminya berkaitan dengan orang-orang Hammah yang meminta fatwa tentang pemahaman sifat-sifat Tuhan yang terdapat dalam beberapa ayat al-Qur’an. Atas beberapa pertanyaan tersebut, Ibn Taymiyah menjawabnya dalam bentuk risalah yang dikenal dengan al-Risalah al-Hamawiyah.

Sementara itu, situasi politik di Syria semakin lama semakin berbahaya dan tidak menentu. Serdadu Mongol dengan senjata yang relatif lebih modern berhasil merebut sebagian besar wilayah Syria pada tahun 699 H/1300 M. dengan kondisi semacam ini, mendorongnya untuk menghentikan polemiknya dalam hal pemahaman keagamaan untuk sementara waktu dan mulai mencurahkan perhatiannya menghadapi dan mengusir tentara yang menjajah negerinya.

Bersama-sama tokoh Islam lain, Ibn Taymiyah dengan keahliannya sebagai orator ulung turut serta berkampanye dan ambil bagian dalam melakukan agitasi politik untuk membangkitkan semangat rakyat Syria agar berjihad fi sabilillah dan rela berkorban untuk melepaskan tanah airnya dari cengkraman pasukan Mongol. Demi kepentingan itu pula, pada tahun 700 H/1301 M. Ibn Taymiyah pergi ke Kairo dalam rangka memohon bantuan militer kepada Sultan Mamluk, yakni al-Malik al-Nasir Muhammad bin al-Mansur al-Qalawun.

Usaha Ibn Taymiyah ternyata tidak sia-sia dan memberi harapan bagi banyak pihak. Sultan al-Malik mengabulkan permohonannya dan mengirimkan angkatan bersenjatanya ke Syria. Ibn Taymiyah sendiri yang ternyata berjiwa pejuang dan berdarah militer, oleh pemerintah diberi tugas untuk memimpin langsung pasukan Islam melawan pasukan penjajah. Ibn Taymiyah dengan pasukan tempur yang dikomandaninya akhirnya membawa kemenangan pada peristiwa Shaqhab (702 H/1303 M). Dengan keberhasilannya itu, membuat namanya semakin terkenal.

Ketika Ibn Taymiyah menulis Risalah al-Hamidiyah yang isinya membela pendapat Ahmad Ibn Hanbal, ia kembali dituduh tajsim dan tasbih oleh musuh-musuhnya. Untuk membantah itu, ia menulis al-Risalah al-Wasitiyah yang ternyata oleh lawan-lawannya justeru dianggap memperkuat tuduhan mereka. Untuk memprtanggungjawabkan tulisannya yang dianggap meresahkan masyarakat, pada 705 H/1305 M. Ibn Taymiyah dihadapkan kepada Sultan Mesir. Ia diadili oleh al-Qadi Zayn al-Din bin Makhluf (salah seorang rival yang selalu memusuhi Ibn Taymiyah, sehingga kejujuran dan keadilannya sangat diragukan. Betapapun pintar dan lantangnya Ibn Taymiyah dalam pembelaan diri, ia tidak berdaya untuk lolos dari jeratan penjara).

Selama diasingkan di benteng Kairo selama kurang lebih 1,5 tahun, Ibn Taymiyah menelorkan beberapa karya yang di antaranya berisi kritikan dan tantangan terhadap ajaran wahdat al-wujud Ibn Arabi, tawassul dan istighathah serta ajaran-ajaran tasawuf lainnya yang dinilainya menyimpang dari ajaran Islam.

Berkat bantuan Hisham al-Din Mahna bin Isa, seorang amir Arab, Ibn Taymiyah dibebaskan dari penjara Kairo. Namun baru beberapa bulan dibebaskan, dalam tahun yang sama dia harus berurusan lagi dengan pihak yang berwajib atas pengaduan kaum sufi yang konon disponsori oleh Ibn Ata’.

Dari sisi keagamaan, kehidupan umat Islam ditandai dengan kebekuan berpikir dan fanatisme madhab. Sejak abad IV H/10 M, madhab empat mempunyai kedudukan mapan dalam kehidupan umat Islam, dan umat Islam hidup dalam zaman taqlid di mana penetapan hukum didasarkan kepada pendapat-pendapat ulama’ madhab yang tersusun dalam kitab-kitab fiqh. Adapun ijtihad dalam persoalan fiqh bisa dikatakan tidak berkembang sama sekali.

3. Metode Pemikiran Ibn Taymiyah

Landasan pokok dalam melakukan reformasinya adalah al-Qur’an dan h}adith. Menurutnya, agama adalah apa yang dishari’atkan oleh Allah dan rasul-Nya. Oleh karena itu, yang dijadikan pijakan adalah beribadah kepada Allah semata dan dilakukan menurut aturan-aturan yang telah dishari’atkan, tidak dengan bid’ah. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari ikrar dua kalimat shahadat. Dengan melakukan segala sesuatu hanya karena Allah dan mengikuti segala apa yang disampaikan dan diajarkan oleh Muhammad sebagai utusan-Nya.

Ibn Taymiyah mempunyai keyakinan yang mendalam bahwa al-Qur’an dan h}adith telah mencukupi semua urusan keagamaan (umur al-Din) baik yang berhubungan dengan masalah aqidah, ibadah atau muamalah. Dasar hukumnya adalah :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (النساء: 59)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Al-Nisa’: 59)

Ibn Taymiyah dalam membangun sistem hukum berpikir mengenai segala aturan keagamaan, baik yang berhubungan dengan masalah aqidah, atau amaliah berdasarkan al-Qur’an dan hadith. Pijakan tersebut kemudian dikembangkan dalam berbagai pemikiran yang tertuang dalam berbagai karyanya sebagai refleksi dari kondisi kehidupan keagamaan pada saat itu yang berupa berkembangnya taqlid, bid’ah, khurafat dan fitnah. Meskipun hal tersebut menimbulkan perdebatan polemik, keluar masuk penjara sampai larangan menulis dan mengarang di kemudian hari.

Dalam mengungkapkan pemikirannya, ia nampak sangat elegan sekaligus mencolok, penuh dengan referensi otentik, diperkuat dengan argumentasi rasional dan bukti-bukti hadith. Ketika menjelaskan berbagai subyek, ia selalu mengutip al-Qur’an sebagai dasarnya, membahas maknanya dengan referensi silang dari hadith Nabi dan mengoreksi otentitasnya, kemudian ia menguraikannya dengan pendapat para imam madhab yang relevan serta pendapat ahl fiqh termashur lainnya. Cara membahas masalahnya menggunakan berbagai jalan, sehingga masalah dan jalan keluarnya menjadi jelas dalam pikiran para pemerhatinya. Di samping itu, Ibn Taymiyah memiliki ingatan yang bagus yang membantunya dalam berpolemik dengan lawan-lawannya. Namun demikian, ia juga memiliki alur pemikiran keagamaan yang nampak begitu ketat dan bahkan literalis dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an terutama masalah aqidah dan ibadah, sedangkan dalam masalah muamalah dia terlihat sangat luwes dan tidak kaku.

Bidang sosial-politik, pemikirannya tiada lain hanya untuk menunjukkan kemudahan praktek hukum Islam, sebagaimana banyak ditemukan dalam fatwa-fatwanya, seperti kritiknya terhadap filosuf muslim yang dinilai terlalu mendewakan akal dan mengabaikan dalil naql serta fuqaha yang mementingkan ibadah-ibadah yang bersifat lahiriyah formal dan lain-lain. Oleh karena itu, ia banyak melakukan koreksi terhadap umat Islam (golongan-golongan dan sekte-sekte) yang ajarannya telah banyak tercampur aduk dengan paham dan praktek-praktek luar (non muslim) yang dinisbahkan kepada Islam, sehingga Islam yang semestinya mudah di fahami dan ringan untuk diamalkan menjadi sulit dimengerti dan bahkan berat untuk diamalkan. Dalam hal ini, ia lebih banyak menonjolkan empirismenya sebagai upaya untuk memahami al-Qur’an dan hadith sebagaimana adanya dan sekaligus berupaya agar hukum Islam dapat dipraktekkan sesuai dengan kenyataan hidup dan keperluan manusia.

Sisi lain corak pemikirannya adalah penolakannya terhadap ta’wil yang dipahami oleh ulama khalaf, terutama dari kalangan filosuf, teolog di samping juga sufi dan fuqaha, yaitu mengalihkan pengertian suatu lafal dari maknanya yang rajih kepada yang marjuh (yang dikuatkan), atau memalingkan suatu kata dari arti kata haqiqi ke arti majazi. Menurutnya, pengertian tersebut tidak dikenal di zaman sahabat dan tabi’in, bahkan imam kaum muslimin tidak pernah mengkhususkan pengertian ta’wil semacam itu.

Menurut Nur Cholis Madjid, Ibn Taymiyah merupakan sosok egalitarianis radikal yang metodologi pemahamannya kepada agama menolak otoritas apapun kecuali al-Qur’an dan sunnah, serta ijma’ umat muslimin. Namun tidak berarti bahwa ia berantipati terhadap pendapat para tokoh dan aliran lain yang menurutnya sesuai dengan dan mengembangkan nilai-nilai al-Qur’a>n dan hadith.

Metode pemikiran Ibn Taymiyah adalah:

  • Menghilangkan kebenaran mutlak akal karena naql tidak mungkin bertentangan dengan aql dan posisi aql harus mengikuti naql tidak seperti mutakallimin yang lebih mengutamakan aql dari naql
  • Tidak mengikuti pendapat seseorang yang tidak mempunyai dasar al-Qur’an dan hadith atau pendapat salafus salih
  • Menghilangkan ta’as}ub dan jumud dala berpikir. Ketika menafsirkan al-Qur’an dan hadith, akal harus ada di belakang nas-nas} agama dan tidak boleh berdiri sendiri, tidak berhak menafsirkan, menguraikan dan menta’wilkan, kecuali dalam batas-batas yang diijinkan oleh bahasa dan dikuatkan oleh h}adith. Akal hanyalah sebagai saksi pembenar dan penjelas dalil-dalil al-Qur’an.

Ibn Taymiyah mengemukakan berbagai titik kelemahan mantiq Aristoteles dan filsafat pada umumnya. Pokok persoalan mantiq adalah pembentukan pengertian tentang sesuatu yang dilakukan dengan metode definisi dan pembentukan putusan yang dengan metode argumentasi. Berkenaan dengan pembentukan pengertian, ia mengkritik pendapat ahl mantiq yang mengatakan bahwa definisi dapat menjelaskan hakikat sesuatu dan merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh pengertian tentang sesuatu. Menurut Ibn Taymiyah, definisi tidak menjelaskan hakikat sesuatu, tetapi hanya menyebutkan ciri-cirinya. Definisi bukan satu-satunya cara untuk memperoleh pengertian, selain metode definisi terdapat cara lain untuk memperoleh pengertian tentang sesuatu.

4. Karya Ibn Taymiyah

Ibn Taymiah adalah seorang pemikir yang produktif dalam hal tulis menulis. Di antara karangan-karangannya adalah:

Al-Siyasah al-Shar’iyah fi Islah al-Ra’i wa al-Ra’iyah, Al-fatawa, Al-Iman, Al-Jami’ bayn al-Naql wa al-Aql, Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah Fi Naqdhi Kalam al-Shi’ah wa al-Qadariyah, al-Furqan bayn Awliya’ Allah wa Awliya’ al-Shayan, Al-Wasitah bayn al-Haq wa al-Khalq, Al-Sarim al-Masluk ‘ala Shatim al-Rasul, Majmu’ al-Rasa’il, Nazariyah al-‘Aqd; Qaidah fi al-Uqud, Talkhis Kitab al-Istighathah; al-Rad ‘ala al-Nakri, Al-Rad ‘ala al-Akhnai, Ra’u al-Malam ‘an al-Aimmah al-A’lam, Sharh al-Aqidah al-Fiqhiyah, Majmu’ al-Rasa’il wa al-Masail, Naqd al-Mantiq, Al-Ubudiyah, Huquq Ali al-Bayt, Kitab al-Rad ‘ala al-Mantiqiyin, Majmu’ al-Rasa’Il al-Kubra, Qa’idah Jalilah fi al-Tawassul wa al-Wasilah.

NB. Disarikan dari buku-buku di bawah ini

Abd al-Halim al-Jundi, Ahmad bin Hanbal; Imam al-Sunnah (al-Jumhuriyah al-Arabiyah al-Muttahidah al-Majlis al-A’la li al-Shu’un al-Islamiyah, 1970).

Abd al-Salam Hashim Hafiz, Al-Imam ibn Taymiyah (Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1969)

As-Sir al-Jamli, Munazarat Ibn Taymiyah; Ma’a Fuqaha’ ‘Asrih (Nashir: Dar al-Kutub al-Arabi: tt)

H.A.R. Gib dan J.H. Kramers, ed, Shorter Encyclopaedia of Islam, jil: III (Leiden: G.J. Brill, 1961)

Ibn Rajab, Dail Tabaqat al-Hanabilah (Kairo: Matba’ah al-Sunnah al-Muhammadiyah, 1953)

Ibn Taymiyah, al-Sarim al-Maslul ala Shatim al-Rasul (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1978)

Ibn Taymiyah, al-Ubudiyah (Beirut: al-Maktab al-Islami, 1392)

Ibn Taymiyah, Kitab al-Rad ala al-Mantiqiyin (Beirut: Dar al-Ma’rifat, tt)

Ibn Taymiyah, Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah; Fi Naqdhi Kalam al-Shi’ah wa al-Qadariyah jil: I (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, tt)

Ibn Taymiyah, Qaidah Jalilah fi al-Tawassul wa al-Wasilah (Beirut: al-Maktab al-Islami, 1970)

Imam Munawir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam (Surabaya: Bina Ilmu, 1985)

M. Husni al-Zayn, Mantiq Ibn Taymiyah wa Manhajuh al-Fikr (Beirut: al-Maktab al-Islami, 1979)

Muhammad Abu Zahrah, Ibn Taymiyah; Hayatuhu wa Asruhu, Aruhu wafiqhuhu (Dar al-Fikr al-Arabi, tt)

Muhammad Bahjah al-Baythar, Hayat Shaikh al-Islam Ibn Taymiyah (Al-Maktab al-Islami, tt)

Muhammad Ibn Ali Ibn Muhammad bin Abdullah al-Shawkani, Nayl al-Awtar Sharh Muntaqa al-Akhbar min Ahadith Sayyid al-Akhbar, juz I (Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi, tt)

Muhammad Yusuf Musa, Ibn Taymiyah (al-Muasasah al-Misriyah al-‘Ammah, tt)

Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara (Jakarta: UI Press, 1990)

Nur Cholis Madjid, Khazanah Intelektual Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1984)

Philip K Hitti, History of the Arab, (London: Mac Millan Press, 1970)

Qomaruddin Khan, Pemikiran Politik Ibnu Taymiyah, terj. Anas Mahyudin (Bandung: Pustaka Bandung, 1983)

Sa’ad Sadiq Muhammad, Ibn Taymiyah; Imam al-Shayf wa al-Qalam (Mesir: al-Majlis al-A’la li al-Shu’un al-Islamiyah, tt)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: