Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Archive for the ‘Religi’ Category

Seputar Wudhu dan Tayamum

Posted by almakmun on 10/04/2012

APAKAH WUDHU DAN TAYAMUM ITU

Advertisements

Posted in Religi | Leave a Comment »

Bahaya Industri Agama

Posted by almakmun on 09/04/2012

 Satu dekade yang lalu, Inul Daratista digugat ramai-ramai oleh massa berjubah agama hingga sampai ke Majlis Ulama Indonesia.Gara-gara “pengeboran Inul” muncul H. Rhoma Irama di garis depan, dan sejumlah Ulama yang mendatangi DPR agar segera disahkan UU Anti Pornografi. Rupanya massa pedangdut lebih memihak Inul daripada Bang Haji, bukan karena fatwa keagamaannya, namun soal kejujuran beragama. Inul lebih jujur, karena dia “ngebor” semata mencari uang di Jakarta. Tetapi Raja Dangdut itu menggunakan lambang-lambang dakwah dibalik industri musikalnya, yang sangat tipis batasannya, apakah berdakwah melalui musik atau membangun industri musik dengan merek dakwah?

Dalam waktu bersamaan, kiai dan budayawan, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) membuat lukisan heboh.  Melukis lingkaran majlis dzikir, ditengahnya ada perempuan sedang mengebor gaya Inul Daratista.  Suatu kritik spiritual yang luar biasa dalam kanvas itu, betapa banyaknya majlis dzikir yang tak lebih dari tirai bagi syahwat para pelakunya. Mereka kehilangan Allah Swt, ketika berdzikir, malah perpektif nafsunya yang muncul dalam ritualnya.

Ketidakjujuran seringkali menguatkan politisasi agama dan menciptakan tuhan-tuhan semu yang menjanjikan birahi instan, untuk sekadar melupakan problema sosial, ekonomi dan politik pada publik, adalah bentuk pelarian yang sungguh memuakkan. Belakangan malah muncul gerakan bisnis bernuansa spiritual, kecerdasan spiritual, sedekah berlipat duniawi, pelatihan-pelatihan pengembangan SDM bernuansa spiritual,  agar mendapatkan dua pundi-pundi sekaligus, mati masuk syurga, sekaligus dapat untung duniawi.  Gerakan yang justru menimbulkan pembusukan esensi agama itu sendiri.

Mengapa? Karena terjadi transaksi “gaya hidup beragama”, sebagai jawaban instan atas peluang-peluang material di celah-celah spiritual yang kosong. Hasilnya adalah status baru dalam kehidupan sosial modern, sosok manusia dengan gaya hidup modern, namun tetap religius dengan mainstream agar dipandang sebagai manusia yang dekat dengan Tuhan. Padahal ajaran agama, sama sekali tidak mentolerir cara beragama yang riya’ dan hipokrit seperti itu.

Kasus-kasus penyimpangan atas nama agama, atau yang kebetulan dilakukan tokoh yang berlatar agama, mengingatkan kita betapa bahaya bendera-bendera agama dikibarkan untuk kepentingan industri ekonomi dan politik. Lebih-lebih ketika ummat terpedaya oleh kelatahan budaya, bahwa setiap yang didukung oleh mayoritas itu memiliki kebenaran mutlak, dan yang minoritas itu tidak lebih dari buih sampah yang bathil. Padahal kebenaran bisa didukung mayoritas, dan bisa didukung hanya minoritas. Begitu juga sebaliknya, kebathilan.

Jika kita survey di seluruh negeri ini, merk-merk dagang dan merk “politik” dengan bernuansa serba religius, jumlahnya hampir ratusan. Karena menurut teori marketing, sebuah produk yang bisa melekat secara emosional setara agama, maka produk itu benar-benar sukses di pasar. Inilah yang menarik proyek “berhala bisnis” yang dijadikan lahan industri siapa pun yang ingin memaksa Tuhan menuruti selera nafsunya.

Karena komoditas manusia modern telah melampaui takarannya, maka perkembangan industri muncul dengan eksploitasi apa pun yang untuk membangun kapitalisasi dengan segala cara. Bahkan, konsumsi-konsumsi psikologis yang maniak terhadap kekerasan, bisa dijadikan lahan bisnis kekerasan, dan berujung industri perang. Konsumsi hedonikal, bisa menyeret maniak kebinatangan manusia untuk dijadikan obyek potensial untuk industri syahwat, pemuasan perut, dan emosi status sosial, maupun mimpi semunya.

Kekerasan, kebuasan dan kebinatangan, akan terus tumpang tindih saling berkelindan dalam gerakan peradaban yang destruktif. Agama dan simbol spiritual menjadi sasaran paling potensial untuk dijadikan legitimator atas usaha-usaha syahwatiah tersebut, dan sangat berbahaya jika masuk dalam bursa pasar, sebagai spirit  dari satu sisi dua mata uang globalisasi.

Agama mana pun ketika tampil dalam konstruksi verbal, formal, dan simbolik, selalu berujung keruntuhan historinya, karena kepentingan berebut penguasaan simbol-simbol agama tidak pernah muncul sebagai kekuatan sejarah, kecuali sekadar buih-buih yang hebat yang menghempaskan dirinya sendiri dalam kebudayaan yang hampa, tanpa moral. Sehina mereka yang memperdagangkan akhirat untuk kepentingan dunianya, atau sehina mereka yang berbisnis dengan Tuhan, karena memaksakan nafsunya untuk mengukur kriteria keabsahan Ilahi dibalik sukses dan gagalnya urusan duniawi.

Dalam kultur “amaliah publik” (awam) di bawah, tentu lebih banyak lagi  munculnya instanisme religious untuk mengukur derajat kesucian tokoh atau pemimpin agama.  Hal ini ditandai maraknya dunia magic dan hal-hal luar biasa yang dilatari kultur spiritual seseorang, lalu dijadikan ukuran status kesucian, manakala instanisme duniawi bisa diproduksi oleh kekuatan spiritualnya. Inilah bentuk-bentuk  pembebasan semu penuh tipudaya (ghurur) yang tidak membebaskan belenggu ketololan bangsa, khususnya umat beragama.

Kisah sedih soal manipulasi keagamaan, cabulisme, dan munculnya kepalsuan-kepalsuan spiritual, senantiasa berulang dalam kehidupan kita, terutama ketika depressi ekonomi dan politik menjadi kabut yang tidak menumbuhkan semangat dan harapan, maka spontanitas emosi sosial selalu bersemburat tanpa kendali, bahkan dalam pelarian spiritualnya.

Lembaga-lembaga agama, pemerintah dan institusi pendidikan sangat bertanggungjawab atas keberlangsungan kekuatan moral dalam beragama. Karena, dalam Islam, institusi itu mana pun, baik pemerintahan maupun Ormas, lembaga pendidikan,  dibangun justru untuk menegakkan agama. Bukan sebaliknya, agama dijadikan lahan formalisasi, bagi kepentingan ekonomi dan politik,  yang berujung perebutan hegemoni konflik.

Agama bukanlah hiburan spiritual yang dipertontonkan. Spiritualitas agama bukan menjadi pintu gerbang bagi para pemburu harta karun, apalagi untuk membangun piramida tahta. Jika memegang amanah agama ini seperti memegang bara, janganlah memilih salju duniawi melalui jubah agama. Karena anda akan sulit membedakan, mana nafsu menghadap Allah Swt, dan mana cinta kepada Allah Swt.

Sumber: http://sufinews.com/index.php/Artikel/bahaya-industri-agama.sufi

Posted in Religi | Tagged: , , | Leave a Comment »

Terkabulnya Sebuah Do’a

Posted by almakmun on 08/09/2011

 Setiap orang, apapun agama dan kepercayaannya, bagaimanapun kondisinya dan dimanapun dia berada TENTU dan PASTI tidak terlepas dari yang namanya do’a. Do’a, ya, sebuah permohonan, permintaan serta tanda ketidakberdayaan atau ketidakmampuan seorang manusia yang mengisyaratkan akan kebutuhannya terhadap Tuhan untuk merealisasikan keinginan dan atau kebutuhannya. Tidak hanya sebagai permintaan atau permohonan, doa juga menjadi sebuah ungkapan syukur seorang manusia kepada Tuhannya.

Kemudian tak jarang di antara kita yang merasa telah berdo’a namun merasa do’anya belum terkabul juga dan bahkan sampai ada yang “marah dan jengkel” kepada Tuhan. Kalau sudah demikian, apa yang menyebabkan do’a dikabulkan atau tidak? Mari kita tengok Firman Allah berikut ini:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Qs. Al-Baqarah: 186)

Ayat diatas dengan jelas menjelaskan tentang terkabulnya sebuah do’a. Mari kita pahami kata demi kata berikut ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah.

عِبَادِي kata Ibaad merupakan jama’ dari kata abdun. Ini berbeda dengan kata abiid yang juga merupakan kata jama’ dari kata abdun. Ibaad biasa digunakan di dalam al-Qur’an yang berarti hamba-hamba Allah yang taat kepada-Nya atau kalaupun mereka penuh dengan dosa namun mereka merasa sadar akan dosanya serta tetap mengharap pengampunan dan rahmad-Nya. Ini berbeda dengan kata abiid. Adapun kata abiid merujuk pada hamba-hamba Allah yang bergelimang dosa. Pemilihan kata tersebut mengandung isyarat, bahwa yang bertanya dan bermohon atau berdo’a adalah hamba-hamba-Nya yang taat lagi menyadari kesalahannya.

إِذَا دَعَانِ  menunjukkan bahwa bisa jadi ada seseorang yang bedo’a tetapi dia belum dinilai berdo’a oleh Allah. Yang dinilai-Nya berdo’a antara lain adalah yang tulus menghadapkan harapannya kepada Allah bukan kepada selain-Nya. Bukan juga menghadapkan diri kepada-Nya bersama dengan yang lain.

Kata tunggal (Ku) hanya untuk Allah. Seperti dalam surat Shad tentang penciptaan Adam : ” Allah berfirman: Hai Iblis, Apakah yang menghalangimu sujud kepada yang telah kuciptakan dengan kedua tangan-KU?. Sedangkan kata jama’ adalah untuk yang ada keterlibatan selain Allah seperti penciptaan manusia melalui perantara bapak-ibu (lihat dalam surat at-Tin: 4)

فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي mengisyaratkan bahwa yang utama dan pertama dituntut dari setiap yang berdoa adalah memenuhi segala perintah-Nya. Ini juga diperingatkan oleh Nabi ketika ada seseorang yang menengadahkan tangan ke langit sambil berseru “Tuhanku… Tuhanku (perkenankan doaku), tetapi makanan yang dimakannya haram, pakaian yang dipakai haram, maka baimana mungkin dikabulkan doanya?!”

Selain itu, Ibrahim bin Adham ra. Dalam kitab karya Said bin Ali bin Wahf al-Qathani ditanya tentang Kenapa Doaku tidak dikabulkan?. Beliau menjawab. ”Karena hati kalian telah mati. Apa yang mematikan?. Ada 8 hal diantaranya, kalian mengetahui hak-hak Allah namun kalian tidak memenuhi hak-hak-Nya. Kalian membaca al-Qur’an tetapi kalian tidak mengamalkan isinya. Kalian mengaku cinta Rasul tetapi kalian tidak melaksanakan sunnahnya. Kalian mengatakan takut mati tetapi kalian tidak mempersiapkan diri dengan bekal untuk menyongsong kematian. Maka bagaimana mungkin Allah mengabulkan doa kalian!!!”

Terkadang sebuah do’a dianalogikan seperti hubungan seorang orang tua dan anak. Seorang anak harus memenuhi dan menuruti permintaan sang orang tua, baru kemudian permintaan sang anak akan dikabulkan. Bukan atas permintaan yang diminta oleh hamba, melainkan sesuai dengan yang dibutuhkan dan yang lebih baik bagi hamba tersebut. Bukankah ayah yang baik tidak memberikan segala sesuatu yang merugikan dan membahayakan anaknya walaupun anaknya terus mendesak!!!

وَلْيُؤْمِنُوا بِي percaya dan meyakini sepenuhnya bahwa Dia-lah yang mengabulkan do’a dan camkan sabda Nabi: “Berdo’alah kepada Allah disertai dengan keyakinan penuh bahwa Allah akan memperkenankan”

لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ yakni dapat mengetahui jalan yang terbaik serta bertindak tepat, baik menyangkut soal dunia atau akhirat.

Dr. Carrel seorang ahli bedah Perancis (1873 -1941) peraih Nobel bidang kedokteran dalam bukunya “Pray (doa)” sebagaimana ditulis Quraish Shihab dalam kitab tafsirnya “Al-Misbah” dituliskan bahwa Dr. Carrel menulis tentang pengalamannya mengobati pasien. Katanya, “Banyak diantara mereka yang memperoleh kesembuhan dengan jalan berdoa”, menurutnya “Doa adalah seseuatu gejala keagamaan yang paling agung bagi manusia, karena pada saat itu, jiwa manusia terbang menuju Tuhannya.”

Dengan demikian, sebelum menyalahkan dan atau marah-marah kepada Allah karena merasa do’anya tidak juga dikabulkan, hendaknya dan harusnya kita semua merasa dan menyadari serta interospeksi diri apakah kita ini sudah menjalankan apa yang diperintahkan oleh-Nya?! Apakah kita sudah menghindari apa yang dilarang-Nya?! Apakah kita sudah menyadari akan kesalahan kita?! Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Untuk itu, mulai saat ini dan detik ini juga, marilah kita tingkatkan ibadah kita, bermohon kepada Allah untuk senantiasa memberikan ridho dan rahmad-Nya kepada kita agar kita bisa menjalankan apa yang sudah diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang sudah dilarang-Nya dan semoga kita tidak menjadi Abiid (hamba yang tidak menyadari akan kesalahan dan dosa-dosanya).

Satu kalimat terakhir, “JANGAN PERNAH MENYALAHKAN TUHAN KARENA DO’A BELUM DIKABULKAN, TAPI INTEROSPEKSI DIRI dan JANGAN PERNAH BERHENTI BERDO’A”

Posted in Religi | 2 Comments »