Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Keuntungan Membaca al-Qur’an

Posted by almakmun on 15/03/2010

Bagian 1

Membaca adalah sebuah rutinitas yang bisa dipastikan hampir setiap hari dilakukan oleh semua orang. Entah ia membaca buku, membaca koran, membaca majalah, membaca berita atau membaca al-Qur’an. Membaca merupakan kegiatan yang sangat bagus sekali. Sebab dengan membaca pengetahuan dan wawasan akan bertambah. Namun demikian, alangkah baiknya jika kita tidak melupakan membaca yang satu ini yakni al-Qur’an.

Disadari atau tidak, selama ini seakan-akan kegiatan membaca dan mempelajari al-Qur’an sebatas pada anak kecil. Mereka di sore hari atau setelah shalat maghrib pergi ke TPQ (Taman Pendidikan al-Qur’an) untuk belajar al-Qur’an. Namun ironisnya ketika mereka telah khatam dan beranjak dewasa, seakan-akan malas atau bahkan dengan alasan tidak memiliki waktu untuk mengaji. Tidak mereka saja, bahkan juga orang tua terkadang tidak memperhatikan dan kurang peduli dengan anaknya maupun dengan dirinya sendiri untuk senantiasa membaca al-Qur’an.

Membaca al-Qur’an tidaklah menghabiskan waktu kita. Sesibuk apapun, jika ada niat dan kemauan pasti akan terlaksana. Masak kita membaca koran dengan 48 halaman bisa tapi membaca al-Qur’an satu atau dua ayat tidak sempat. Betapa ironisnya kita. Padahal jika kita telaah lebih lanjut, manfaat membaca al-Qur’an sangat banyak sekali, al-Qur’an bisa sebagai obat, sebagai penenang hati dan masih banyak lagi yang lainnya.

Berikut ini akan saya ulas beberapa faidah dan manfaat membaca al-Qur’an Pertama: Membaca satu ayat al-Qur’an lebih berharga daripada satu unta (kalau sekarang ini unta bisa dimaknai dengan kendaraan yang paling mahal, seperti sekelas Ferrari). Hal ini dijelaskan oleh hadis Rasulullah Saw:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِي الصُّفَّةِ فَقَالَ أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِيَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِي غَيْرِ إِثْمٍ وَلَا قَطْعِ رَحِمٍ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نُحِبُّ ذَلِكَ قَالَ أَفَلَا يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمُ أَوْ يَقْرَأُ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلَاثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنْ الْإِبِلِ

Dari U’bah bin Amir berkata, bahwa Rasulullah Saw, datang kepada kami ketika kami sedang duduk di atas Shuffah, kemudian beliau bertanya: “Apakah ada diantara kalian semua yang senang pergi ke (pasar) Buth’an atau (pasar) Aqiq lalu pulang dengan membawa dua ekor unta betina dari jenis yang terbaik tanpa melakukan satu dosa pun atau memutuskan tali silaturrahim?. Lalu kami menjawab, “Ya Rasulullah, kami sangat senang dengan hal itu.” Lalu Rasulullah bersabda: “Mengapa diantara kalian tidak pergi ke masjid kemudian membaca atau mempelajari dua ayat al-Qur’an (padahal yang demikian itu) lebih baik baginya daripada dua ekor unta betina, tiga ayat adalah lebih baik dari tiga ekor unta betina, dan begitu pula membaca empat ayat adalah lebih baik dari empat ekor unta betina dan jumlah yang sama dari unta-unta.” (HR: Muslim bab Kitab Shalat al Musaafiriin wa Qashruha: 1336)

Yang dimaksud dengan Shuffah adalah sebuah nama lantai yang ditinggikan yang ada di dalam masjid Nabi Muhammad Saw., di Madinah. Pada zaman dahulu tempat ini dihuni oleh kaum muslim yang ekonominya rendah (dhuafa’) yang hijrah dari Makkah ke Madinah. Sehingga mereka kemudian dikenal dengan sebutan ahl Shuffah.

Sedangkan yang dimaksud dengan Buth’an dan Aqiq adalah nama dua pasar hewan yang ada didekat kota Madinah. Penyebutan hewan unta karena bagi orang Arab hewan tersebut merupakan hewan yang paling digemari terutama unta betina dengan punuk besar. Kalau bagi kita yang hidup di era sekarang ini bisa diartikan dengan kendaraan yang paling mewah, seperti mobil Ferrari, Jaguar dan sejenisnya atau bisa juga dengan hean peliharaan yang sangat berarti dan mahal harganya bagi kita.

Perlu digaris bawahi dalam hadis di atas adalah pernyataan ”tanpa melakukan satu dosa” sebab bisa saja seseorang mendapatkan segala sesuatu yang diinginkan dengan berbagai macam cara, seperti jual beli dengan menipu, mendapatkan sesuatu dengan pemerasan, korupsi, atau dengan mencuri. Rasulullah menyebutkan syarat tersebut karena setiap orang pasti akan senang jika mendapatkan sesuatu tanpa usaha dan tanpa melakukan dosa sedikitpun. Namun dari semua yang berharga dan bernilai itu adalah lebih baik jika kita mempelajari atau membaca al-Qur’an. Hakikat inilah yang harus diyakini dengan sepenuh hati bagi setiap umat muslim. Sebab jangankan satu unta atau dua unta, orang yang memiliki kekayaan seluas tujuh benua atau seisi bumi pun pasti akan di tinggalkan jika ajal telah menjempunya. Namun pahala bagi orang-orang yang membaca al-Qur’an akan tetap ada untuk selama-lamanya.

Hadis ini juga mengandung pengertian bahwa kita jangan sampai membandingkan sesuatu yang sementara dengan yang kekal. Alangkah ruginya jika kita menghabiskan waktu dengan sesuatu yang sia-sia dan mendapatkan kemalangan yang kekal. Marilah mulai saat ini dan detik ini pula kita perbanyak membaca dan mempelajari al-Qur’an kapan pun dan dimanapun. Semakin banyak kita membaca dan mempelajari al-Qur’an, maka semakin banyak pula kekayaan pahala yang akan kita terima.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: