Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Prosedur Pengangkatan Pemimpin

Posted by almakmun on 06/06/2009

Meskipun Ibn Taymiyah tidak secara khusus membahas bagaimana sistem pengangkatan kepala negara, ia menolak doktrin Shi’ah yang berpendapat bahwa adanya nas penetapan Ali sebagai imam sesudah nabi Muhammad Saw. Sejarah telah mencatat bahwa Abu Bakar adalah pemimpin setelah Rasulullah Saw., wafat. Ia mendapatkan bay’at Umar bin Khatab dan empat orang. Seorang pemimpin ditetapkan dan dipilih oleh Ahl Shawkah. Seseorang tidak akan menjadi pemimpin kecuali disetujui dan dibai’at oleh badan tersebut.

Di samping itu, seorang penguasa tidak akan menjadi penguasa hanya dengan kesepakatan 1, 2,3 atau 4 orang kecuali dengan adanya kesepakatan semua orang yang menuntut/mengikutsertakan yang lain, karena setiap permasalahan memerlukan tolong-menolong dan suatu permasalahan tersebut tidak akan terpecahkan jika tidak ada bantuan dari orang lain. Ahl Shawkah adalah semua orang tanpa memandang profesi dan kedudukan mereka, dihormati dan ditaati rakyat, tetapi lebih lanjut bagaimana lembaga ini dibentuk dan bagaimana pemilihannya tidak disebutkan secara detail olehnya. Menurut Qamaruddin Khan, khilafah tidak disyaratkan oleh sesuatupun juga kecuali oleh dukungan Ahl Shawkah; dan mengenai rakyat kebanyakan (jumhur) yang telah menolong berdirinya negara sesungguhnya mereka ini hanyalah alat untuk merealisasikan tujuan-tujuan umat.

Meskipun demikian, di masa khalifah empat tidak berdasarkan atas pemilihan secara murni, melainkan mereka mendapatkan persetujuan umat yang ditandai dengan bay’at kedua belah pihak; kepala negara dan masyarakat mengadakan kerjasama.

Di sisi lain, Ibn Taymiyah memberikan prosedur bagi seorang pemimpin dalam mengangkat staf-staf yang akan membantu menyelesaikan pekerjaannya. Pedoman-pedoman tersebut adalah:

  1. Mengangkat yang aslah (paling layak dan sesuai dengan bidangnya)

Sudah menjadi kewajiban dari pemimpin untuk mengangkat orang yang paling kompeten dan layak menempati jabatan tertentu bagi segala amal ibadah kaum muslimin. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad Saw.: Barangsiapa mengangkat seseorang untuk mengurusi perkara kaum muslimin, lalu mengangkat orang tersebut, sementara ia mendapatkan orang yang lebih layak dan sesuai dari pada orang yang diangkatnya, maka ia telah berkhianat kepada Allah Swt., dan rasul-Nya.

Proses rekrutmen pegawai harus dilakukan seleksi yang seselektif mungkin, sehingga yang terpilih benar-benar sesuai dengan bidangnya (the right man on the right job). Seperti pejabat teras daerah, kepala pengadilan, kepala keamanan dan juga bidang keuangan. Jangan sekali-kali kaum muslimin menyerahkan jabatan kepada orang yang meminta jabatan sebagaimana yang disabdakan Nabi Muhammad Saw. إِنَّا لَا نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ وَلَا مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ (Sesungguhnya kami tidak akan mengangkat seseorang yang meminta jabatan dalam perkara ini, HR. Bukhari) Bahkan orang semacam ini tertolak untuk menduduki suatu jabatan.

Seorang pemimpin dilarang mengalihkan suatu jabatan dari seseorang yang sebenarnya lebih layak dan tepat mendudukinya kepada orang lain dengan alasan nepotisme, kesamaan suku, madhab, adanya uang suap atau karena kepentingan-kepentingan tertentu, karena jika hal ini dilakukan, maka ia tergolong berkhianat kepada Allah Swt., Rasul-Nya dan umat mukmin.

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ.

(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (Al-Anfal: 27-28).

  1. Memilih yang terbaik kemudian yang di bawahnya

Jika profil yang tanpa cela untuk menduduki jabatan tertentu memang tidak ada, maka harus diadakan seleksi sekali lagi secara selektif dari jumlah calon yang ada kemudian dipilih yang mempunyai kualitas tinggi dan sesuai dengan kriteria dan syarat mulai dari tingkat penilaian tertinggi baru tingkat bawahnya. Jika telah dilakukan, maka ia telah melaksanakan amanah dan kewajibannya serta ia tergolong orang-orang yang adil di sisi Allah Swt.

Ibn Taymiyah tidak menjelaskan secara rinci tentang sistem pengangkatan kepala negara. Apakah ini karena pengaruh ungkapan “Sultan adalah bayangan Allah Swt., di atas bumi-Nya” yang berarti sumber kekuasaan datang dari Allah Swt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: