Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Terpujilah mereka yang mau menjadi dokter rohani

Posted by almakmun on 15/08/2009

Kebanyakan dari kita merasa bahwa penyakit yang melanda seseorang perlu segera ditangani dan disembuhkan. Berapapun biaya yang harus dikeluarkan, kemanapun mereka akan berobat pasti semua akan dilakukan demi sembuh dari yang namanya penyakit “fisik”. Sejatinya perlu diketahui bersama bahwa peyakit rohani itu jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan penyakit jasmani. Padahal penyembuhan penyakit rohani itu tidak menelan biaya yang mahal, penanganannya pun lebih mudah dari penyakit jasmani, tidak butuh dokter untuk membantu menyembuhkannya, sebab kita sendiri dapat mengobatinya. Penyebab utama penyakit rohani adalah disebabkan karena terjangkit Virus Syetan. Mereka mengikuti petunjuk syetan atau hawa nafsu (keinginan yang menyimpang dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya), sehingga tidak mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Ada tiga langkah dalam penyembuhan penyakit rohani pada diri kita : pertama, mengenali ciri-ciri penyakit rohani. Kedua, memeriksa diri apakah terjangkit atau tidak, dan yang ketiga, jika terjangkit sembuhkan dengan membuang jauh-jauh penyakit tersebut atau memahami obatnya. Beberapa penyakit rohani adalah penyakit Kekafiran, kemunafikan, kemusyrikan, kesombongan, riya’, bangga diri (ujub), kebohongan, kedengkian dan suka marah. Bagaimana mengenali orang yang terserang penyakit rohani? Jika penyakit jasmani adalah menyerang organ (anggota) tubuh manusia, namun tidak begitu dengan penyakit rohani. Penyakit rohani akan menyerang mata hati (kalbu) manusia. Tanda orang yang dalam mata hatinya ada penyakit rohani adalah : Pertama, manusia itu akan mengikuti apa yang dibisikkan syetan kepadanya. Hal semacam ini dijelaskan Allah dalam surah al-Hajj (22) ayat 53 : Artinya: “agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai ujian bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat”. Kedua, manusia itu tidak mau menggunakan al-Qur’an sebagai pedoman dalam menyelesaikan permasalahan dan perkara mereka, karena mereka meragukan isi al-Qur’an dan berburuk sangka kalau-kalau Allah dan Rasul-Nya berbuat aniaya kepada mereka, padahal mereka sendirilah sebenarnya yang bebuat aniaya terhadap diri mereka sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam surah al-Nur (24) ayat 50 : Artinya: “orang-orang yang takut menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman penyelesaian) Apakah (tidak datangnya mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim” Ketiga, Manusia itu mengatakan, bahwa apa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya adalah tipu daya semata. Hal ini dijelaskan dalam surah al-Ahzab (33) ayat 12 Artinya: “Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya” Keempat, ketika perintah perang datang dari Allah, maka seperti orang yang pingsan karena mereka takut mati. Hal ini dijelaskan pada surah Muhammad (47) ayat 20 Artnya: ”Dan orang-orang yang beriman berkata: “Mengapa tiada diturunkan suatu surat?” Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka” Oleh karena itu, Allah memperingatkan orang-orang yang beriman agar jangan meniru perkataan orang kafir dan munafik yang mengatakan “untunglah kami tidak ikut berperang, kalau kami ikut akan mati atau terbunuh”. Sebagaimana dijelaskan dalam surah Ali-Imran (3) ayat 156 yang artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: “Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh.” Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan” Kemudian Allah menjelaskan perbedaan perang yang dilakukan oleh orang-orang kafir dengan perang yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Orang yang beriman berperang di jalan Allah, namun orang kafir berperang di jalan Thahut (syetan). Sebagaimana dijelaskan dalam surah al-Nisa’ (4) ayat 76 yang artinya: “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah” Kelima, manusia itu selalu menyakiti Rasulullah, maka Allah memerintahkan untuk memeranginya. Hal ini dijelaskan dalam surah al-Ahzab (33) ayat 60 yang artinya: ”sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya serta orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar” Oleh karena itu, para isteri Nabi dilarang tunduk ketika berbicara dengan orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit. Hal ini dijelaskan dalam surah al-Ahzab (33) ayat 32 : “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik” Keenam, dengki terhadap orang-orang yang beriman dan kedengkiannya akan ditampakkan di kemudian hari (akhirat). Hal ini dijelaskan dalam surah Muhammad (47) ayat 29 ”Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Ketujuh, mempertanyakan tentang jumlah malaikat yang menjaga neraka, karena Allah tidak menyebutkannya. Hal ini dijelaskan pada surah al-Mudassir (74) ayat 31 “Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mu’min itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: