Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Persamaan Ibn Taymiyah dan Muhammad Shahrur

Posted by almakmun on 15/08/2009

Persamaan pemikiran antara Ibn Taymiyah dengan Muhammad Shahrur, terletak pada tidak adanya penggunaan term khilafah atau imamah dalam pemikiran mereka tentang kepemimpinan politik dalam Islam, hal ini dikarenakan kondisi masyarakat dan masa keduanya berbeda.
Persamaan lainnya, keduanya menekankan pentingnya aspek musyawarah dalam rangka menyelesaikan semua persoalan, baik persoalan agama, atau politik. Keduanya juga memberi gambaran dan pedoman kepada seorang pemimpin agar dalam memilih pejabat pemerintahan tidak didasarkan atas suku, kelompok, madhhab, dan agama.
Ibn Taymiyah dan Shahrur, menyinggung tentang sosok Fir’awn dan Qarun sebagai sosok manusia yang tercela. Persamaan lainnya adalah keduanya tidak memberikan syarat kepada seorang pemimpin harus dari golongan Quraish sebagaimana yang disyaratkan mayoritas pemikir sunni. (Seperti al-Mawardi, syarat yang harus dipenuhi oleh kepala negara adalah adil, berilmu pengetahuan, selamat panca indera, utuh anggota badan, berakal sehat, mempunyai keberanian dan kekuasaan yang nyata (an-Najdat) dan dari suku Quraish lebih lanjut lihat dalam Abu al-Hasan Ali Ibn Muhammad Ibn Habib al-Basi al-Baghdadi al-Mawardi. Ahkam al-Sultaniyah (Beirut: Dar al-Fikr, tt). Adapun al-Ghazali mensyaratkan kepala negara harus: laki-laki yang sudah dewasa, berakal sehat, sehat pendengaran dan penglihatan, merdeka dan dari suku Quraish)
Alasan Ibn Taymiyah dalam hal ini, karena syarat tersebut masih diperselisihkan, sehingga syarat keturunan Quraish tidak mungkin diterapkan. Di samping itu, syarat ini bertentangan dengan prinsip ajaran al-Qur’an tentang konsep persamaan hak. Dengan demikian, syarat tersebut meskipun mendapatkan legitimasi dari hadith, tetapi bertentangan dengan nas yang lebih unggul (rajih). Sedangkan Shahrur melihat syarat ini dalam sejarah penuh dengan perdebatan, bahkan para sahabat tidak memunculkannya di thaqifah (Konflik politik yang terjadi di Thaqifah bani Sa’idah setelah Nabi Muhammad wafat, ada dua kekuatan inti pada masyarakat baru: Muhajirin dan Ansar. Kekuatan Muhajirin terkonsentrasi pada isu suku Quraish dalam bentuk tribalnya sedangkan Ansar pada Aus dan Khazraj dalam bentuk tribal lainnya. Di sana tidak ada statemen-statemen para pembesar Quraish yang diajukan dan dimunculkan. Jika tidak, maka kaum Ansar akan berani mengusulkan dua pemimpin bagi kepemimpinan salah satu dari keduannya, dan niscaya imamah dan imarah hanya akan selesai terbatas pada suku Quraish saja hingga hari kiamat.) dan sekaligus bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: