Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Kepemimpinan Politik Dalam Islam

Posted by almakmun on 16/05/2009

Sebuah Pengantar Pemikiran Ibn Taymiyah dan Muhammad Shahrur

Manusia di samping sebagai mahluk sosial, ia juga merupakan makhluk yang berpolitik (zoon politicon). Makhluk sosial yang oleh karena itu manusia senantiasa memiliki hasrat untuk bermasyarakat dan bernegara. Dengan kondisi semacam ini, sudah menjadi kebutuhan bersama akan adanya seseorang yang memimpin mereka, sehingga pertikaian dan permusuhan tidak terjadi serta terciptanya kerukunan dan kebahagiaan bersama.

Ibn Taimiyah dalam karyanya yang berjudul al-Siyasah al-Shar’iyah fi Islah al-Ra’i wa al-Ra’iyah mengatakan, bahwa karakteristik ajaran Islam adalah agama yang memiliki seperangkat hukum, perintah dan larangan. Allah memerintahkan manusia agar melaksanakan amar ma’ruf nahy munkar, jihad, keadilan, ibadah haji, bermasyarakat yang teratur, menolong orang yang teraniaya, dan melaksanakan hukuman. Di mana semua itu tidak dapat dilaksanakan kecuali dengan adanya kekuasaan dan pemimpin.

Sejarah mencatat, bahwa persoalan kepemimpinan politik dalam Islam telah dimulai sejak wafatnya Rasulullah Saw. Dimana masalah kepemimpinan banyak menimbulkan interpretasi dan perselisihan yang disebabkan karena Rasulullah Saw., semasa hidupnya baik kapasitasnya sebagai seorang nabi dan rasul atau sebagai pemimpin negara madani tidak pernah secara eksplisit menunjuk seseorang dari sahabat beliau untuk menggantikannya sebagai pemimpin pemerintahan kelak sesudah beliau wafat.

Ketika Rasulullah Saw., wafat terjadilah suatu peristiwa penting dalam sejarah perpolitikan dalam Islam. Di mana para Sahabat Nabi Muhammad Saw.,  melakukan pemilihan pemimpin politik dan kekuasaan sebagai pengganti dari Rasulullah Saw., padahal pada saat itu jenazah beliau belum sempat dimakamkan, hal inilah yang membuat kemarahan keluarga Rasulullah Saw., khususnya putri tunggal beliau yaitu Fatimah, karena mengapa mereka terburu-buru untuk mengambil keputusan tentang pengganti Rasulullah Saw., sebelum pemakaman dilaksanakan dan tidak mengikutsertakan keluarga dekat beliau.

Peristiwa itu terjadi pada suatu pagi, saat Umar bin Khattab mendengar berita bahwa kelompok Ansar sedang melangsungkan pertemuan di Thaqifah Bani Saidah (sebuah balairung tua di Madinah tempat di mana orang biasa menggunakannya untuk diskusi dan menyelesaikan problema genting mereka) untuk mengangkat Sa’ad bin Ubadah, seorang tokoh Ansar dari suku Khazraj sebagai khalifah. Dalam keadaan gusar, Umar bin Khattab segera mendatangi rumah kediaman Rasulullah dan mengutus seseorang untuk menghubungi Abu Bakar yang sedang berada di rumah dan memintanya agar keluar. Semula Abu Bakar menolak dengan alasan masih ada sesuatu yang harus dikerjakan. Akan tetapi, akhirnya dia keluar setelah diberitahu bahwa telah terjadi satu peristiwa penting yang mengharuskan kehadiran Abu Bakar. Abu Bakar dan Umar segera pergi ke balai pertemuan Bani Sa’idah. Kemudian di tengah jalan mereka bertemu dengan Abu Ubaidah bin Jarah, seorang sahabat senior dari kelompok Muhajirin, dan diajaknya ikut serta ke sana.

Pada saat tiga tokoh tersebut sampai ditempat tujuan, ternyata sudah ada beberapa kaum Muhajirin, bahkan telah terjadi perdebatan sengit, sampai-sampai Umar kala itu hamper tidak dapat menguasai diri. Akan tetapi, Abu Bakar dapat segera meredakan emosinya, setelah itu Abu Bakar tampil berbicara untuk menenangkan keadaan. Sampai pada akhirnya Abu Bakar tampil sebagai khalifah dan proses pembai’atan pun dimulai oleh Basyir bin Sa’ad, seorang tokoh Ansar dari suku Khazraj yang kemudian diikuti para sahabat yang lain.

Berdasarkan sejarah tersebut, maka dapat dipahami bahwa persoalan kepemimpinan merupakan persoalan yang sangat penting sekali. Bahkan hampir saja membuat perpecahan di kalangan umat Islam. Tak heran jika Ibn Taymiyah kemudian dalam karyanya yang berjudul Majmu’ al-Rasail al-Kubra mengutip pendapat yang mengatakan bahwa: “Enam puluh tahun di bawah pemerintahan kepala negara yang zalim lebih baik dari pada satu malam tanpa seorang kepala negara”.

Berdasarkan pengamatan, bahwa pada dasarnya teori khilafah merupakan salah satu teori politik yang muncul setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw., yang merupakan salah satu bentuk teori kenegaraan Islam dan hasil pemikiran Ulama Sunni. Dalam beberapa kurun waktu, teori ini kemudian dianggap sebagai satu-satunya bentuk teori pemerintahan yang sah. Dengan mendasarkan pada ayat-ayat al-Qur’an dan rentang peristiwa dalam sejarah Islam. Para juris Sunni telah berupaya keras untuk menyusun satu bentuk teori politik Islam yang sebenarnya, dengan memusatkan perhatian pada fungsi-fungsi khilafah dan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Sehingga pada waktu itu lembaga khilafah mempunyai kedudukan sebagai lembaga politik tertinggi dalam Islam, sampai kemudian lenyap secara resmi pada masa kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk di Turki tahun 1924.

Di sisi lain, kalangan Shi’i mempunyai teori sendiri berkenaan dengan kepemimpinan yaitu imamah. Imamah secara etimologi bermakna kepemimpinan, kata imam berasal dari kata amma-ya’ummu yang berarti menuju, menumpu dan meneladani, yakni contoh yang harus diteladani. Secara terminologi, imam bermakna seseorang yang memegang jabatan umum dalam urusan agama dan urusan dunia. Selain itu, imamah merupakan hasil pemikiran Shi’ah yang mana berarti kepemimpinan progresif dan revolusioner yang bertentangan dengan rezim-rezim politik lainnya guna membimbing manusia serta membangun masyarakat di atas fondasi yang benar dan kuat yang akan mengarahkan menuju kesadaran pertumbuhan dan kemandirian dalam mengambil keputusan. Adapun dalam kultur Safawi, imamah sama artinya dengan beriman kepada dua belas makhluk suci dan supranatural, yang setiap orang harus “mencintai”, memuja dan memuliakannya. Alasannya adalah karena para imam berbeda dari manusia biasa. Perlu juga diketahui bahwa kaum Shi’ah memandang imamah merupakan bagian dari prinsip ajaran agama. Walaupun konsep imamah sendiri adalah hasil karya dari kaum Shi’ah, namun dewasa ini juga banyak dari kalangan Sunni sendiri yang menggunakan term imamah dalam membahas masalah kepemimpinan dan tidak memakai istilah khilafah sebagaimana konsep yang terdapat di dalam Sunni. Di antara mereka adalah Abu Hasan al-Mawardi, Abd. Qadir Audah dan Muhammad Rasyid Ridha.

Persoalan kepemimpinan dalam Islam merupakan persoalan yang sangat rumit. Sebab tidak dijumpai ajaran baku secara langsung tentang konsep kepemimpinan. Apakah ia khilafah, imamah atau istilah lainnya. Banyak pemikir muslim yang mendukung khilafah atau imamah dan ada juga yang menolak konsep tersebut. Di antara beberapa tokoh pemikir Islam, penulis tertarik untuk mengungkap pemikiran dua tokoh besar yang hidup di zaman yang berbeda namun masih dalam Negara yang sama, mereka adalah Ibn Taymiyah dan Muhammad Shahrur.

Ibn Taymiyah hidup dalam kondisi masyarakat yang sangat heterogen, baik dalam kebangsaan, status sosial, agama, aliran, budaya dan hukum. Keadaan ini diakibatkan adanya kekacauan sosial yang diakibatkan sering terjadinya peperangan yang mengakibatkan adanya pengungsi dari berbagai daerah datang dan menetap di Damaskus, Syria.

Dunia Islam menjelang abad VII dan VIII H. mengalami masa-masa kemerosotan dan kemunduran. Ibn Taymiyah hidup di saat Islam berada di puncak disintegrasi politik, dislokasi sosial, dekadensi akhlaq dan moral.

Dasar pijakan pendekatan yuridis Ibnu Taymiyah adalah madhhab Hanbali, suatu madhab hukum Islam yang ortodoks di masa kejayaan dinasti Abbasiah di bawah pemerintahan Khalifah al-Makmun (Seorang khalifah dinasti Abbasiah yang sangat concern terhadap ilmu pengetahuan, hal ini dapat diketahui ketika masa pemerintahannya membuat Sekolah Tinggi Terjemah di Baghdad, yang mana di dalamnya dilengkapi dengan lembaga ilmu yang disebut dengan Bayt al-Hikmah (suatu lembaga yang dilengkapi dengan balai observatorium, perpustakaan dan badan terjemah). Di samping itu, dia mempunyai minat yang cukup tinggi terhadap sains dan filsafat. Ia juga menjadikan paham Mu’tazilah sebagai paham negara, dimana salah satu pemikirannya adalah bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Sedangkan Ibn Hanbal dan aliran-aliran ortodoks lainnya mengganggap konsep tersebut adalah bid’ah).

Ibn Taymiyah dalam pemikirannya tentang kepemimpinan sangat menekankan arti pentingnya amanah dan keadilan. Landasan amanah dan keadilan oleh Ibnu Taymiyah bukan saja sebagai landasan moral, tetapi harus teraplikasi dalam setiap praktek penyelenggaraan negara. Kepemimpinan dalam Islam merupakan sesuatu yang sangat penting, hal ini dikarenakan manusia tidak mampu mencukupi semua kebutuhannya tanpa kerjasama dan saling membantu dan dikarenakan Allah memerintahkan amar ma’ruf nahy munkar, hal itu tidak dapat terlaksana tanpa adanya kekuasaan dan pemimpin.

Adapun Muhammad Shahrur, merupakan seorang intelektual muslim kontemporer yang berasal dari Damaskus, Syria. Dia adalah salah seorang ahli teknik sipil yang kemudian bergelut dan mendalami al-Tanzil Hakim (al-Qur’an yang merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an yang ayat-ayatnya terkait dengan ilmu pengetahuan) secara serius dan aktual serta melakukan pembacaan ulang terhadap al-Tanzil Hakim, sehingga mendapatkan suatu pemahaman baru tentang ajaran Islam yang sesuai dengan semangat dan prinsip-prinsip dasar al-Tanzil untuk menciptakan kesejahteraan dan kemaslahatan hidup bersama. Keadaan semacam inilah yang mendorong penulis untuk mengetahui pemikirannya.

Menurutnya, kepemimpinan dalam Islam yang terpenting adalah nilai, etika dan prinsip-prinsipnya saja, serta esensi seorang pemimpin, dan bukan terletak pada model kepemimpinannya. Ia juga tidak terlalu banyak memberikan syarat kepada calon pemimpin, asalkan seorang pemimpin adalah orang mempunyai keunggulan atau kelebihan dari pada kebanyakan yang lain, berpengetahuan luas serta tidak keluar dari kasih dan sayang, yakni tidak bersifat otoriter dan sewenag-wenang. Menurutnya :

Pemerintahan yang sesuai dengan Tanzil Hakim adalah pemerintahan Madaniyah yang peraturan-peraturannya diambil dari perjanjian-perjanjian sosial-kemanusiaan secara umum, dan dari perjanjian antara penguasa dengan rakyat yang memilih penguasa itu sendiri.

Berkenaan dengan politisasi Islam maupun orang-orang yang mengaitkan politik Islam dengan arti art of managing conflict of interests (seni mengelola konflik kepentingan) dia tidak setuju. Hal ini dikarenakan kita selama ini menganggap dan menyanjung semua manusia pasca wafatnya Rasul (para sahabat) karena mereka merupakan generasi siddiqun, dan kita mengangkat mereka melebihi manusia biasa, begitu juga jika ada seorang cendekiawan ingin mengkaji suatu persoalan, maka ia harus mendasarkan pemikirannya dan merujuk pada produk pemikiran generasi salaf. Jika tidak demikian maka akan dianggap sebagai mubtadi’ (mengada-ada) yang keluar dari metode dan pemikiran mereka, sedangkan kita tahu bahwa pemikiran mereka adalah sebuah pemikiran dan hasil interpretasi dari masa dan zamannya, sehingga hasil pemikiran tersebut adalah merupakan sebuah tradisi dari masa lalu. Di dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa kita dilarang mengkultuskan dan bertaqlid buta pada tradisi sebagaimana Firman Allah :

فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُرِيدُ أَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي ءَابَائِنَا الْأَوَّلِينَ.

Artinya:            ”Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab:”orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang terdahulu”. (QS. al-Mu’minun; 24)

بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا ءَابَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى ءَاثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ

Artinya:            ”Bahkan mereka berkata:”Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka. ”(QS. al-Zuhruf; 22).

Pesan yang terkandung dalam ayat tersebut, kita disuruh untuk menghormati tradisi tanpa harus mengkultuskannya, bahkan dalam kebijakan politik mereka. Kita menganggap apa yang mereka lakukan adalah Islam, padahal Islam sama sekali tidak menerima politisasi, sehingga kebijakan politik mereka mati seiring kematian dawlahnya.

Dewasa ini muncul anggapan, bahwa Islam yang pas adalah masa Nabi Muhammad dan Khulafa’rasidun dan setelah itu berhenti. Padahal Islam sebagai misaq insaniyah tidak dibatasi oleh wilayah geografis dan sejarah, akan tetap langgeng meski pemerintahan yang demokrasi dan otoriter telah mati.

Sudah sewajarnya sekarang ini untuk menyadari semuanya dan mengkaji ulang pembacaan ayat-ayat kepemimpinan sesuai dengan pergeseran sejarah dan perubahan kebudayaan manusia, dan berangkat dari keuniversalan risalah Muhammad Saw., dan dari fakta kenyataan aktual (obyektif) yang senantiasa tunduk pada perubahan dalam pergeseran sejarah, yang merupakan satu-satunya cara untuk membuktikan kebenaran kalam Allah.

Sebuah konstruk pemikiran yang muncul memiliki relasi signifikan dengan realitas sosial sebagai respon dan dialektika pemikiran dengan berbagai fenomena yang berkembang di masyarakat. Dengan demikian, kedua tokoh tersebut berasal dari satu negara, yaitu Syria, bahkan kota mereka juga sama yaitu Damaskus. Akan tetapi,  keduanya hidup dalam masa yang berbeda, Ibn Taymiyah hidup di masa yang belum begitu banyak pemikiran tentang konsep negara sedangkan Shahrur hidup di masa modern yang mana pemikiran politik baik Islam atau barat sudah banyak berkembang.

One Response to “Kepemimpinan Politik Dalam Islam”

  1. Ust. Ahmad said

    Salam…….
    Apa Kabar ustad…?
    wah sekarang mulai rajin nulis web ya…..
    pantas saja jarang ketemu.
    OK. Sukses selalu dan teruslah berdakwah di media online
    semoga apa yang sudah ditulis akan senantiasa mendapatkan Ridho Allah. Aaaamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: