Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Syarat Seorang Pemimpin

Posted by almakmun on 06/06/2009

Ibn Taymiyah memberikan syarat kepada seorang pemimpin sebagaimana firman Allah :
إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
“Karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (Al-Qasas} [28]}: 26)

Berdasarkan ayat tersebut di atas, maka syarat seorang pemimpin adalah orang yang memiliki kualifikasi kekuatan (Quwwah) dan integritas (Amanah).
Syarat kekuatan tergantung dari jenis kekuasaan yang akan diembannya. Di samping itu, untuk mengatur masyarakat diperlukan kemampuan (qudrah), seperti pemimpin perang yang dibutuhkan adalah kekuatan dan keberanian, kepiawaian mengatur siasat, menyusun dan menerapkan strategi perang. Demikian pula, kekuatan diperlukan dalam menjatuhkan hukum di antara manusia, yakni harus adil dengan keadilan yang telah ditetapkan al-Qur’an dan sunnah, dan kesanggupan menjalankan hukum-hukum itu. Sedangkan amanah erat hubungannya dengan rasa takut kepada Allah Swt., tidak menyalahgunakan ayat-ayat Allah Swt., dan menghilangkan rasa takut terhadap sesama manusia.
Kedua syarat tersebut disadarinya sulit ditemukan dalam diri satu orang. Oleh karena itu, untuk menempatkan orang dalam tiap-tiap jabatan pimpinan, harus sesuai antara kapabilitas dengan jabatan itu sendiri. Apabila ditemui dua calon yang karakternya berbeda, satu lebih besar integritasnya dan yang lain lebih menonjol kekuatannya, maka yang diutamakan adalah yang lebih bermanfaat untuk jenis jabatannya itu dan lebih sedikit resikonya.
Sifat amanah lebih diutamakan untuk menduduki wilayah kekuasaan yang membutuhkan sikap amanah tersebut, seperti pejabat keuangan dan sejenisnya. Sedangkan sektor peradilan, lebih diutamakan orang-orang yang berilmu, bertakwa dan cakap dalam bidang ini. Jika terdapat lebih dari satu orang, yang satu menonjol keilmuannya dan yang satu menonjol ketakwaannya, maka bergantung pada kondisi lahan yang hendak digarap.
Ibn Taymiyah berbeda dengan kebanyakan pemikir Sunni yang mencantumkan syarat pemimpin adalah dari keturunan Quraish. Menurutnya, syarat ini masih terus diperselisihkan. Untuk itu, syarat keturunan Quraish tersebut tidak mungkin diterapkan. Lebih lanjut, syarat keturunan Quraish bertentangan dengan prinsip ajaran al-Qur’an tentang konsep persamaan hak. Sehingga syarat itu meskipun mendapatkan legitimasi dari hadith, tetapi bertentangan dengan nas} yang lebih unggul (rajih).
Sejalan dengan syarat kepala negara di atas, harus benar-benar berkualitas dan mempunyai tanggung jawab amanah, karena ia dituntut untuk melaksanakan tujuan utama shari’at Islam, yaitu terwujudnya kesejahteraan umat lahir dan batin serta tegaknya keadilan dan amanah dalam masyarakat.
Di samping kedua syarat di atas, hendaknya dalam kepemimpinan terdapat keselaran dan keseimbangan antara pemimpin dan wakilnya. Jika pemegang kekuasaan tertinggi bersikap atau bertindak lunak, maka wakilnya yang bersikap lebih tegas (keras) begitu sebaliknya jika karakter penguasa keras, maka wakilnya berkarakter lunak. Sebagaimana Abu Bakar yang berkarakter lembut memilih Khalid bin Walid yang berkarakter keras, sedangkan Umar bin Khat}ab berkarakter keras memilih Abu Ubaidah Ibn Jarrah yang berkarakter lembut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: