Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Biografi Muhammad Shahrur

Posted by almakmun on 16/05/2009

1. Riwayat hidup

Nama lengkapnya adalah Muhammad Shahrur Ibn Deyb, lahir di Damaskus, Syria, tanggal, 11 April 1938. Pendidikannya diawali di sekolah Ibtidaiyyah, I’dadiyah, dan Sanawiyah, di kota kelahirannya, Damaskus. Ia mendapat ijazah S{anawiyah dari sekolah Abdu al-Rahman al-Kawakkib (1957-1958). Pada tahun 1957-1964, dengan beasiswa dari pemerintah Damaskus, Shahrur hijrah ke Uni Soviet untuk melanjutkan studi teknik sipil di Saratow, dekat Moskow, pada 1964, berhasil menyelesaikan program diploma teknik sipil. Begitu juga dengan S1-nya juga diselesaikan di Moskow. Pada 1965, Shahrur kembali ke Syria dan mengajar pada fakultas teknik di Universitas Damaskus. Tahun 1968, (sampai tahun 1972), ia dikirim oleh pihak universitas ke Irlandia untuk studi Pascasarjana (MA dan Ph.D.) dalam spesialisasi mekanika tanah dan teknik fondasi pada Ireland National University, Dublin. Shahrur diangkat sebagai Professor jurusan Teknik Sipil di Universitas Damaskus (1972-1999). Sampai sekarang, ia masih tetap tercatat sebagai tenaga edukatif di fakultas teknik sipil Universitas Damaskus tersebut dalam bidang mekanika tanah dan geologi.

Pada tahun 1982-1983, Shahrur didelegasikan ke Saudi Arabia menjadi peneliti teknik sipil pada sebuah perusahaan konsulat di sana. 1995, ia menjadi peserta kehormatan di dalam debat publik tentang Islam di Maroko dan Libanon.

Shahrur yang berlatar belakang teknik, ternyata meminati secara mendalam masalah-masalah keislaman. Hal ini sebagaimana diwujudkannya dalam al-Kitab wa al-Qur’an. Buku inilah sebenarnya yang telah membuat namanya melejit dalam kancah blantika pemikiran. Renungan dalam buku ini ternyata tidak tanggung-tanggung, sebab ditulisnya waktu yang cukup lama, 20 tahun. Di bidang spesialisasinya sendiri, Shahrur sebetulnya juga termasuk menonjol, khususnya di negaranya sendiri, sebab pada 1972, bersama rekan-rekannya, ia membuka biro konsultasi teknik Dar al-Istisarat al-Handasiyah di Damaskus, dan kemudian pada 1982-1983 kembali pihak universitas mengirimnya ke luar negeri sebagai tenaga ahli pada Al-Saud Consult, Saudi Arabia.

2. Kondisi Sosial dan Politik Syria

Syria merupakan negara yang kurang lebih 90% penduduknya adalah muslim, terdiri dari mayoritas Sunni, lainnya pengikut ‘Alawi (Shi’ah) dan Druze. Selebihnya adalah penganut agama lain, seperti Kristen Ortodoks (Yunani, Armenia dan Suriah) dan Yahudi. Agama, khususnya Islam menjadi suatu kekuatan politik dan sosial di Syria.

Seperti umumnya yang dialami oleh negara-negara Timur Tengah, Syria pernah menghadapi problem modernitas khususnya faktor hubungan antara agama dengan gerakan modernisasi Barat. Problem ini muncul karena di samping Syria pernah diinvasi oleh Perancis, juga dampak dari gerakan modernisasi Turki. Problem ini pada gilirannya memunculkan tokoh-tokoh semacam Jamal al-Din al-Qasimi (1866-1914) dan Tahir al-Jazayri (1852-1920) yang berusaha menggalakkan reformasi keagamaan di Syria.

Reformasi al-Qasimi berorientasi pada pembentengan umat Islam dari kecenderungan tanzimat yang sekuler dan penggugahan intelektual Islam dari ortodoksi. Untuk itu, umat Islam harus dapat meramu rasionalitas, kemajuan dan modernitas dalam bingkai agama. Perjuangan al-Qasimi diteruskan oleh Tahir al-Jazayri beserta teman-temannya dan gagasannya kali ini lebih mengarah pada upaya pemajuan di bidang pendidikan. Dari sinilah terlihat, bahwa iklim intelektual di Syria, setingkat lebih “maju” dibandingkan dengan negara-negara Muslim Arab lainnya yang masih memberlakukan hukum Islam positif secara kaku, terutama dalam hal kebebasan berekspresi. Angin segar bagi tumbuhnya suatu imperium pemikiran di Syria, lebih nyata dan menjanjikan ketimbang di negara-negara Arab lainnya. Sehingga lantaran itu pulalah mengapa orang-orang “liberal” seperti Shahrur dapat bernafas lega di Syria untuk menelorkan ide-ide kreatifnya yang bagi banyak negara Muslim lainnya menjadi sangat forbidden, unlawful.

Perkembangan Syria secara politik, tercatat adanya masa-masa kelam. Sejak berhasil merebut kemerdekaan tahun 1946 dari tangan Perancis, sampai tahun 1970, Syria mengalami masa transisi dan instabilitas politik. Tampuk pemerintahan selalu mengalami pergantian dalam waktu yang relatif singkat melalui kudeta. Konflik-konflik yang bernuansakan kepentingan politis maupun sara (suku, adat, ras dan agama) selalu mewarnai dan melatar belakangi terjadinya berbagai konflik yang ada. Seperti konflik antar partai yang beraliran nasionalis, sosialis dan Islam, juga konflik antar etnik dan aliran keagamaan seperti ‘Alawi (Shi’ah) dan Sunni. Konflik-konflik tersebut tidak saja terbatas pada dataran ideologi. Akan tetapi, sampai menjurus pada konflik berdarah yang memakan banyak korban jiwa. Masa transisi dan instabilitas sosial politik bisa dikatakan “berakhir” pada masa kekuasaan partai Ba’ath di bawah pimpinan jenderal Hafiz al-Asad pada tahun 1970. Partai Ba’ath mendapat sambutan di kalangan masyarakat pelajar. Hal ini dikarenakan pada awalnya memang partai ini berorientasi pada para golongan intelektual. Di samping itu, yang menjadikan partai Ba’ath mendapat sambutan yang begitu besar karena ideologinya, yaitu: Pertama, upaya melakukan reformasi. Kedua, partai Ba’ath adalah partai yang selalu menganjurkan persatuan seluruh bangsa Arab dan Ketiga meskipun Aflaq seorang non-muslim, namun dia meyakini hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara Islam dan Arabisme. Sehingga toleransi beragama harus tetap terjaga

Semenjak berkuasa, ia secara totaliter banyak meredam aksi-aksi pemberontakan dan perlawanan musuh politiknya dengan berbagai macam cara.

Syria di masa Shahrur adalah negara merdeka as a democratic socialist republic, menganut paham demokrasi yang sekuler, berbentuk republik, menganut sistem perekonomian sosialis, dan sistem pemerintahannya presidensil. Undang-undangnya menyebutkan bahwa Islam sebagai agama resmi negara, presiden harus beragama Islam dan hukum Islam menjadi sandarannya. Namun pada prakteknya hukum Islam hanya diterapkan di dataran perdatanya saja seperti pada hukum waris dan nikah, sementara hukum pidana diadopsi dari hukum Perancis, hukum Islam hanya diambil filosofinya saja. Sementara bagi komunitas agama lain disediakan peradilan untuk menangani urusan perkawinan, perceraian, dan waris. Tujuan pemerintah Syria – di bawah Asad saat itu– dalam mencamtumkan hal-hal berbau Islam di atas, ke dalam undang-undang dasar Syria merupakan bentuk siasat kompromi untuk meredam aksi pemberontakan yang dilakukan oleh Ikhwanul Muslimin di bawah pimpinan Mustafa al-Siba’i pada 1973. Akan tetapi, hal itu tidak berhasil memupus habis pemberontakan hingga ke akar-akarnya.

Pemerintahan partai Ba’ath dikenal sebagai rezim otoriter. Mereka berkuasa sejak tahun 1963 di bawah kekuasaan Junta militernya hingga sekarang –partai ini mempunyai dua sayap militer dan sipil– Hafiz al-As’ad. Sistem perpolitikan, Syria menganut sistem demokrasi dengan multipartai. Presiden dipilih melalui Dewan Perwakilan Rakyat dan masa jabatan presiden dibatasi selama 7 tahun. Pemilihan umum  dilakukan untuk memilih partai-partai yang akan menjadi anggota dewan legislatif (Majlis al-Sha’ab), anggota lembaga ini dipilih setiap 4 tahun sekali melalui proses pemilihan umum. Sistem pembagian kekuasaan juga menganut teori trias politica, di mana kekuasaan dibagi menjadi legislatif, eksekutif dan yudikatif. Namun pada prakteknya kekuasaan centralized hanya pada presiden, sebab keputusan diambil atas persetujuan presiden.

Partai politik di Syria kurang lebih ada sembilan, di antaranya adalah: Partai Nasionalis, Partai Rakyat, Partai Ba’ath, Partai Komunis, Partai Sosialis Nasionalis Syria, Ikhwanul Muslimin, Partai Sosialis Kooperatif, Gerakan Kemerdekaan Arab dan Partai Kemerdekaan. Di antara ke sembilan partai politik yang ada, Partai Ba’athlah yang terbesar dan selalu mendominasi perolehan suara pemilihan umum dan pemerintahan.

Komposisi pemerintahan Syria adalah koalisi. Dari beberapa unsur partai yang ada, semua kembali pada unsur etnis atau kelompok agama tertentu, seperti: kaum Sunni yang bermarkas di Damaskus, Aleppo, Homs dan Hama, kaum Kristen dan kaum Shi’ah Alawi bermarkas di daerah Lataqia dan kaum Druze bermarkas di daerah-daerah pegunungan terpencil. Secara nominal, kaum Sunni merupakan komunitas terbesar. Akan tetapi, secara politis mereka adalah kelompok minoritas, terutama jika dibandingkan dengan kaum nasionalis pimpinan Partai Ba’ath. Hal ini dikarenakan secara historis, penjajah Perancis memang tidak menghendaki berkuasanya kaum Sunni di Syria. Akan tetapi, mereka juga tidak bisa mengubah realitas masyarakat Sunni yang memang mayoritas. Untuk itu, mereka perlu menerapkan strategi bawah tanah dengan menempatkan blok minoritas pada posisi-posisi strategis di pemerintahan. Kaum Alawi serta kaum Druze yang minoritas oleh penjajah Perancis diberi jabatan di pos militer. Strategi ini kemudian terbukti berhasil dan partai Ba’ath dapat menguasai pemerintahan melalui kudeta militernya pada tahun 1963.

Kebijakan Asad adalah menerapkan sistem pemerintahan sekuler. Ia menekankan agar selalu konsisten menjauhkan agama dari urusan politik. Akan tetapi, hal ini tidak berarti menjauhkan agama dari kebudayaan dan kehidupan sosial masyarakat Syria. Sebagai contoh didirikan Fakultas Shari’ah di Universitas Damaskus dan Fakultas Bahasa Arab yang mengajarkan sejarah dan peradaban Islam. Sekolah-sekolah keagamaan mendapat kebebasan dan subsidi dari pemerintah. Buku-buku keagamaan bebas beredar dari kalangan anak-anak sampai dewasa dengan berbagai topik kajian, televisi dan radio milik pemerintah juga menyiarkan hal-hal yang berbau agamis seperti kajian Islam, da’wah-da’wah keislaman, juga acara-acara yang bertemakan pelestarian budaya masyarakat Syria. Dengan demikian, tujuannya adalah agar masyarakat bebas mengekspresikan diri dalam hal-hal keagamaan dan tidak sampai membawa agama kepada political act yang nantinya dapat membahayakan kekuasaannya.

Berdasarkan keadaan negara seperti di atas, adalah iklim yang memungkinkan Shahrur untuk dapat hidup bebas dan berkembang di Syria. Tidak seperti nasib yang dialami oleh rekan sezamannya, Nasr Hamid Abu Zayd di Mesir yang mengalami nasib tragis, diperlakukan kasar, dicap murtad, kafir bahkan diusir dari tanah airnya sendiri oleh pemerintah dan kelompok yang tidak setuju dengan gagasan-gagasan dan pemikirannya.

Sejak 1971 presiden Syria adalah Hafiz al-Asad, namun sejak 17 Juli 2000 dipimpin oleh Bashar al-Asad putra dari Hafiz al-Asad, ia menjabat hingga sekarang. Sedangkan perdana menterinya adalah muhammad Naji al-Utri (sejak 10 September 2003)

3. Fase-Fase Pemikiran

Fase Pertama (1970-1980 M). Fase ini diawali ketika Shahrur mengambil jenjang Magister dan Doktor dalam bidang teknik sipil di Universitas Nasional Irlandia, Dublin. Fase ini adalah fase kontemplasi dan peletakan dasar pemahamannya serta istilah-istilah dasar dalam al-Qur’an sebagai al-Dhikr. Fase ini belum membuahkan hasil pemikiran terhadap al-Dhikr. Hal ini disebabkan karena pengaruh pemikiran-pemikiran taqlid yang diwariskan dan masih eksis dalam khazanah karya Islam lama dan modern, di samping cenderung pada Islam sebagai ideologi (aqidah) baik dalam bentuk kalam maupun fiqh madhab.

Fase kedua (1980-1986 M). Pada tahun 1980, ia bertemu dengan teman lamanya, Ja’far (yang mendalami studi bahasa di Uni Soviet antara 1958-1964). Pada kesempatan itu, ia menyampaikan perhatian besarnya terhadap studi bahasa, dan pemahaman terhadap al-Qur’an. Lewat Ja’far, Shahrur belajar banyak tentang linguistik termasuk filologi, serta mulai mengenal pandangan al-Farra’, Abu ‘Ali al-Farisi serta muridnya, al-Jinni, dan al-Jurjani. Sejak saat itu, ia mulai menganalisis ayat-ayat al-Qur’an dengan model baru, pada tahun 1984, ia mulai menulis pokok-pokok pikirannya bersama Ja’far yang digali dari al-Kitab.

Fase ketiga (1986-1990 M). Fase ini, ia mulai intensif menyusun pemikirannya dalam topik-topik tertentu. Pada akhir tahun 1986 dan 1987, ia menyelesaikan bab pertama dari al-Kitab wa al-Qur’an, yang merupakan masalah-masalah sulit. Bab-bab selanjutnya diselesaikan sampai tahun 1990.

4. Metode Pemikiran Muhammad Shahrur

Metode yang dipakai Shahrur adalah metode historis-ilmiah di dalam studi kebahasaan. Metode ini berasal dari kritik Shahrur terhadap seluruh warisan pemikiran keislaman yang ada selama ini. Hasilnya adalah: reinterpretasi menyeluruh dan fundamental atas al-Qur’an, melalui pendekatan yang sangat jauh berbeda dari yang pernah ada sebelumnya.

Sedangkan pendekatan yang dipakai adalah pendekatan linguistik-filosofis-humanistik. Menurutnya, ternyata bahasa Arab mempunyai karakter struktur bahasa, di mana setiap kata memiliki arti dan pemahaman yang berbeda satu sama lain yakni tidak ada sinonimitas bahasa.

Pendekatan filosofis digunakannya dengan alasan, bahwa hubungan antara kesadaran dan wujud materi adalah masalah dasar filsafat. Islam memerlukan filsafat Islam yang modern yang berpegang pada pengetahuan akal dan bertolak pada panca indra. Pengetahuan manusia menurutnya, berawal dari pemikiran yang terbatas pada panca indra pendengaran dan penglihatan, di mana dalam konteks tersebut, tidak ada pertentangan dalam al-Qur’an maupun filsafat.

Sementara pendekatan humanistik lebih didasarkan pada asumsi dasar bahwa al-Qur’an sesuai dengan segala konteks sosial di bagian bumi manapun, meskipun dengan jarak waktu yang sangat panjang.

5. Karya-karya Muhammad Shahrur

Karya-karya Shahrur dapat dilihat dari dua term kajian, yaitu bidang bidang Teknik Bangunan dan bidang keislaman.

Di bidang teknik karangannya adalah: al-Handasah al-Asasiyah (tentang teknik fondasi) terdiri dari III Volume dan Al-Handasah al-Turabiyah (tentang geologi dan teknik pertanahan).

Adapun karyanya dalam kajian keislaman adalah: al-Kitab wa al-Qur’an; Qira’ah Mu’asirah (1992), Dirasah Islamiyah Mu’asirah fi al-Dawlah wa al-Mujtama’, al-Islam wa al-Iman; Mandhumat al-Qiyam, dan Dirasah Islamiyah Mu’asirah Nahw Usul Jadidah li al-Fiqh al-Islami .

Shahrur sering menyumbangkan buah pikirannya melalui artikel-artikel dalam seminar atau media publikasi, seperti: The Divine Text and Pluralism in Muslim Societies, dalam, Muslim Politics Report, 14 (1997), Islam and the 1995 Beijing World Conference on Woman, dalam Kuwaiti Newspaper, kemudian dipublikasikan juga dalam, Charles Kurzman (ed.), dan Liberal Islam: A Sourcebook (New York & Oxford: Oxford University Press, 1998).

NB. Disarikan dari buku-buku dibawah ini.

A.R. Kelidar, The Syrian Arab Republic (NewYork: American Academic Association for Peace in the Midle east, 1976)

Derek Hopwood, Syria 1945-1986; Politics and Society (London: Unwin Hyman, 1986)

Don Peretz, The Middle East to Day (USA: Praeger Publisher, 1992)

John L Esposito et.al., The Oxford Encyclopaedia of Modern Islamic World (New York and Oxford: Oxford University Press, 1995)

Nasr Hamid Abu Zayd, al-Tafkir fi Zaman al-Tafkir (Kairo: Sina Publisher, 1995)    

Nina M. Armando (et.al), Ensiklopedi Islam Vol: 6 (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005)

Patrick Seale, The Struggle For Syria (London: Yale University Press, 1986)

Riza Sihbudi dkk., Profil Negara-negara Timur Tengah (Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya, 1995)

Shahrur, Islam dan Iman; Aturan-aturan Pokok, terj. M. Zaid Su’di (Yogyakarta, Jendela, 2002)

Syaichul Hadi permono, dalam Jurnal Antologi Kajian Islam, seri 7, Surabaya, Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: