Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Isi Lebih Penting dari Kulit

Posted by almakmun on 17/07/2009

Ajaran yang menekankan isi akan lebih toleran, daripada yang mengedepankan kulit atau formalitas. Berikut ini pandangan Prof Dr Kautsar Azhari Noer, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Bagaimana pandangan tarekat di Indonesia terhadap perbedaan agama? Umumnya toleran. Tapi kita tidak bisa menggeneralisir, karena aliran tarekat itu bermacam-macam. Itupun sangat tergantung gurunya. Ada guru yang sangat toleran dan ada yang kurang.

Mengapa tarekat bisa toleran? Umumnya yang toleran itu menganut doktrin wahdat al-wujud Ibn Araby. Doktrin ini sangat menekankan aspek esoteric dan tidak peduli bentuk. Bukan berarti bentuk itu tidak ada. Bentuk itu otomatis. Naqsyabandiyyah, Syatariyyah atau yang lain, yang menganut paham ini, mereka toleran.

Mereka tidak pernah mempersoalkanagama formal? Saya tidak berani mengatakan seperti itu. Yang jelas, mereka toleran pada non muslim. Sehingga non muslim pun bias masuk ke sana. Ini banyak terjadi di Barat, kendati tidak semua. Di sana, ada beberapa tarekat yang mempersilahkan non muslim ikut berzikir atau berdoa bersama, tanpa menanyakan agamanya. Misalnya tarekat Maulawiyyah. Tarekat ini anggotanya banyak dari non muslim. Begitu juga Naqsyabandiyyah. Saya punya kawan dari Jerman. Dia mengaku ikut Tarekat Naqsyabandiyyah di Eropa. Menariknya, dia agamanya Katolik dan dia tidak masuk Islam. Amalannya sama saja!

Alasan filosofisnya apa? Saya kira karena kelompok itu lebihmenekankan esensi atau esoteric. Bentuk apa saja, Yahudi, Islam, Kristen, dan sebagainya, tapi toh esensinya sama. Orang bertauhid, itu tunduk pada Tuhan dan selalu merasakan kehadiran-Nya. Ini esensi yang perlu ditekankan.

Dengan ajaran ini, Anda yakin konflik antar agama bisa selesai? Bisa! Bisa! Cuma tidak semua orang bisa belajar tasawuf. Dan umumnya, orang berantem itu karena simbol. Abdul Karim Soroush menyatakan, Islam itu ada dua. Islam kebenaran dan Islam identitas. Islam kebenaran itu yang didakwahkan para nabi. Itu membawa kebenaran, bukan identitas. Kalau kita membawa Islam sebagai identitas, itu akan lebih mudah menyulut konflik antara sesamamuslim atau dengan non muslim. Masing masing akan menonjolkan identitas.

Siapa tokoh tarekat di Indonesia yang toleran? Kalau zaman dulu, itu banyak. Ada Abdus Shamad al-Palimbangi, Syamsuddin al-Sumatrani, dan banyak lagi. Pokoknya kalau yang diutamakan isi, itu lebih toleran ketimbang yang kulit. Hanya saja, biasanya orang lebih setia pada kulit ketimbang isi. Akibatnya membunuh orang atas nama agama.

Bagaimana dengan munculnya banyak lembaga spiritual modern? Tasawuf itu tidak harus punya lembaga. Intinya kan mendekatkan diri sedekatnya pada Allah. Tapi memang, orang akan lebih mudah melalui guru atau organisasiketimbang belajar sendiri. Ibn Araby sendri punya guru sampai 70 orang lebih. Bahkan gurunya ada yang perempuan. Orang yang bisa menjalaninya tanpa guru itu punya bakat yang luar biasa. Anda pernah menulis, lembaga spiritual modern cenderung seperti lembaga bisnis. Memang bisnis itu nggak haram. Itu terhormat. Sufi itu banyak yang pedagang. Saya mengritik, itu karena ada kecenderungan pembisnisan tasawuf. Tapi saya tidak pernah menuding lembaga atau orang yang membisniskan tasawuf. Itu kritik untuk hati-hati saja.

Anda pernah belajar tasawuf di Beshara Skotlandia.Bagaimana lembaga ini? Beshara ini tidak ada silsilahnya. Inipendidikan esoteric saja. Di situ bentuk tidak diutamakan. Pendidikan spiritual yang tidak ada bai’at dan tidak ada mursyid. Ini universal untuk siapa saja. Yahudi, Islam, Kristen, sekuler, atau apa saja yang penting intinya. Jadi arahnya man‘arafa nafsah faqad ‘arafa rabbah.

Kitab apa yang diajarkan di sana? Fushush al Hikam Karya Syeikh al-Akbar Muhyiddin Ibn Araby. Disamping itu juga dipelajari karya Jalaluddin Rumi, Tao dan Bhagavad-Gita. Orang kalau memahami bn Araby akan mudah memahami Upanishad dan Tao. Itu ketemu!

Harapan Anda? Yang terpenting menghormati perbedaan. Kadang kita lupa, bahwa kita harus menghormati perbedaan.

Sumber: wahidinstitute

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: