Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

  • Boleh mengcopy tulisan saya, tapi harus tetap mencantumkan sumbernya. Syukron

  • Bunga Rampai

  • Almakmun Readers blog

    • 108,640 hits
  • new release

  • Menghitung Hari

    June 2009
    M T W T F S S
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Archive for June 14th, 2009

Jangan Lupakan Pendidikan Moral

Posted by almakmun on 14/06/2009

ayatullah humainiMenjelang tahun ajaran baru, memilih sekolah menjadi kesibukan tersendiri bagi warga kota. Mereka menimbang-nimbang sekolah mana yang pas untuk tempat belajar anaknya. Apakah itu sekolah negeri atau swasta.
Sebagian warga memilih menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan yang memiliki kurikulum ganda. Selain mengajarkan ilmu pengetahuan umum, juga mangajarkan tentang moral, etika, dan agama. Tentu, tujuannya agar anak-anak mereka mendapatkan pendidikan agama dengan baik, disamping ilmu lainnya.
Kecenderungan itu menurut Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Dr Haris Supratno MPd disebabkan karena orangtua merasa tidak sempat mendidik putra-putrinya secara penuh. Lantaran aktivitasnya yang padat. ”Ya seperti saya sendiri. Namun, bukan berarti pendidikan keluarga dilupakan, tetap kita masih luangkan waktu.
Sekolah-sekolah elit, memang mempunyai kurikulum dan sarana-prasarana belajar yang memadai dibandingkan sekolah negeri. Jadi, wajar jika mereka menarik biaya yang tinggi. Entah namanya sumbangan uang gedung atau yang lainnya. Biaya yang tinggi bukan menjadi soal bagi golongan menengah atas. Asalkan anaknya betul-betul dapat terpenuhi pendidikannya antara moral dan intelektual.
Namun, harapan seperti ini belum tentu semua bisa berhasil. ”Sebab, di sekolah satu sisi didikannya baik, tapi di lingkungan keluarga suasananya kacau, pergaulan teman dan lingkungan tidak baik, ya tidak bisa berhasil,” ungkap Haris.
Ia menambahkan, pemerintah sudah mencanangkan pada tahun 2025, diharapkan terbentuk generasi insan kamil. Yakni generasi yang menguasai empat kompetensi. Pertama, kompetensi religi, bermakna harus menguasai ilmu agama sesuai keyakinan masing-masing. Tak hanya menguasai secara teori, tapi harus diimplementasikan dalam semua aspek kehidupan.
Kedua, kompetensi emosional dan sosial. Artinya anak didik harus dilatih, dibina, dan dibimbing agar dapat mengendalikan emosi. Peserta didik diharapkan menjadi generasi yang bisa menahan emosi, sabar dan ikhlas, sehingga dalam komunikasi dengan semua pihak akan harmonis.
Ketiga, kompetensi professional. Artinya peserta didik mempunyai keterampilan dan kepandaian sesuai dengan bidangnya masing-masing. Keempat, kompetensi kinestetik, artinya peserta didik sehat jasmani dan jiwa yang halus, karena proses pendidikan adalah suatu proses memanusiakan manusia.
Keempat kompetensi itu akan menghasilkan pendidikan kognitif, afektif dan psikomotorik. Namun sayangnya, baru sekolah elit yang menerapkan kompetensi ini.
Lantas, mungkinkah sekolah lainnya menerapkan hal tersebut? ”Rasanya belum mungkin. Karena sekolah-sekolah umum akan lebih mengutamakan ilmu umum, ya ilmu agama ada tapi hanya sedikit,” tuturnya.
Sebenarnya, sekolah umum tidak boleh melupakan dua hal, agama atau moral dan ilmu pengetahuan umum. Para guru, termasuk sekolah agama, harus tetap ingat bahwa dia adalah seorang pendidik. Dia harus mengajarkan kedua-duanya, seperti sikap dan perilaku. Tutur bahasa yang diperankan guru harus mencerminkan nilai-nilai yang luhur. Jadi, guru bukan hanya sebagai transformasi ilmu semata. Tapi juga harus memberi contoh yang baik. Etika moral dan religi disampaikan meskipun bukan berupa materi.
Baik secara langsung atau tidak langsung, dunia pendidikan sebenarnya juga bersaing. Bersaing untuk meningkatkan kualitas, bersaing untuk menyiapkan sarana dan prasarana sesuai kemampuan lembaga masing-masing. Bersaing menjadi nomor satu, sehingga memengaruhi jumlah siswa yang masuk ke sekolahnya.

Posted in Edukasi | Tagged: | Leave a Comment »

Sudah Saatnya mendengarkan Isi Hati Anak

Posted by almakmun on 14/06/2009

mendengarkan anakDi era modern saat ini, ketika tingkat kesibukan semakin tinggi, waktu kita banyak terfokus kalau tidak boleh dibilang tersita di pekerjaan, ataupun usaha, sehingga hanya sedikit sekali waktu yang kita berikan kepada keluarga. Suatu hal yang lazim, jika kemudian kita mensiasatinya dengan memfokuskan hari Sabtu dan Minggu sebagai hari untuk bercengkrama bersama keluarga. Hal ini bukan tanpa sebab, karena para orang tua sering kali merasa stress dan lelah ketika pulang ke rumah setelah seharian bekerja. Bahkan yang di rumah pun sering merasa terganggu oleh banyaknya beban pekerjaan, sehingga untuk bercengkrama bersama mendengarkan cerita anak kurang. Kondisi demikianlah menuntut kita untuk pandai-pandai menciptakan sendiri waktu untuk bersama. Biasanya kita ingin melakukan percakapan yang penuh arti antara pukul delapan sampai pukul sembilan sambil nonton televisi bersama, atau mungkin kita bisa duduk di ranjang mereka sambil menidurkan mereka dan mengharapkan mereka akan mencurahkan perasaannya atau bersedia berkomunikasi dari hati-ke hati. Atau setelah tidak sempat bersama anak-anak selama seminggu, kita ajak mereka makan siang ke sebuah rumah makan pada Sabtu atau Minggu untuk mengejar ketertinggalan kita sebagaimana kita lakukan pada teman-teman sejawat. Tampak sekilas, cara-cara tersebut di atas adalah cara yang amat baik, namun jika diperhatikan dengan seksama, cara-cara tersebut sebenarnya masih terdapat beberapa kekurangan. Di antaranya adalah timbulnya overlistening, artinya ketika orang tua terfokus secara intens pada apa yang akan dikatakan oleh anak, maka akan membuat si anak menjadi seperti pusat perhatian dunia. Lama kelamaan cara seperti ini bisa menciptakan anak menjadi egois (self-centered) dan ujub (self-absorbed). Percakapan terjadwal seperti itu tidak akan membuahkan hasil yang berarti. Menurut Elisabeth Guthrie & Kathy Mathews, Ada dua resep utama untuk bisa mendengarkan suara hati anak anda dengan efektif. Pertama: Waktu; saat-saat kebersamaan kita bersama anak adalah sebuah hal yang tidak bisa tergantikan. Kita harus benar-benar dapat meluangkan waktu bersama anak dan memberinya kesempatan untuk bicara dan mecurahkan isi hatinya. Sering kali dan lebih baik lagi jika memusatkan pada hal-hal yang sifatnya bukan sekedar pembicaraan, layaknya jalan-jalan bersama, melakukan aktivitas rumah bersama, atau melakukan kegiatan secara bersama-sama. Mirip seperti melakukan pengalihan perhatian, suatu terapi yang bisa diterapkan pada anak-anak usia sekolah. Ketika anak sudah merasa nyaman dan terlibat langsung, mereka dengan sendirinya akan membuka tabir pelindung dirinya. Namun, untuk dapat mengambil manfat dari pengalihan ini, maka kita harus mampu mendengarkan dengan penuh perhatian. Ini bisa berarti kita harus mematikan radio ketika kita berkendara dengannya. Kadang bermanfaat juga untuk meminta anak “menemani kita” ketika kita sedang menyiapkan makan malam atau jalan-jalan. Intinya adalah menciptakan kesempatan berbincang-bincang secara santai. Resep Kedua, yang sering dilupakan oleh para orang tua adalah diam. terkadang kita memang harus diam. Artinya kita jangan langsung nyerocos memberi nasihat atau kritikan setelah si anak selesai mengemukakan masalahnya. Kita semua telah mengalami hal yang demikian ketika masih kanak-kanak. Ketika akhirnya kita mampu mengeluarkan uneg-uneg kepada orang tua kita, bahwa kita sedang menghadapi suatu masalah, dan sebelum kita sempat membuka mulut, orang tua sudah langsung memberi nasihat ini dan itu tentang apa yang harus dilakukan serta kritikan terhadap apa yang sudah kita lakukan. Atau nasihat basa-basi seperti “Semuanya akan beres, nak” yang menandakan bahwa mereka sebetulnya tidak mendengarkan dengan baik, ingatkah bagaimana perasaan kita pada saat itu? Anak-anak kita mungkin merasakan hal yang sama. Tentu kita sekarang bisa mengerti mengapa orang tua kita dahulu melakukannya. Sekarang kita ternyata mempunyai kecenderungan untuk mengulangi hal yang sama. Namun, anak-anak kita kadang-kadang hanya menginginkan adanya dukungan dan pengertian dari kita. Jika anda akan memberi nasihat, nasihatilah dengan lemah lembut. Mengajukan saran-saran seperti “pernahkah kamu pikirkan untuk mencoba…” atau “salah satu cara yang bisa kamu coba untuk mengatasinya saya mungkin ….” Akan lebih efektif daripada nasihat yang dogmatic seperti “Kamu harus ….” Memberi nasihat secara lembut seperti di atas tidak hanya mendorong si anak untuk lebih menerima nasihat kita, tetapi juga membuka pintu lebih besar bagi anak untuk mencurahkan isi hatinya pada masa yang akan datang.

Posted in Family | Tagged: , , | Leave a Comment »