Samudera Pengetahuan Islami

Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia

Archive for the ‘Edukasi’ Category

Jangan Lupakan Pendidikan Moral

Posted by almakmun on 14/06/2009

ayatullah humainiMenjelang tahun ajaran baru, memilih sekolah menjadi kesibukan tersendiri bagi warga kota. Mereka menimbang-nimbang sekolah mana yang pas untuk tempat belajar anaknya. Apakah itu sekolah negeri atau swasta.
Sebagian warga memilih menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan yang memiliki kurikulum ganda. Selain mengajarkan ilmu pengetahuan umum, juga mangajarkan tentang moral, etika, dan agama. Tentu, tujuannya agar anak-anak mereka mendapatkan pendidikan agama dengan baik, disamping ilmu lainnya.
Kecenderungan itu menurut Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Dr Haris Supratno MPd disebabkan karena orangtua merasa tidak sempat mendidik putra-putrinya secara penuh. Lantaran aktivitasnya yang padat. ”Ya seperti saya sendiri. Namun, bukan berarti pendidikan keluarga dilupakan, tetap kita masih luangkan waktu.
Sekolah-sekolah elit, memang mempunyai kurikulum dan sarana-prasarana belajar yang memadai dibandingkan sekolah negeri. Jadi, wajar jika mereka menarik biaya yang tinggi. Entah namanya sumbangan uang gedung atau yang lainnya. Biaya yang tinggi bukan menjadi soal bagi golongan menengah atas. Asalkan anaknya betul-betul dapat terpenuhi pendidikannya antara moral dan intelektual.
Namun, harapan seperti ini belum tentu semua bisa berhasil. ”Sebab, di sekolah satu sisi didikannya baik, tapi di lingkungan keluarga suasananya kacau, pergaulan teman dan lingkungan tidak baik, ya tidak bisa berhasil,” ungkap Haris.
Ia menambahkan, pemerintah sudah mencanangkan pada tahun 2025, diharapkan terbentuk generasi insan kamil. Yakni generasi yang menguasai empat kompetensi. Pertama, kompetensi religi, bermakna harus menguasai ilmu agama sesuai keyakinan masing-masing. Tak hanya menguasai secara teori, tapi harus diimplementasikan dalam semua aspek kehidupan.
Kedua, kompetensi emosional dan sosial. Artinya anak didik harus dilatih, dibina, dan dibimbing agar dapat mengendalikan emosi. Peserta didik diharapkan menjadi generasi yang bisa menahan emosi, sabar dan ikhlas, sehingga dalam komunikasi dengan semua pihak akan harmonis.
Ketiga, kompetensi professional. Artinya peserta didik mempunyai keterampilan dan kepandaian sesuai dengan bidangnya masing-masing. Keempat, kompetensi kinestetik, artinya peserta didik sehat jasmani dan jiwa yang halus, karena proses pendidikan adalah suatu proses memanusiakan manusia.
Keempat kompetensi itu akan menghasilkan pendidikan kognitif, afektif dan psikomotorik. Namun sayangnya, baru sekolah elit yang menerapkan kompetensi ini.
Lantas, mungkinkah sekolah lainnya menerapkan hal tersebut? ”Rasanya belum mungkin. Karena sekolah-sekolah umum akan lebih mengutamakan ilmu umum, ya ilmu agama ada tapi hanya sedikit,” tuturnya.
Sebenarnya, sekolah umum tidak boleh melupakan dua hal, agama atau moral dan ilmu pengetahuan umum. Para guru, termasuk sekolah agama, harus tetap ingat bahwa dia adalah seorang pendidik. Dia harus mengajarkan kedua-duanya, seperti sikap dan perilaku. Tutur bahasa yang diperankan guru harus mencerminkan nilai-nilai yang luhur. Jadi, guru bukan hanya sebagai transformasi ilmu semata. Tapi juga harus memberi contoh yang baik. Etika moral dan religi disampaikan meskipun bukan berupa materi.
Baik secara langsung atau tidak langsung, dunia pendidikan sebenarnya juga bersaing. Bersaing untuk meningkatkan kualitas, bersaing untuk menyiapkan sarana dan prasarana sesuai kemampuan lembaga masing-masing. Bersaing menjadi nomor satu, sehingga memengaruhi jumlah siswa yang masuk ke sekolahnya.

Advertisements

Posted in Edukasi | Tagged: | Leave a Comment »

Sejarah Singkat Kota Jombang

Posted by almakmun on 25/05/2009

th1910-1930Jombang termasuk Kabupaten yang masih muda usia, setelah memisahkan diri dari gabungannya dengan Kabupaten Mojokerto yang berada di bawah pemerintahan Bupati Raden Adipati Ario Kromodjojo, yang ditandai dengan tampilnya pejabat yang pertama mulai tahun 1910 sampai dengan tahun 1930 yaitu : Raden Adipati Ario Soerjo Adiningrat. Menurut sejarah lama, konon dalam cerita rakyat mengatakan bahwa salah satu desa yaitu desa Tunggorono, merupakan gapura keraton Majapahit bagian Barat, sedang letak gapura sebelah selatan di desa Ngrimbi, dimana sampai sekarang masih berdiri candinya. Cerita rakyat ini dikuatkan dengan banyaknya nama-nama desa dengan awalan “Mojo” (Mojoagung, Mojotrisno, Mojolegi, Mojowangi, Mojowarno, Mojojejer, Mojodanu dan masih banyak lagi). Salah Satu Peninggalan Sejarah di Kabupaten JombangCandi Ngrimbi, Pulosari Bareng Bahkan di dalam lambang daerah Jombang sendiri dilukiskan sebuah gerbang, yang dimaksudkan sebagai gerbang Mojopahit dimana Jombang termasuk wewenangnya Suatu catatan yang pernah diungkapkan dalam majalah Intisari bulan Mei 1975 halaman 72, dituliskan laporan Bupati Mojokerto Raden Adipati Ario Kromodjojo kepada residen Jombang tanggal 25 Januari 1898 tentang keadaan Trowulan (salah satu onderdistrict afdeeling Jombang) pada tahun 1880. Sehingga kegiatan pemerintahan di Jombang sebenarnya bukan dimulai sejak berdirinya (tersendiri) Kabupaten jombang kira-kira 1910, melainkan sebelum tahun 1880 dimana Trowulan pada saat itu sudah menjadi onderdistrict afdeeling Jombang, walaupun saat itu masih terjalin menjadi satu Kabupaten dengan Mojokerto. Fakta yang lebih menguatkan bahwa sistem pemerintahan Kabupaten Jombang telah terkelola dengan baik adalah saat itu telah ditempatkan seorang Asisten Resident dari Pemerintahan Belanda yang kemungkinan wilayah Kabupaten Mojokerto dan Jombang Lebih-lebih bila ditinjau dari berdirinya Gereja Kristen Mojowarno sekitar tahun 1893 yang bersamaan dengan berdirinya Masjid Agung di Kota Jombang, juga tempat peribadatan Tridharma bagi pemeluk Agama Kong hu Chu di kecamatan Gudo sekitar tahun 1700. Konon disebutkan dalam ceritera rakyat tentang hubungan Bupati Jombang dengan Bupati Sedayu dalam soal ilmu yang berkaitang dengan pembuatan Masjid Agung di Kota Jombang dan berbagai hal lain, semuanya merupakan petunjuk yang mendasari eksistensi awal-awal suatu tata pemerintahan di Kabupaten Jombang

Posted in Edukasi | Tagged: , , | Leave a Comment »

Tanpa Tes, Bayar Rp 42,55 Juta

Posted by almakmun on 21/03/2009

Sekolah Swasta Bersaing Cari Siswa

Meski tahun ajaran baru 2009/2010 masih lama, namun atmosfir pendaftaran siswa baru sudah mulai terasa. Orangtua mulai sibuk menyurvei sekolah yang memiliki nilai lebih. Tak ayal, mereka rela berkeliling Kota Pahlawan agar bisa mendapatan sekolah yang tepat untuk anaknya.

Lembaga pendidikan pun juga mulai sibuk membuka pendaftaran siswa baru (PSB). Mereka berlomba-lomba menarik simpati para calon siswa dan orang tuanya dengan menawarkan berbagai fasilitas dan kelengkapan sarana prasarana.

Bahkan ada beberapa sekolah yang sudah membuka pendaftaran mulai Januari lalu dan juga ada yang menerima pendaftaran sepanjang tahun. Namun, ada fenomena yang menarik, meskipun pendaftaran belum dibuka, tak sedikit orangtua yang sudah inden.

Tentunya sudah bisa ditebak, persaingan antarsekolah favorit untuk menggaet calon siswa baru, tak bisa terelakkan lagi. Mereka bisa diibaratkan ’bertempur’ dalam medan yang diberi nama pasar bebas. Brosur-brosur bertebaran di mana-mana. Di tambah spanduk yang dipasang di beberapa tempat. Ada juga yang menggelar ekspo di mal-mal untuk mengenalkan sekolahnya.

Kepala Sekolah SD Al Falah Surabaya Jidi menilai itu bukanlah persaingan. ”Kami menganggap tidak ada saingan. Sebab dunia pendidikan itu bukan kompetisi antarsekolah, melainkan koopetitif. Artinnya kita bekerjasama dengan sekolah-sekolah lain. Ibarat bank, yang satu dengan yang lain kan bersaing, tapi mereka juga mengadakan kerjasama seperti adanya ATM bersama,” terang Jidi yang ditemui, Selasa (10/2) lalu.

Pernyataan berbeda disampaikan Sholihin Fanani, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya. Menurutnya persaingan itu memang ada, tapi lembaga yang dipimpinya tidak pernah merasa takut. ”Kami tidak takut dengan persaingan terhadap sekolah lain. Justru yang kami takutkan adalah bersaing dengan perubahan sosial itu sendiri,” katanya, Senin (9/2).

Lalu berapa biaya masuknya ? Masing-masing sekolah swasta favorit mematok biaya yang berbeda. Seperti SD Al-Falah Surabaya, uang pangkalnya Rp 8.5 juta, SPP 550.000 per bulan dan DPPS sebesar Rp 750.000/tahun.

Sedangkan SD Muhammadiyah 4 Pucang biaya masuk mulai dari Rp 6 juta sampai di atas Rp 6,5 juta. Untuk SPP bisa memilih berdasarkan kemampuan mulai dari Rp 300.000, Rp 325.000 atau lebih dari Rp 325.000. Ditambah lagi uang kegiatan Rp 600.000/tahun dan iuran komite sekolah minimal Rp 10.000.

SD Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya, mematok dana sumbangan gedung Rp 8 juta, uang kegiatan Rp 1,75 juta/tahun dan SPP Rp 560.000/bulan. Untuk SD Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya, formulir pendaftaran Rp 180.000, uang masuk Rp 7 juta (Jan-Maret), Rp 8 juta (April-Mei), Rp 9 juta (Juni-Juli), dan uang kegiatan Rp 900.000.

Sementara bagi orangtua yang menginginkan anaknya sekolah di SD Ciputra, harus menyiapkan dana sebesar Rp 42,55 juta untuk DPP dan SPP Rp 2,795 juta/bulan. Biaya besar itu karena sekolah Ciputra terotorisasi oleh International Baccalaureate (IB) untuk pendidikan usia 3 tahun sampai kelas 12. ”Jadi, kalau orang mendengar kata IB artinya bukan lagi standar dunia, akan tetapi standarnya dari kualitas pendidikannya, kualitas pengajarnya dan fasilitas yang bisa mendukung pembelajarannya,” tutur Ratih Saraswati, Pre & Elementary Principal Sekolah Ciputra saat ditemui, Kamis (12/2) lalu.

Besarnya biaya ini ternyata tidak mempengaruhi minat calon siswa untuk masuk ke sekolah-sekolah tersebut. Buktinya banyaknya yang sudah inden. ”Saat ini sudah ada 300 siswa yang inden, padahal kuota yang kami sediakan hanya 240 siswa”, Tutur Fanani.

Di SD Al Falah Surabaya, jumlah siswa yang inden mencapai 75 persen. Sedangkan kuotanya 102 siswa.

Begitu juga SD Alam Insan Mulia, jumlah calon siswa yang mendaftar sudah 80 persen. Nita, panitia PSB SD Alam Insan Mulia mengatakan, kuota yang ada di tempat kami hanya 48, dan yang sudah mendaftar 43 calon siswa,” ungkapnya, Rabu (18/2).

Tanpa Seleksi

Sekolah Ciputra memilih cara lain dalam penerimaan siswa baru, yakni tidak melalui seleksi. ”Kami tidak pernah menyeleksi siswa berdasarkan akademik. Karena program IB memberikan kesempatan siswa berkembang sesuai kapasitasnya. Ketika di kelas akan terjadi diferensiasi bagaimana siswa diberikan pengajaran dengan metode yang berbeda, konten berbeda, dan dengan penilaian berbeda,” tambah Ratih.

Ia yakin, bahwa sekolah yang bagus adalah sekolah yang bisa menerima siswa dari beragam kemampuan tetapi menghasilkan siswa yang luar biasa. Jadi kalau dibilang sukses, lanjut Ratih, bukan berarti semua mendapatkan nilai 10. Melainkan jika seorang anak masuk dengan skor empat, ketika keluar skornya menjadi delapan.

Menurut Ratif, itu pencapaian kemajuan yang luar biasa. ”Kalau masuknya sudah luar biasa, keluarnya luar biasa, ya biasa saja, tidak spesial,” ucap Ratih.

Perguruan Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya memberlakukan standar yang sama. Menurut Nadjib, mereka tidak pernah membatasi anak yang akan masuk, asal tidak mempunyai kelainan atau normal-normal saja. ”Yang penting begini, ketika dia masuk katakanlah nilainya enam, maka harapan kami ketika keluar nilai mereka delapan. Secara spesifik tidak ada tes rinci, hanya saja nanti ada pemetaan untuk mengetahui sejauh mana intelektual mereka,” terangnya.

Posted in Edukasi | Tagged: , , , , , , | Leave a Comment »