Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Bentuk Kepemimpinan Perspektif Ibn Taymiyah

Posted by almakmun on 06/06/2009

Sebelum menjelaskan lebih lanjut mengenai bentuk kepemimpinan perspektif Ibn Taymiyah, alangkah baiknya kita terlebih dahulu melihat pemikirannya tentang arti penting keberadaan seorang pemimpin (kewajiban mengangkat pemimpin).
Menurut Ibn Taymiyah, dalam karyanya Al-Siyasah al-Shar’iyah fi Islah al-Ra’i wa al-Ra’iyah kepemimpinan merupakan salah satu dari kewajiban agama. Hal ini dikarenakan iqamat al-Din tidak mungkin direalisasikan, kecuali dengan adanya kepemimpinan. Hal ini ia sandarkan pada h}adith Rasulullah Saw. :
اذا خرج ثلاثة فاليؤمروا أحدهم .(رواه أبو داود)
Artinya: ”Jika telah keluar tiga orang melakukan safar (perjalanan), hendaklah salah seorang di antara mereka menjadi amir (pemimpin)” (HR. Abu Daud).
لا يحل لثلاثة يكونون بفلاة من الارض إلا أمروا أحدهم (رواه احمد)
Artinya; ”Tidak dihalalkan bagi tiga orang yang sedang berada di tengah gurun padang pasir bumi, kecuali salah seorang di antara mereka ada yang menjadi amir (pemimpin)” (HR. Ahmad)
Dari sini, diketahui bahwa Rasulullah Saw., mewajibkan salah seorang menjadi pemimpin dalam sebuah perkumpulan yang kecil (ketika bepergian), sebagai isyarat dan perhatian akan pentingnya kepemimpinan pada semua bentuk perkumpulan lain yang lebih besar.
Di samping itu, karena Allah Swt., telah mewajibkan amar ma’ruf nahy munkar, dan hal tersebut tidak mungkin terealisasi dengan sempurna tanpa adannya quwwah (kekuasaan) dan imarah (kepemimpinan). Begitu juga dengan rangkaian ibadah yang diwajibkan oleh-Nya, seperti jihad, menegakkan keadilan, haji, bermasyarakat yang teratur, menolong orang yang teraniaya, dan melaksanakan hukuman (}udud) yang semuanya tidak bisa dilaksanakan kecuali adanya kekuasaan (quwwah) dan kepemimpinan. Di sinilah kemudian ia mengutip riwayat yang mengatakan “Enam puluh tahun di bawah pemimpin yang zalim lebih baik dari pada satu malam tanpa pemimpin. Pemimpin bertugas mengatur dan mewujudkan kesejahteraan umat di dunia dan di akhirat serta mencegah perbuatan-perbuatan jahat dan munkar (lihat dalam Majmu’ al-Rasa’il al-Kubra).
Kewajiban membentuk imarah sebagai realisasi spiritual dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sesungguhnya mendekatkan diri kepada Allah Swt., dalam imarah tadi, yakni dengan mentaati Allah Swt., dan Rasulullah Saw., itu adalah taqarrub yang paling utama. Sementara merusak imarah sebagai realisasi taqarrub adalah manakala muncul sebagian besar manusia berambisi terhadap imarah tadi atau terhadap kekayaan. Hal ini didasarkan pada h}adith Rasulullah Saw. :
عَنْ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَيُرْوَى فِي هَذَا الْبَابِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا يَصِحُّ إِسْنَادُهُ
Dari Ka’ab bin Malik al-Ansari dari ayahnya berkata, Rasulullah Saw., bersabda: Tidaklah dua serigala lapar yang disuruh untuk menerkam kambing itu lebih rusak dan berbahaya dari pada rakus dan ambisinya seseorang terhadap harta dan prestise dalam merusak agamanya. (HR. Imam Tirmidi mengatakan, bahwa ini adalah hadith hasan sahih)
Adapun tujuan akhir dari para pemburu kekuasaan adalah seperti Fir’awn dan orang yang rakus terhadap harta adalah seperti Qarun. Allah Swt., sendiri telah menjelaskan kondisi Fir’awn dan Qarun dalam sebuah firman-Nya”
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ كَانُوا مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا هُمْ أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَءَاثَارًا فِي الْأَرْضِ فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya dari pada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka Allah mengadhab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari adhab Allah.” (Al-Mukmin: 21)

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qas}as}: 83)
Berdasarkan firman Allah Swt., di atas, maka manusia terbagi menjadi empat golongan, yaitu:
a.Golongan mereka yang menginginkan kesombongan dan ketinggian serta kerusakan di bumi, yakni dengan bermaksiat kepada Allah Swt. Mereka itu adalah para raja dan pemimpin seperti Fir’awn dan kelompoknya. Mereka itulah sejelek-jelek manusia sebagaimana yang terdapat di dalam surat al-Qasas: 4.
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
(Sesungguhnya Fir’awn telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’awn termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan).
b.Golongan yang menghendaki kerusakan tanpa ingin berbuat kesombongan, seperti para pencuri dan penjahat yang hanya ingin membuat keresahan bagi manusia lain.
c.Golongan yang menghendaki kesombongan, namun tidak berbuat kerusakan, seperti kelompok mereka yang mempunyai kredibilitas spiritual dan menginginkan mempunyai prestise tersendiri di hadapan manusia.
d.Ahl jannah, yakni mereka yang tidak menginginkan kesombongan dan tidak berbuat kerusakan. Walaupun mungkin secara lahiriah mereka lebih tinggi dari lainnya. Sebagaimana firman Allah Swt. “Ali-Imran 139,
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
(Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.)
Surat Muhammad Saw., : 35
فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
(Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu)
dan al-Munafiqun: 8.
يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
(Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya”. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.)
Setelah membicarakan arti pentingnya keberadaan pemimpin, ia kemudian memberikan gambaran bagaimana masyarakat dan pemimpin menjalankan roda pemerintahan. Menurutnya, ada dua hal pokok yang tidak dapat dipisahkan dalam rangka menjalankan roda pemerintahan, yaitu: amanah dan keadilan. Di mana kedua sifat ini nantinya akan menjadi prasyarat seorang pemimpin.
Selanjutnya di dalam karyanya Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah; fi Naqdi Kalam Shi’ah wa al-Qadariyah Taymiyah mengkritik golongan yang mengklaim pemikiran Ahl Sunnah bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw., tidak menetapkan nas atas kepemimpinan kepada seseorang dan beliau wafat tanpa meninggalkan wasiat. Padahal di dalam Ahl Sunnah sendiri terdapat dua kubu, yaitu:
a.Golongan yang mengatakan bahwa kepemimpinan setelah Rasulullah Saw., (Abu Bakar) ditetapkan dengan khabar (berita). Kelompok ini dipelopori oleh sebagian Ahl Hadith, Mu’tazilah, Ash’ariyah dan Abu Ya’la.
b.Golongan yang mengatakan bahwa kepemimpinan Abu Bakar ditetapkan dengan nas khafi dan isharah. Kelompok ini dipelopori oleh Hasan Basri, dan sebagian ahli hadith.
Perlu diketahui, bahwa pengertian khalifah adalah seseorang yang diminta untuk menjadi pengganti oleh seseorang, bukan orang yang menggantikan tanpa seizin atau tanpa diminta.
Adapun tentang kepemimpinan Ali bin Abi T}alib terdapat beberapa pandangan antara lain:
Ali bin Abi Talib adalah pemimpin dan Mu’awiyah juga pemimpin. Dengan demikian, dualisme kepemimpinan diperbolehkan jika keduanya tidak bisa dikompromikan.
Di masa Ali bin Abi Talib tidak ada pemimpin pusat karena masa ini adalah periode fitnah.
Ali bin Abi Talib adalah pemimpin yang sah dan sikapnya atas orang-orang yang memeranginya juga dapat dibenarkan.
Ibn Taymiyah juga mengkritik golongan Shi’ah yang tetap gigih mempertahankan sistem imamah, terlebih lagi mereka memasukkan konsep imamah sebagai salah satu dari rukun iman. Padahal Rasulullah Saw., memerintahkan untuk memerangi orang-orang yang tidak bershahadah, tidak mendirikan salat, dan tidak mengeluarkan zakat, tetapi jika mereka bertaubat dan melaksanakan perintah tersebut, niscaya darah dan hartanya haram untuk diusik. Di sisi lain, Rasulullah Saw., bersabda:
روي عنه مولاه سفينة أنه قال: (الخلافة ثلاثون سنة, ثم تصير ملكا), فكان الثلاثين حين سلم سبط رسول الله صلى الله عليه وسلم: الحسن بن علي رضي الله عنهما الأمر إلى معاوية.) رواه إمام أحمد

Dengan demikian, bentuk khilafah hanya bertahan sampai 30 tahun, kemudian berubah menjadi kerajaan atau dinasti. Menurut Ibn Taymiyah, Mu’awiyah adalah seorang raja pertama dalam dunia perpolitikan Islam. Dia telah merubah sistem khilafah menjadi sebuah sistem monarki. Namun demikian, sistem kerajaannya adalah sistem kerajaan yang rahmah (ملك ورحمة), pernyataan seperti ini didasarkan atas hadith Rasulullah Saw.:
“ستكون خلافة نبوة, ثم يكون ملك ورحمة, ثم يكون ملك وجبرية, ثم يكون ملك عضوض” (رواه ابو داود والترذي وأحمد)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: