Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Emas Yang dikira Kuningan

Posted by almakmun on 17/07/2009

Sebelum memulai pembahasan ini, mari kita awali pembahasan ini dengan satu pertanyaan, yaitu: “Mengapakah ada orang baik yang hidupnya belum baik?” Seseorang dapat disebut baik, karena ia meyakini yang baik dan hidup dalam kebaikan yang diyakininya. Sehingga, seseorang tidak bisa disebut sebagai orang baik, jika dia meyakini yang baik, namun masih melakukan hal-hal yang tidak baik. Dia cepat menyatakan dirinya orang baik, tetapi juga cepat untuk berlaku tidak jujur saat merasa aman untuk tidak jujur. Kebaikan itu sederhana dan berani. Yang sederhana, seharusnya sederhana juga untuk dilaksanakan, dan kemudian berhasil. Tetapi ketidak-ikhlasan kita untuk menyerahkan yang tidak bisa kita lakukan – kepada Tuhan, dan ketidak-sediaan kita untuk melakukan yang terbaik dari yang bisa kita lakukan, menghasilkan kehidupan yang seharusnya sederhana menjadi kompleks dan penuh kegentingan. Kebaikan itu sederhana dan berani. Jika kita telah seutuhnya mengikhlaskan diri kepada kebaikan, maka kita akan sangat berani. Hukum kebaikan adalah melakukan yang baik dan menghindari yang buruk. Maka mengapakah ada orang yang masih ragu untuk berlaku baik, dan tidak berani menghindari yang buruk? Janganlah mengikuti orang yang salah pikir, yang mengira bahwa dia akan mendapat kebaikan dari menghindari kebaikan dan dari melakukan keburukan. Maka jangan sampai kita ditanya, “apakah engkau tidak berpikir?” Apabila ada orang muda yang shalih, seharusnya kita mensyukuri bahwa dia telah mengikhlaskan dirinya kepada kebaikan, karena banyak sekali orang yang masih bernegosiasi dan meminta penundaan agar mereka tidak harus berlaku baik sekarang. Banyak dari mereka merasa bahwa berlaku baik sekarang adalah kerugian, karena masa muda adalah masa untuk hidup dalam kebebasan, dan kebaikan hanya untuk orang yang sudah mulai menua. Lalu, apakah kebebasan yang mereka maksud adalah kebebasan untuk tidak menjadi orang baik? Dengan pengertian seperti itu, mereka akan bersikap dan berlaku santai, dan tidak membangun nilai pribadi yang akan menjadikan mereka pribadi yang dibayar mahal dan dihargai tinggi di masa depan. Mereka tidak menyadari bahwa yang tidak bekerja keras semasa muda, akan dipaksa bekerja keras di masa tua. Itu bukan hanya kemungkinan, tetapi keniscayaan yang sedang terbukti di sekitar kita. Nah, bagaimana jika orang yang kita sebut sebagai orang baik itu – yang hidupnya belum baik itu, adalah orang yang tadinya menelantarkan masa mudanya? Barangkali berikut penjelasannya, bahwa rasa frustrasi-nya hari ini adalah masa penyesuaian diri bagi mereka yang baru saja menjadi orang baik. Maka orang baik, yang hidupnya belum baik, adalah mungkin orang-orang yang sedang dengan penuh kasih diminta untuk mengutuhkan kebaikannya. Jika kita mengatakan yang baik, maka lakukanlah yang baik, dan hindarilah yang buruk. Jika kita orang baik, ikhlaskanlah diri kita untuk menyerahkan yang tidak bisa kita kerjakan – kepada Tuhan, dan mengambil tanggung jawab penuh atas yang bisa kita kerjakan. Janganlah berserah tetapi masih tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan yang sudah kita serahkan kepada Tuhan. Janganlah juga berani, tetapi mengandalkan kekuatan kepada yang selain Tuhan. Kita, orang-orang yang baik ini, adalah orang yang meyakini bahwa tidak akan ada yang terjadi, tanpa ijin dari Tuhan. Tuhan adalah satu-satunya pemilik kekuatan. Sehingga, jika ada sesuatu terlaksana dengan kekuatan, itu pasti terlaksana karena ijin Tuhan. Maka marilah kita mengikhlaskan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan. Kerjakanlah apa yang harus Anda kerjakan dengan sebaik-baiknya niat dan dengan sebaik-baiknya cara. Yang kita lakukan bisa saja tidak tepat, kecil, atau tidak bernilai bagi orang lain; tetapi Tuhan sangat berwenang untuk menjadikan kita pribadi yang berhasil – melalui apa pun yang kita kerjakan. Hanya kebaikan yang membaikkan. Maka marilah kita meyakini yang baik, dan hidup dalam kebaikan yang kita yakini. Dan ketahuilah, bahwa anggukan kecil di hati itu, adalah tanda dari kesungguhan Anda, yang mengundang senyum Tuhan untuk merahmati kebaikan dalam keyakinan dan dalam pekerjaan Anda. Tidak ada niat Tuhan kecuali untuk melihat kita hidup dalam keindahan dari kebaikan. Maka belajarlah untuk lebih menurut. Sumber: MTSuperClub

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: