Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Memahami Tauhid

Posted by almakmun on 15/08/2009

Pengertian Tauhid
Perkataan tauhid berasal dari bahasa Arab, yakni masdar dari kata wahhada, yuwahhidu. Secara etimologis, tauhid berarti keesaan. Maksudnya, keyakinan bahwa Allah SWT. Adalah esa; Tunggal; Satu.
Setelah mengetahui makna dari tauhid, kemudian bagaimana hukumnya seseorang mempelajari tauhid? Para ulama sependapat, bahwa mempelajari tauhid hukumnya wajib bagi setiap muslim. Kewajiban itu bukan saja di dasarkan pada alasan rasio bahwa aqidah merupakan dasar pertama dan utama dalam Islam, tetapi juga di dasarkan pada dalil-dalil naqli, al-Qur’an dan Hadits.
قال الله تعالى في كتابه الكريم : وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ (المؤمنون(
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. )Qs. Al-Mukminun: 52)
Menurut Ibn Katsir dalam Tafsir Ibn Katsir, yang dimaksud dengan agama kamu semua agama yang satu adalah bahwa agama dan jalan semua nabi mulai dari nabi Adam sampai nabi Muhammad adalah satu, yaitu mengajak beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukannya.
Berdasarkan ayat di atas, maka kita diperintahkan untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi, siapa sebenarnya Tuhan (رَبُّ), siapa nama Tuhan yang wajib disembah, dan bagaimana cara menyembah Tuhan?.
Siapa nama Tuhan yang wajib disembah?
Secara tegas Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri yang menamai dirinya Allah. Hal ini dapat diketahui di dalam surat Thaha ayat 14:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
Juga dalam al-Qur’an yang bertanya: Hal Ta’lamuuna Samiyyan (Qs. Maryam: 65)? ayat ini dipahami oleh pakar al-Qur’an sebagai bermakna ”Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang bernama seperti nama ini? Atau apakah engkau mengetahui sesuatu yang berhak memperoleh keagungan dan kesempurnaan sebagaimana pemilik nama itu (Allah)? Atau bermakna Apakah engkau mengetahui ada nama yang lebih agung dari nama ini atau Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan Dia (yang patut disembah)”

Pertanyaan-pertanyaan yang mengandung makna sanggahan ini kesemuanya benar, karena hanya Tuhan Yang Maha Esa yang wajib wujud-Nya itu yang berhak menyandang nama tersebut, sedangkan selain-Nya tidak ada dan bahkan tidak boleh. Hanya Dia yang berhak memperoleh keagungan dan kesempurnaan mutlak, sebagaimana tidak ada nama yang lebih agung dari nama-Nya itu.
Ayat di atas, adalah ayat pengenalan yang menegaskan bahwa Tuhan yang wajib disembah itu bernama Allah. Kata Allah merupakan nama Tuhan yang paling populer. Apabila kita berkata Allah, maka apa yang kita ucapkan telah mencakup semua nama-nama-Nya yang lain. Sedang jika kita mengucapkan nama-nama-Nya yang lain seperti ar-Rahman, al-Malik dan lainnya, maka ia hanya menggambarkan sifat rahmat atau sifat kepemilikan-Nya. Di sisi lain, tidak satupun dapat dinamai Allah, baik secara hakikat maupun majazi.
Menurut ahli tafsir, kata Allah berasal dari kata اله (illah) Artinya yang “disembah” menegaskan bahwa illah adalah segala sesuatu yang disembah baik penyembahan itu tidak dibenarkan oleh akidah Islam, seperti menyembah bintang, matahari, berhala, dll. Hal ini disebabkan karena kata tersebut sudah ada sejak Islam belum datang, sehingga jangan heran jika ada umat selain Islam yang menyebut tuhan mereka dengan nama illah jamak dari kata illah adalah alihah yang artinya Tuhan-Tuhan.
Kata Allah mempunyai kekhususan yang tidak dimiliki oleh kata lain; ia adalah kata yang sempurna huruf-huruf dan maknanya, serta memiliki kekhususan berkaitan dengan rahasianya, sehingga para ulama menamainya dengan ism a’dham (Nama Allah yang paling mulia).
Mari kita lihat dari segi lafadz, di sini akan terlihat keistimewaannya ketika dihapus huruf-hurufnya satu persatu. Coba bacalah kata Allah dengan menghapus huruf awalnya, niscaya akan berbunyi lillah yang mempunyai arti milik/bagi Allah. Kemudian coba hapus lagi huruf awal dari lillah, maka akan terbaca lahu yang bermakna bagi-Nya. Lalu coba hapus lagi huruf awal dari lahu akan terbaca Hu yang berarti Dia (menunjuk Allah) dan bila inipun dipersingkat akan dapat terdengar kata Aah yang sepintas atau pada lahirnya mengandung makna keluhan, tetapi pada hakikatnya adalah seruan permohonan kepada Allah. Karena itu pulalah sementara ulama berkata bahwa “kata Allah terucapkan oleh manusia sengaja atau tidak sengaja, suka atau tidak. Itulah salah satu bukti adanya Fitrah dalam diri manusia. Inilah yang ditegaskan bahwa sikap orang-orang musyrik adalah “Apabila mereka kamu bertanya kepada mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi, pastilah mereka berkata Allah” (Qs. Az-Zumar: 38)
Kemudian kita beralih tentang siapa sebenarnya Allah itu? Dalam surat al-Ikhlas dijelaskan:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ(1)اللَّهُ الصَّمَدُ(2)لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ(3)وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ(4(
Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa) ini berarti bahwa Allah adalah satu, tunggal dalam kualitas dan tunggal dalam kuantitas sebagaimana dalam surat al-An’am yaitu Qul Innama Ilahun Waahid (katakanlah sesungguhnya Tuhan itu Satu.).
اللَّهُ الصَّمَدُ (Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu). Ini menegaskan bahwa setiap yang dipertuhan pasti disembah dan kepadanya harapan dan permohonan. Semua aspek akan tertuju dan bergantung kepada Allah. Tidak ada satupun yang berdiri sendiri.
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan). Ini sebagai penegas dari surat an-Nisa’ yang berbunyi:

يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا
Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.(an-Nisa’: 171)
Juga dalam surat al-Maidah yang berbunyi:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.(al-Maidah:73)

Ayat di atas, menegaskan dan membantah perkataan bahwa menurut Yahudi bahwa Uzair adalah anak Allah dan orang Nashrani yang mengatakan Isa adalah Tuhan. Di samping itu, konsep Tri Nitas itu juga tidak benar. Karena Allah adalah satu, bukan anak dari tuhan, atau bapak dari tuhan. Melainkan Dia adalah Tunggal.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا أَبُو سَعْدٍ هُوَ الصَّغَانِيُّ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ الرَّازِيِّ عَنْ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ الْمُشْرِكِينَ قَالُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ وَالصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ لَأَنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ يُولَدُ إِلَّا سَيَمُوتُ وَلَا شَيْءٌ يَمُوتُ إِلَّا سَيُورَثُ وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَمُوتُ وَلَا يُورَثُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ قَالَ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَبِيهٌ وَلَا عِدْلٌ وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ الرَّازِيِّ عَنْ الرَّبِيعِ عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ آلِهَتَهُمْ فَقَالُوا انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ قَالَ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ بِهَذِهِ السُّورَةِ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَذَكَرَ نَحْوَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعْدٍ وَأَبُو سَعْدٍ اسْمُهُ مُحَمَّدُ بْنُ مُيَسَّرٍ وَأَبُو جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ اسْمُهُ عِيسَى وَأَبُو الْعَالِيَةِ اسْمُهُ رُفَيْعٌ وَكَانَ عَبْدًا أَعْتَقَتْهُ امْرَأَةٌ سَابِيَةٌ

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِين. بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا(النساء: 157-158)
“Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa.” Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat `Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS. An-Nisa>’: 157-158)
Selanjutnya adalah berkenaan dengan kematian dan penyaliban isa bin Maryam, perlu kita lihat surat 4:157. di mana terdapat pengertian:
Pertama, bahwa sebenarnya yang terbunuh dan disalib itu bukanlah Isa, tetapi ada seseorang yang wajahnya diserupakan oleh Allah.
Kedua, bahwa Isa ketika disalib itu tidak mati mungkin beliau koma, atau nampak sepeti wafat, tetapi sebenarnya beliau hidup dan ketika diturunkan dari salibpun beliau hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: