Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Wasiat; Jangan Hanya Urusan Harta Melulu!!!!

Posted by almakmun on 30/01/2010

Wasiat, sebuah istilah yang selama ini hanya diasumsikan sebagai sebuah pesan yang disampaikan seseorang kepada keluarga atau ahli waris berkenaan dengan harta pusakanya setelah orang tersebut meninggal dunia. Namun demikian, seharusnya wasiat tidak hanya berkenaan dengan harta pusaka saja, melainkan sebuah wasiat itu harusnya berupa pesan moral, dan pesan akidah kepada anak-anaknya. Hal yang demikian, bukan mengada-ada, melainkan sudah di terapkan oleh para Nabi dan orang shaleh pada masa dahulu. Penulis mencoba menelusuri jenis-jenis wasiat di dalam al-Qur’an, dan ternyata penulis menemukan beberapa jenis wasiat, yaitu:

Wasiat yang pertama adalah, orang tua hendaklah senantiasa mewasiatkan kepada anak cucunya agar senantiasa menjaga atau memeluk agama Islam sampai mati dan Senantiasa melaksanakan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’kub berpesan kepada anaknya, wasiat tersebut terekam dalam surah al-Baqarah: 132, yaitu:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Qs. al-baqarah: 132) أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ

الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ ءَابَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (Qs. al-Baqarah 133)

Selain Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’kub, wasiat semacam ini juga di sampaikan oleh Lukman seorang manusia yang alim yang memperoleh hikmah dari Allah Swt. Lukman berwasiat agar anak-anaknya jangan sampai mempersekutukan Allah dengan apapun, sebagaimana firman Allah:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Qs. Lukman: 13)

Wasiat kedua, jangan biasakan atau jangan biarkan anak berkumpul dan mengikuti kelompok-kelompok orang kafir. Sebagaimana wasiat nabi Nuh kepada anaknya ketika terjadi bencana air bah. Pada saat itu, anak Nabi Nuh diperintahkan untuk ikut bersama ayahnya, namun ia menolak dan lebih memilih untuk bersama dengan orang-orang kafir dan memilih mencari perlindungan selain Allah. Hal ini terlihat dalam al-Qur’an surat Huud 42-43.

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَابُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” (Qs. Huud: 42) قَالَ

سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Qs. Huud: 43)

Wasiat ketiga, hendaknya orang tua mewasiatkan kepada anak-anak mereka agar senantiasa menjaga dan mendirikan shalat, mengerjakan perbuatan yang baik, cegahlah mereka berbuat mungkar dan ingatkan mereka agar senantiasa bersabar atas segala kondisi yang sedang dialami. Wasiat semacam ini dilakukan Lukman kepada anak-anaknya,

Sebagaimana firman Allah: يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Qs. Lukman: 17)

Wasiat keempat. Hendaknya orang tua mewasiatkan kepada anak-anaknya agar senantiasa terus berjuang dan terus berkreasi serta berinovasi. Setelah itu, jangan lupa agar senantiasa bertawakkal atau berserah diri kepada Tuhan sebab hanya Tuhan lah yang menetapkan segala sesuatu. Sebagaimana firman Allah:

وَقَالَ يَابَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

Dan Ya`qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun daripada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri”. (Qs. Yusuf: 67)

Wasiat kelima, tanamkan rasa optimisme dalam mencari rahmat Allah dan semangat dalam menghadapi segala sesuatu serta jangan pernah boleh putus asa, sebab orang yang putus asa adalah termasuk orang-orang kafir. Hal ini dijelaskan Allah dalam Firman-Nya:

يَابَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Qs. Yusuf: 87)

Wasiat keenam, perintahkan kepada anak-anak khususnya dan manusia umumnya agar senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tua, karena merekalah yang telah berjuang sekuat tenaga dan fikiran untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Wasiat semacam ini terekam dalam Firman Allah:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Qs. Lukman 14)

Wasiat ketujuh, berpesanlah kepada anak-anak untuk senantiasa berakhlak mulia, bertutur kata yang lembut dan menjauhi sifat sombong, angkuh dan bangga diri, sebab Allah tidak menyukai orang-orang sombong lagi membanggakan diri.

Sebagaimana Firman Allah: وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Qs. Lukman: 18)

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Qs. Lukman: 19)

Untuk itu, mulai sekarang kita sebagai orang tua marilah merubah cara pandang kita dalam berwasiat. Jangan hanya urusan duniawi semata yang diurusi. Jangan pernah mengajarkan anak-anak untuk selalu mencintai harta kekayaan dan jabatan, melainkan senantiasalah membimbing anak-anak untuk senantiasa mendalami agama Islam dan ketika berwasiat, maka berwasiatlah sebagaimana wasiat-wasiat yang ada di atas. Semoga kita senantiasa menjadi pribadi yang mendapatkan Ridho Allah dan senantiasa memiliki anak-anak yang shaleh dan shalihah yang dapat meneruskan perjuangan agama Islam. Aamin ya Rabbal Alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: